Sewajarnya pengusaha, Trump sibuk melawat ke tiga negara Teluk demi mencari peluang usaha dan keuntungan, bukan menyelesaikan konflik.
18 Mei 2025 11:58 WIB · Internasional
Sebagai presiden yang proteksionis dan berjanji senantiasa mengutamakan kepentingan Amerika Serikat, Donald Trump malah sibuk berkiprah di panggung dunia. Selama satu pekan terakhir saja, Trump sibuk bertransaksi bisnis dengan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Ia mencabut sanksi terhadap Suriah, menegosiasikan pembebasan warga negara AS yang ditahan Hamas, mengakhiri serangan militer terhadap Houthi di Yaman, dan memangkas tarif terhadap China.
Trump juga memerintahkan Ukraina untuk berbicara dengan Rusia di Turki, melanjutkan perundingan diam-diam dengan Iran mengenai kesepakatan nuklir, bahkan mengklaim mengupayakan perundingan gencatan senjata antara India dan Pakistan.
Semua bergerak dengan cepat dan lompat-lompat dari satu masalah ke masalah lain. Sekutu ataupun lawan sama-sama dibuat kelimpungan. Dari kesibukannya itu, sebenarnya sudah bisa dilihat visi Trump yang mendasarkan perdagangan dalam hubungan antarnegara. Selayaknya pengusaha, ia lebih menginginkan mencari peluang usaha dan keuntungan.
Ketika pidato di Arab Saudi, Trump fokus pada perdagangan, bukan kekacauan di Timur Tengah. BBC News, Sabtu (17/5/2025), menyebutkan, prospek Trump adalah merkantilisme yang mudah dan pragmatis di mana negara-negara bertransaksi bisnis untuk keuntungan bersama. Jika untung bersama, perdamaian akan datang. Begitu keyakinan dia.
Selama berada di negara-negara Teluk, Trump sama sekali tak bicara tentang kerja sama multilateral melawan ancaman perubahan iklim, misalnya. Tidak ada juga pembicaraan mengenai tantangan terhadap hak asasi manusia atau demokrasi.
Bagi Trump, dan ini ditekankan terus selama lawatannya, AS tidak semestinya ikut campur dalam urusan negara lain, apalagi menghakimi dan menghukum. Keengganan untuk campur tangan itu terlihat ketika menyangkut konflik India-Pakistan. Dulu, AS sering ikut terlibat mengakhiri konflik keduanya.
Namun, Wakil Presiden AS JD Vance sudah menyatakan konflik itu bukan urusan AS dan AS tidak bisa mengendalikan keduanya. Meski begitu, pada akhirnya Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menelepon India dan Pakistan dan meminta mereka meredakan ketegangan. Ketika gencatan senjata disetujui, Trump buru-buru mengklaim itu berkat diplomasi AS. India membantah dan menyatakan itu hasil kesepakatan bilateral.
Pergerakan Trump yang cepat juga karena Trump yang selalu one man show atau jadi penentu dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri AS. Contohnya, keputusan bertemu dengan pemimpin baru Suriah yang pernah dianggap teroris oleh AS, Ahmed al-Sharaa, dan mencabut sanksi terhadap Suriah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/14/742fadac29049dd8a740a8d5ef79a934-TOPSHOT_SAUDI_US_SYRIA_DIPLOMACY_POLITICS_129726544.jpg)
Langkah itu dinilai sebagai imbalan atas kesepakatan investasi yang diperoleh Trump di Arab Saudi. Keputusan itu tak hanya mengagetkan banyak orang di Timur Tengah, tetapi juga di dalam pemerintahan AS.
Para diplomat di AS mengatakan, pola pengambilan keputusan impulsif tanpa diskusi internal pemerintah ini umum terjadi di Gedung Putih. Hasilnya pun tak selalu positif, bahkan cenderung berisiko. Ini sebagian disebabkan oleh kurangnya konsistensi Trump alias dia sering berubah pikiran.
Seperti isu tarif AS terhadap China. Semula tarif AS untuk China 145 persen, lalu China membalas dan pasar anjlok. Dunia usaha AS menderita. Trump mengubah pikirannya dengan memangkas tarif China menjadi 30 persen.
Ini jadi pola diplomasi AS yang baru: mengeluarkan tuntutan semaksimal mungkin, mengancam, bernegosiasi, turun, lalu menyatakan kemenangan. Bagi para pengamat, strategi bertransaksi Trump ini mungkin berhasil pada keputusan yang mudah dibatalkan seperti tarif. Namun, akan lebih sulit untuk diterapkan pada upaya diplomasi jangka panjang seperti penyelesaian perang.
Kebijakan Trump pada konflik Rusia dan Ukraina, misalnya, sering berubah-ubah dan membuat para diplomat AS bingung. BBC menyebutkan, para diplomat AS pun mulai curiga Trump sebenarnya tidak tahu apa yang akan dilakukan terkait perang di Ukraina. Trump mungkin hanya mencari cara untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/11/08e78ed3-5690-4d84-8b0c-42b3527a0b75_jpg.jpg)
Ada dua keputusan lain yang juga membingungkan. Pertama, Trump menyetujui gencatan senjata di Yaman karena mempertanyakan efektivitas serangan udara yang berbiaya mahal, padahal semula Trump ingin ada operasi militer yang panjang. Namun, ketika di Arab Saudi, Trump mengaku tidak suka perang. Ia lebih suka berbisnis.
Kedua, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengadakan putaran keempat perundingan dengan Iran mengenai upaya untuk mengekang ambisi nuklirnya. Kedua pihak mengisyaratkan kesepakatan itu mungkin bisa terwujud. Pembicaraan mengenai operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran tampaknya mereda.
Dari dua keputusan itu terlihat AS bertindak langsung menentang keinginan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beberapa hari terakhir tampak tak digubris. Trump keliling Timur Tengah tanpa mengunjungi Israel. Ia mencabut sanksi terhadap Suriah juga tanpa dukungan Israel. Gencatan senjata Houthi terjadi hanya beberapa hari setelah Houthi menyerang bandara di Tel Aviv, Israel.
Lalu, apa hasil jalan-jalan Trump di Timur Tengah? Apakah akan membuat perubahan? Belum tentu. Pertempuran dan krisis kemanusiaan di Gaza masih berlanjut tanpa penyelesaian. Serangan Israel malah menjadi-jadi. Ambisi Trump pada normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi juga masih jauh dari kenyataan.
Konflik Rusia-Ukraina pun akan berlanjut karena ambisi Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berubah. Di balik semua kesepakatan untuk memangkas tarif AS, baik dengan Inggris maupun China, masih saja ada ketidakstabilan pasar global.
Satu-satunya pelajaran yang bisa diambil adalah akhirnya ada gambaran yang lebih jelas tentang ideologi global Trump. Ia bukan isolasionis, melainkan merkantilis yang punya harapan optimistis bahwa kapitalisme dapat mengatasi konflik. Sikap tergesa-gesa Trump yang ingin cepat menyelesaikan masalah di Timur Tengah, Ukraina, dan lain-lain barangkali karena agar ia bisa lebih fokus menghadapi musuh terbesarnya, China.
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji