Siasat Ngabuburit agar Tetap Irit

Ada banyak cara agar bisa menikmati waktu menanti berbuka puasa. Salah satunya dengan ngabuburit yang murah, tetapi tidak murahan.

18 Mar 2025 15:00 WIB · Nusantara

Oleh Emanuel Edi Saputra, Kristi Dwi Utami, Nikolaus Harbowo, Stephanus Aranditio

Sebagian masyarakat memilih menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa atau ngabuburit di lokasi-lokasi ”murah”, tetapi dengan pemandangan ”mahal”. Bagi mereka, tidak selamanya kebahagiaan harus mengeluarkan uang banyak.

Ratusan orang duduk bersila sambil bercengkerama di Alun-alun Masjid Agung Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025) petang. Mayoritas dari mereka duduk berkelompok. Ada yang bersama teman-temannya. Ada pula yang bersama keluarganya.

Di sekitar tempat orang-orang tersebut duduk, terdapat berbagai jenis makanan dan minuman. Hidangan yang mayoritas mereka beli dari pelaku pedagang kecil di sekitar alun-alun itu akan disantap setelah azan Maghrib berkumandang.

Menjelang pukul 18.00, mata orang-orang terpaku pada sekelompok pria yang berjalan ke salah satu sudut alun-alun sambil menabuh rebana dan bedug. Beberapa di antara mereka kemudian berjalan ke arah kembang api yang sudah terpasang di sejumlah titik, lalu menyalakannya dengan korek api.

Sejumlah keluarga di kota semarang, melakukan aktivitas ngabuburit di alun alun semarang sambil menunggu waktu berbuka. Minggu (16/3/2025)

Dor-dor-dor satu demi satu kembang api tersebut meletus di udara. Orang-orang di alun-alun yang berjarak sekitar 3,4 kilometer dari Balai Kota Semarang itu pun langsung mengarahkan ponsel mereka ke langit, mencoba mengabadikan warna-warni kembang api.

Tak berselang lama setelah pesta kembang api selesai, azan berkumandang dari Masjid Agung Kauman yang berada di depan alun-alun. Orang-orang langsung berdoa lantas menyeruput minuman yang telah mereka siapkan.

Di antara ratusan orang tersebut ada Risma (17), warga Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Pelajar SMA itu datang ke Alun-alun Masjid Agung Kota Semarang bersama tiga temannya, Minggu petang.

Hari itu merupakan yang ketiga kalinya bagi Risma dan tiga orang tersebut menunggu waktu berbuka puasa bersama di Alun-alun Masjid Agung Kota Semarang.

”Kami senang ngabuburit dan buka bersama di sini karena seru, ada pesta kembang apinya. Terus di sini tempatnya juga bersih, luas. Jajanannya juga lengkap, ada makanan ringan, makanan berat, minuman, dan juga buah. Harga-harganya juga cukup terjangkau,” kata Risma.

Risma menyebut, dirinya membeli satu boks nasi ayam geprek dan satu gelas es teh manis jumbo untuk hidangan berbuka puasa. Ia mengeluarkan uang Rp 28.000 untuk membeli makanan dan minuman tersebut.

Kebahagiaan juga meliputi para pedagang di Pasar Ramadhan yang ada di sekitar alun-alun. Taufik (30), pedagang zuppa soup asal Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, menyebut penjualannya selama Ramadhan meningkat. Dalam sehari, Taufik mampu menjual 50-60 porsi zuppa soup. Bahkan, di akhir pekan, bisa terjual hingga 100 porsi.

Sejumlah pengurus masjid agung kauman semarang, menyalakan kembang api sebagai waktu penanda berbuka. kegiatan ini rutin dilakukan selama bulan puasa di alun alun kota semarang. Minggu (16/3/2025)

”Sebelum berjualan di sini, saya jualan di rumah. Dalam sehari, paling banyak laku 50 porsi. Jadi lebih menguntungkan di sini,” ucap Taufik saat ditemui di lapaknya.

