post-18374

Prestasi atlet muda angkat besi Indonesia, Luluk Diana Tri Wijayana dan Alyamaulida Kartika Pertiwi, di Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025, menerbitkan harapan.

08 Mei 2025 08:24 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Setelah para lifter putri olimpian tidak lagi menghuni pemusatan latihan nasional dan bahkan memutuskan pensiun, pertanyaan terkait regenerasi mengemuka. Apakah akan kembali ada lifter putri yang berprestasi dan menjaga tradisi Indonesia di Olimpiade? Harapan lantas terbit ketika para lifter muda mampu menebar pesona di ajang dunia.

Lifter putri Indonesia, Luluk Diana Tri Wijayana, menerbitkan asa itu setelah meraih medali emas di Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 di Lima, Peru. Tampil di kelas 49 kilogram Grup A yunior putri, Jumat (2/5/2025) malam, Luluk menjadi lifter dengan angkatan snatch terbaik pada kategori berat tersebut. Dia berhasil mengangkat beban 81 kilogram.

Luluk unggul satu kilogram dari lifter Spanyol, Lucia Gonzalez Borrega, dan dua kilogram dari atlet China, Qihui Yan. Luluk mengangkat beban 81 kilogram itu pada percobaan kedua. Sebelumnya, pada kesempatan pertama, lifter berusia 19 tahun ini mengangkat beban 78 kilogram.

Angkatan itu bisa disamai Borrego pada kesempatan keduanya. Luluk pun menaikkan angkatannya menjadi 81 kilogram dan selanjutnya 84 kilogram. Namun, pada kesempatan ketiga, Luluk gagal mengangkat beban tersebut sehingga angkatan terbaiknya adalah 81 kilogram. Meski demikian, angka 81 kilogram tidak bisa disamai atau dilampaui lifter lain.

Sementara itu, pada jenis angkatan clean and jerk, Luluk tidak berhasil meraih medali setelah gagal mengangkat beban 100 kilogram pada tiga kesempatan. Alhasil, tertutup pula kesempatan lifter asal Pacitan, Jawa Timur, ini meraih medali pada total angkatan yang harus terdiri dari angkatan snatch dan clean and jerk.

Lifter putri yunior Indonesia, Luluk Diana Tri Wijayana, meraih medali emas di Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 di Lima, Peru. Tampil di kelas 49 kilogram Grup A yunior putri, Jumat (2/5/2025) malam, Luluk menjadi lifter dengan angkatan snatch terbaik pada kategori berat tersebut. Dia berhasil mengangkat beban 81 kilogram.

Sebelum keberangkatan Luluk ke Peru, Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) Hadi Wihardja sempat berbicara soal lifter muda tersebut. Menurut Hadi, Luluk menjadi salah satu atlet yang berpeluang meraih prestasi.

Menurut Hadi, lifter yang berlatih di daerah itu mampu menunjukkan konsistensi dalam penampilannya. Dia juga cenderung memperlihatkan peningkatan kemampuan dari tahun ke tahun. ”Dia merupakan salah satu lifter potensial,” ucapnya.

Luluk membuktikan hal itu di Peru dengan menjadi satu-satunya atlet dari total lima atlet yunior Indonesia yang berlaga di sana. Empat atlet lainnya tidak berhasil meraih medali, bahkan menempati peringkat di luar 10 besar dalam tiga jenis angkatan.

Selain Luluk, hanya Sarah yang mampu menembus lima besar peringkat. Sarah menempati posisi kelima pada angkatan snatch 90 kilogram saat turun di kelas 59 kilogram putri.

Luluk dan Sarah, yang sama-sama berusia 19 tahun, setidaknya masih memiliki satu tahun lagi untuk bersaing di level yunior. Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) membagi kelompok umur menjadi empat kategori, yakni remaja (13-17 tahun), yunior (15-20 tahun), senior (di atas 20 tahun), dan masters (di atas 35 tahun).

Lifter muda Indonesia, Alyamaulida Kartika Pertiwi (kanan), meraih tiga medali perunggu pada perlombaan kelas 81 kg Kejuaraan Dunia Angkat Besi Remaja dan Yunior 2025 di Lima, Peru, Senin (5/52025) pagi. Alya mencatatkan angkatan snatch 96 kg, clean and jerk 120 kg, dan total angkatan 216 kg.

Pada level remaja, Indonesia juga membawa pulang prestasi dari Peru. Lifter anyar di pemusatan latihan nasional, Alyamaulida Kartika Pertiwi, meraih tiga medali perunggu saat tampil pada kelas 81 kg. Tiga medali perunggu itu masing-masing untuk angkatan snatch, clean and jerk, dan total angkatan.

Berlomba pada Senin (5/5/2025) pagi, Alya mencatatkan angkatan snatch 96 kg, clean and jerk 120 kg, dan total angkatan 216 kg. Alya menjadi satu-satunya atlet Indonesia pada level remaja yang membawa pulang medali. Lima lifter remaja Indonesia lainnya tidak berhasil naik podium.

Alhasil, prestasi yang diraih kontingen ”Merah Putih” hanya dua medali dari Luluk dan Alya. Meski minim, prestasi dari Luluk dan Alya pun menerbitkan harapan regenerasi pada sektor putri.

Luluk sebenarnya bukan nama baru di dunia angkat besi Indonesia. Namanya mulai menjadi sorotan di level nasional saat meraih tiga emas dari angkatan snatch, clean and jerk, dan total angkatan kelas 45 kg pada Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VI 2019.

Lifter putri muda Jawa Timur Luluk Diana Tri Wijayana (tengah) saat merayakan menjadi juara dunia remaja kelas 49 kilogram (kg) dalam Kejuaraan Dunia Remaja Angkat Besi IWF 2022 di Leon, Guanajuato, Meksiko, Selasa (14/6) dini hari WIB. Atlet kelahiran Pacitan, 9 Agustus 2005 itu memastikan gelar tersebut usai meraih emas snatch dengan 75 kg, clean and jerk dengan 95 kg, dan total angkatan dengan 170 kg. (DOKUMENTASI PB PABSI) *** Local Caption *** Lifter putri muda Jawa Timur Luluk Diana Tri Wijayana (tengah) saat merayakan menjadi juara dunia remaja kelas 49 kilogram (kg) dalam Kejuaraan Dunia Remaja Angkat Besi IWF 2022 di Leon, Guanajuato, Meksiko, Selasa (14/6) dini hari WIB. Atlet kelahiran Pacitan, 9 Agustus 2005 itu memastikan gelar tersebut usai meraih emas snatch dengan 75 kg, clean and jerk dengan 95 kg, dan total angkatan dengan 170 kg. (DOKUMENTASI PB PABSI)

Selanjutnya, Luluk menempati peringkat keenam kelas 49 kg pada Piala Dunia Angkat Besi Remaja 2020. Dia pun pernah dipanggil ke pelatnas di Jakarta selama dua pekan untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Remaja Daring 2020.

Namanya mulai berkibar ketika merebut emas 49 kg putri Kejuaraan Dunia Remaja 2022 di Leon, Guanajuato, Meksiko. Waktu itu, dia mencatat snatch 75 kg, clean and jerk 95 kg, dan total angkatan 170 kg.

Jika dilihat dari pencapaian Luluk di Peru, grafiknya masih di bawah Windy Cantika Aisah, lifter yang pernah meraih dua kali gelar juara dunia yunior di Tahskent, Uzbekistan, 2021 dan Heraklion, Yunani, 2022.

Windy juga masih memegang rekor nasional dan dunia pada kelas 49 kg putri kategori remaja. Rekor Windy adalah snatch 86 kg, clean and jerk 104 kg, dan total angkatan 190 kg.

Namun, saat Windy tak ikut SEA Games Kamboja 2023 untuk kualifikasi Olimpiade Paris 2024, Luluk mampu menggantikan posisinya dengan baik. Kendati bukan medali emas, Luluk berhasil menorehkan prestasi dengan raihan perunggu pada kelas 49 kg.

Luluk Diana, lifter debutan di SEA Games Kamboja 2023 gagal mengangkat besi-besinya sehingga ia hanya mampu meraih medali perunggu, di National Olympic Stadium, Kamboja, Sabtu (13/5/2023). Luluk merupakan lifter asal Jawa Timur.

Adapun Alya merupakan wajah baru yang mulai menyita perhatian sejak PON Aceh-Sumut 2024. Debut di PON pada kelas 81 kg putri untuk membela Banten, Alya meraih medali emas, memecahkan rekor nasional dan PON.

”Hasilnya cukup memuaskan, tetapi masih banyak target lain yang saya ingin capai, salah satunya prestasi di SEA Games,” ucap lifter berusia 17 tahun tersebut selepas meraih prestasi di PON.

Wajah baru potensial

Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 yang digelar 30 April-5 Mei adalah ajang internasional pertama Alya yang baru masuk pelatnas pada awal tahun ini. Menurut Sekretaris Jenderal PB PABSI Djoko Pramono, sebagian besar atlet remaja yang dikirim ke Peru belum pernah berlaga pada ajang internasional.

Namun, PABSI memilih untuk tetap mengirim mereka langsung ke ajang dunia agar mendapatkan pengalaman berlomba guna persiapan Asian Youth Games 2025 dan Olympic Youth Games 2026. Menurut Djoko, atlet-atlet remaja dan yunior menunjukkan bahwa regenerasi angkat besi Indonesia terus berlanjut.

Lifter Indonesia kelas 49 kilogram Windy Cantika Aisah meraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 setelah bersaing ketat dengan lifter Amerika Serikat Jourdan Elizabeth Delacruz di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Sabtu (24/7/2021). Cantika unggul dengan total angkatan 194 kilogram (snatch 84 kg, clean and jerk 110 kg). Medali emas diraih lifter China Hou Zhihui dengan angkatan total 210 kg (94 kg, 116 kg), dan perunggu diraih lifter India Chanu Saikhom Mirabai dengan total angkatan 202 kg (87 kg, 116 kg). Ini merupakan medali pertama Indonesia di Olimpiade Tokyo.

Saat ditanya soal perkembangan lifter putri, terutama setelah beberapa atlet tidak di pelatnas lagi, Djoko menjawab, ”Tidak perlu khawatir, banyak wajah-wajah baru yang potensial.”

Salah satu yang potensial itu, kata Djoko, adalah Alya. Dengan usia masih muda, Alya diproyeksikan melanjutkan kiprah Nurul Akmal pada kelas berat. Nurul, satu-satunya lifter Indonesia yang bisa berkompetisi pada kelas berat di Olimpiade, tidak lagi menghuni pelatnas.

Djoko mengatakan, Nurul memang telah menorehkan sejarah dengan menjadi lifter pertama Indonesia yang bisa tampil di kelas berat Olimpiade. Atlet yang biasa dipanggil Amel itu bahkan dua kali tampil di panggung dunia tersebut, yakni Tokyo 2020 dan Paris 2024.

Tak hanya itu, Amel juga menjaga tradisi lifter putri yang tidak pernah absen mewakili Indonesia sejak nomor putri dilombakan pertama pada Olimpiade Sydney 2000. Namun, menurut Djoko, Amel bisa saja lolos kembali ke Olimpiade, tetapi akan kesulitan untuk berprestasi mengingat performa yang menurun dan usia yang tidak lagi muda, 32 tahun.

Nurul Akmal of Indonesia competes during the women's +81kg weightlifting event at the 2024 Summer Olympics, Sunday, Aug. 11, 2024, in Paris, France. (AP Photo/Dita Alangkara,Pool)

Sementara itu, stagnasi prestasi menjadi alasan yang diutarakan Djoko ketika ditanya soal keluarnya Windy dari pelatnas. Windy, yang tidak lagi di pelatnas sejak April 2024 atau selepas perburuan tiket ke Paris berakhir, juga disebut tidak bisa fokus berlatih karena banyak gangguan dari luar.

Pada November tahun lalu, Windy mengumumkan untuk pensiun dini. Padahal, Windy sebenarnya adalah atlet fenomenal. Pada usia 19 tahun, dia meraih medali perunggu kelas 49 kg putri di Olimpiade Tokyo 2020.

Prestasi tersebut melengkapi serangkaian pencapaiannya, termasuk memecahkan lima rekor dunia remaja dalam sembilan bulan dan meraih gelar juara dunia yunior. Namun, selepas Tokyo, lifter asal Bandung, Jawa Barat, ini memang belum menemukan kembali performa terbaiknya.

Windy dihantui cedera yang datang silih berganti. Selepas SEA Games Vietnam 2021 yang digelar 2022, Windy mengalami cedera pinggang. Cedera itu menambah rasa sakit yang sebelumnya telah bersarang di tubuh Windy, tepatnya di bagian tulang kering kaki.

Lifter asal Jawa Barat, Windy Cantika Aisah, berlomba di kelas 55 kilogram putri PON Aceh-Sumut 2024 di GOR Seuramoe, Banda Aceh, Kamis (5/9/2024).

Adapun Hadi Wihardja mengatakan, atlet-atlet yang sudah tidak lagi di pelatnas sebenarnya bukan tidak mungkin akan kembali, termasuk Windy. Apabila masih bisa bersaing dan menunjukkan kemampuannya, bisa saja Windy masuk ke pelatnas lagi.

Di sisi lain, dengan adanya wajah-wajah baru, persaingan antarlifter dengan kategori berat yang sama di pelatnas juga kian sengit. Persaingan ini diharapkan bisa menambah motivasi para atlet untuk berlomba-lomba menunjukkan kemampuan terbaik, termasuk lifter putri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey