Lebaran Betawi 2025 di Jakarta tidak hanya menjadi perayaan bagi masyarakat Betawi, tetapi juga penghormatan terhadap tradisi.
26 Apr 2025 17:09 WIB · Metro
Lebaran Betawi 2025 kembali meriah digelar di Jakarta. Kehadirannya membawa semangat kebersamaan dalam melestarikan budaya lokal di tengah keberagaman masyarakat Jakarta.
Kawasan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat, Sabtu (26/4/2025), penuh sesak. Lebaran Betawi 2025 menjadi magnetnya.
Di sana, mereka yang datang disuguhi berbagai hal tentang Betawi. Mulai dari hantaran Lebaran Betawi hingga pameran sejarah Jakarta. Ada juga berbagai pertunjukan seni, seperti lenong, gambang kromong, tanjidor, dan silat.
Di sisi selatan dan tenggara Monas, misalnya, tenda-tenda putih berdiri tegak. Di bawahnya, pedagang kerak telor, soto Betawi, semur jengkol, dan bir pletok berebut konsumen. Mereka menawarkan ribuan porsi makanan yang siap disantap.
Di panggung utama, pertunjukan tarian Betawi dan band Betawi silih berganti beraksi. Tepuk tangan penonton menggemuruh setiap grup menuntaskan keahliannya.
Salah satu yang ikut hanyut dalam sukacita itu adalah Abdurrahman (60), warga Jakarta Utara. Dia berdiri di depan panggung utama. Abdurrahman menyaksikan kelompok penari Betawi yang tengah membawakan tari tradisional dengan penuh semangat.
”Anak-anak muda sekarang memang hebat. Tapi dulu, saya juga bisa menari seperti itu,” katanya mengenang masa muda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/ea58976aa4bea194e3b7ec44d915e1b6-WhatsApp_Image_2025_04_26_at_15.48.33.jpeg)
Mengaku sebagai warga asli Betawi, Abdurrahman menyebut sudah melewati banyak perubahan Jakarta. Dalam setiap perjalanannya, Abdurrahman menyebut tidak pernah berhenti berharap tradisi Lebaran Betawi akan terus hidup.
”Sudah sekian kali saya ikut merayakan Lebaran Betawi. Alhamdulillah, masih ada sampai sekarang,” ujar Abdurrahman.
Rasa syukur itu ditunjukkan dengan hadir sejak pagi di Monas. Meski tubuhnya tidak sekuat dulu, semangatnya selalu memberi Abdurrahman tenaga ekstra. Ada banyak kerinduan yang ingin ia tuntaskan dalam Lebaran Betawi kali ini.
Abdurrahman, misalnya, selalu antusias melihat acara hantaran. Saat itu, orang-orang saling memberikan makanan khas Betawi kepada sesama. Momen ini menjadi simbol silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga Jakarta.
”Semoga anak-anak muda bisa terus menjaga budaya ini,” ujarnya dengan harapan besar.
Meski sadar zaman terus berubah, Abdurrahman berharap Lebaran Betawi akan terus menjadi ajang untuk menjaga akar budaya Betawi dan Jakarta. Seiring bertambahnya usia, Abdurrahman semakin menyadari betapa berharganya tradisi ini. Tak hanya bagi warga Betawi, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Jakarta.
Sebagai generasi muda Betawi, warga Jakarta Pusat, Dinda Aurelani (23), juga tidak bisa menutupi rasa kagumnya. Dia takjub saat melihat begitu banyak orang yang mengenakan pakaian adat Betawi. Tua muda tampil dengan bangga.
Dinda juga terpesona dengan deretan stan kuliner Betawi. Aroma soto Betawi, kerak telor, dan semur jengkol memenuhi udara, membuatnya bingung memilih mana yang harus dicicipi terlebih dahulu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/f1cbb0d8b35bfe68da97cab45eb40aa1-WhatsApp_Image_2025_04_26_at_15.49.05.jpeg)
Selain kuliner, Dinda juga menyempatkan diri berkeliling dan mengunjungi stan pameran sejarah Jakarta. Di sana, terpampang foto-foto lama yang menceritakan perkembangan kota. Ada juga perjuangan masyarakat Betawi bertahan dan berkembang di tengah pesatnya kemajuan zaman.
Dinda tidak terlalu lama di sana. Pertunjukan silat Betawi yang baru saja dimulai menarik perhatiannya. Gerakan lincah dan kekompakan pesilatnya bikin Dinda kagum.
”Saya merasa sangat bangga melihat budaya Betawi tetap hidup dan terus dilestarikan melalui acara ini,” katanya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang hadir dalam acara itu, mengatakan, budaya Betawi memiliki peran penting sebagai fondasi identitas Kota Jakarta.
Oleh karena itu, ia menyambut ajang ini dengan antusias. Tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga momen bersejarah yang menghiasi perjalanan Jakarta menuju usia ke-500.
Lebih dari itu, acara ini juga berfungsi sebagai wadah untuk mempererat kebersamaan dan meningkatkan toleransi di tengah keragaman masyarakat Jakarta.
Menurut Pramono, tema ”Menyongsong Lima Abad Jakarta dengan Semangat Mempererat Kearifan Lokal Masyarakat Betawi” menjadi pengingat. Tradisi serta nilai-nilai budaya Betawi harus dijaga. Misi itu lebih kurang sama sejak Lebaran Betawi digelar pertama kali di tahun 2008.
”Saya berharap kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi warga Jakarta, khususnya masyarakat Betawi, untuk mempererat kebersamaan di tengah keberagaman suku dan etnis,” tambahnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/63cf57dcf9671ef03a4f6d228dd91bd0-WhatsApp_Image_2025_04_26_at_15.48.59.jpeg)
Perayaan Lebaran Betawi kali ini turut melibatkan pelaku UMKM, seniman lokal, hingga generasi muda yang aktif menyebarkan semangat kebudayaan melalui media sosial.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya bersama dalam membentuk karakter kota yang berdaya saing, sambil tetap berakar pada jati diri dan kearifan lokal.
”Melalui Lebaran Betawi, masyarakat Jakarta diajak untuk berefleksi dan semakin mengenal tradisi Betawi, melalui beragam kuliner, produk, ataupun pentas seni budaya,” kata Pramono.
Dalam konteks penguatan identitas budaya, Pramono menjelaskan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, Jakarta sebagai daerah khusus memiliki identitas, kultur, dan budaya yang tidak terpisahkan dari budaya Betawi.
”Penguatan terhadap warisan budaya Betawi harus terus diupayakan, mulai dari pelestarian kesenian, tradisi, kuliner, hingga pengenalan sosok-sosok pahlawan Betawi yang berjasa bagi masyarakat Jakarta, seperti Mohammad Husni Thamrin,” ujarnya.
Pada momen Lebaran Betawi tahun ini, Pramono, bersama Rano karno, berkomitmen untuk menghormati perjuangan Mohammad Husni Thamrin dengan menempatkan patung beliau di Jalan MH Thamrin sebagai simbol Kota Jakarta. Penempatan ulang patung itu menjadi bagian dari program quick wins 100 hari kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno.
”Patung MH Thamrin harus berada di lokasi yang sentral dan strategis di Jakarta, setara dengan penempatan Patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman,” kata Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/14915d1404f46b7226941e302dc1c299-WhatsApp_Image_2025_04_26_at_15.48.34.jpeg)
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga berkomitmen mendukung penuh pelibatan koleksi Museum Sejarah Jakarta serta pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, dengan tujuan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.
Pramono juga mengungkapkan rencananya untuk menciptakan Benyamin Sueb Award. Penghargaan ini akan diberikan kepada wilayah yang berhasil menjaga lingkungannya dengan baik. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh Betawi, Benyamin Sueb.
Selain itu, Pramono juga memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam mendukung penyelenggaraan acara Lebaran Betawi.
”Saya melihat acara Lebaran Betawi terlaksana dengan baik dan meriah. Saya memberikan apresiasi dan selamat. Saya juga berharap acara seperti ini tidak hanya dilakukan di tingkat provinsi, tetapi juga dapat diadakan di enam wilayah Jakarta,” ujarnya.
Dengan adanya sinergi ini, Pramono berharap budaya Betawi semakin dikenal dan dilestarikan sebagai warisan asli Jakarta serta semakin mempererat kebersamaan di tengah keberagaman.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Retma Wati