Taufik berharap, ke depan, Pasar Ramadhan terus diadakan sehingga ia dan para pelaku UMKM di Kota Semarang bisa kembali berjualan dan mendapatkan lebih banyak rezeki untuk menyambut Lebaran.

Tepian Suramadu

Lokasi lainnya yang menjadi salah satu pilihan tempat menanti waktu berbuka puasa adalah sekitar tepian Jembatan Suramadu, Jawa Timur. Seperti pada Kamis (13/3/2025) sore, tampak deretan lapak para penjual jajanan berbuka memadati area tersebut.

Para pedagang menjual aneka jajanan, seperti tahu petis, cilok, dan telur gulung, dengan harga terjangkau berkisar Rp 5.000-Rp 10.000 per porsi. Para penjual juga menyiapkan tempat khusus bagi pengunjung, beralaskan tikar hingga permadani yang dilengkapi dengan kursi dan meja.

Selain harga jajanan yang terjangkau, pengunjung juga mendapat bonus pemandangan di Selat Madura. Selat Madura juga kian memesona tatkala senja tiba. Jembatan Suramadu yang membentang 5,4 kilometer di atas Selat Madura juga menjadi pemandangan khas. Lagi pula waktu berbuka masih sekitar satu jam lagi.

Jembatan suramadu jawa timur menjadi salah satu destinasi warga surabaya dan sekitarnya untuk ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka. Kamis (13/3/2025)

Sri Arfianti (25) bersama suaminya, Rusliadi (32), beberapa di antaranya yang menanti waktu berbuka di tepian Jembatan Suramadu, sore itu. Saat ditemui, mereka belum memesan menu berbuka karena masih asyik menyaksikan pemandangan di sekitar Jembatan Suramadu.

Pasangan itu berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, dan baru tiga hari di Surabaya. Sri di Surabaya karena menemani suaminya yang sedang mengikuti ujian pelayaran. Sore itu mereka memutuskan berbuka di sekitar Suramadu.

Awalnya, mereka mencoba mencari referensi lokasi yang menarik untuk menjadi tempat menanti waktu berbuka. Akhirnya, mereka menemukan referensi yang menarik, yaitu Jembatan Suramadi, dari media sosial.

”Jembatan Suramadu salah satu ikon di sini. Kami penasaran sehingga memutuskan pergi ke sini. Sambil menunggu waktu berbuka, kami juga bisa menyaksikan pemandangan di Selat Madura dan megahnya Jembatan Suramadu,” kata Sri.

Terlebih, untuk menikmati pemandangan dan jajanan di situ tidak memerlukan biaya besar. Menurut Sri, jika berbuka di pusat perbelanjaan terlalu ramai. Sri dan sang suami memang menyukai tempat-tempat yang terkait dengan alam sebagai tempat berbuka.

”Tapi mendekati Lebaran mungkin kami akan mencoba berbuka di salah satu taman di Surabaya,” ujar Rusliadi menimpali sang istri.

Selain Sri dan Rusliadi, di situ juga terdapat ratusan pengunjung yang sedang menanti waktu berbuka.

Salah satunya adalah Latifah (19), mahasiswa Universitas Trunojoyo, Madura. Dia bersama teman-teman kampusnya menikmati Jembatan Suramadu menjelang matahari terbenam.

Mereka berdiri di bibir pantai. Salah satu di antara mereka langsung mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen-momen kebersamaan teman-temannya.

”Kami sepulang kuliah langsung janjian kumpul di sini sambil menanti buka puasa bersama. Kami tahu, jajanan di sini murah-murah he-he-he,” ujarnya.

Lain Latifah, lain pula Ratih (35), warga Kenjeran, Surabaya. Ia bersama suami dan anaknya yang berusia 5 tahun sejak awal memang sudah mengagendakan ngabuburit di tepian Suramadu. Kebetulan, di sekitaran itu juga terdapat sejumlah wahana permainan untuk anak-anak, seperti odong-odong.

”Modal murah, tetapi kita bisa dapat wisata mewah,” ungkapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Emanuel Edi Saputra, Kristi Dwi Utami, Nikolaus Harbowo, Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Caecilia Mediana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari