Dulu Israel memburu Nazi karena kejahatan perang. Kini, Israel diburu karena kejahatan perang di Gaza.
06 Jan 2025 09:24 WIB · Internasional
JERUSALEM, SENIN — Seperti prajurit dan perwira Nazi selepas Perang Dunia II, kini tentara Israel juga jadi buruan aparat di sejumlah negara. Tudingan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan kepada Palestina jadi dasar pencarian.
Dalam pernyataan pada Minggu (5/1/2024) malam, Kementerian Luar Negeri Israel membenarkan membantu seorang tentara Israel lari dari Brasil. Kemenlu Israel tidak mengungkap identitas prajurit itu.
Kantor berita Turki, Anadolu Agency, melaporkan bahwa prajurit itu bernama Yuval Vagdani. Dia sedang liburan di Brasil. Vagdani disebut keluar dengan selamat dari Brasil. Tidak disebutkan bagaimana cara Israel mengeluarkan tentara itu.
Israel mengeluarkan dia setelah ada kabar aparat Brasil memulai penyelidikan terhadap tentara itu. Prajurit itu disebut terlibat kejahatan perang di Gaza. Buktinya adalah aneka unggahan di akun media sosial tentara itu.
Ini kasus kedua tentara Israel terpaksa kabur dari suatu negara gara-gara diburu sebagai penjahat perang. Sebelumnya, ada prajurit Israel lari di Sri Lanka karena permasalahan serupa.
Laporan terhadap prajurit itu dimasukkan oleh Hind Rajab Foundation (HRF), lembaga pendukung Palestina yang berkantor pusat di Belgia. HRF memanfaatkan berbagai unggahan di akun media sosial pribadi para tentara Israel untuk mengumpulkan bukti kejahatan perang Israel.
HRF mengambil nama Hind Rajab (5), bocah Palestina yang ditembak Israel di Gaza. Sebelum dia, keluarganya lebih dulu ditembak mati Israel.
Penembakan bocah perempuan itu menambah kecaman terhadap media-media Barat. Bukannya menggunakan istilah ditembak mati, sejumlah media Amerika Serikat dan Inggris menyebut tubuh Rajab dilewati peluru yang diduga milik militer Israel, Tzahal.
Beberapa waktu terakhir, HRF memeriksa unggahan tentara Israel di akun media sosial pribadi mereka. Selama Israel menyerbu Gaza, banyak tentara Israel mengunggah ulah mereka di Gaza.
Berdasarkan unggahan itu, HRF telah mengajukan laporan antara lain ke Brasil, Sri Lanka, Thailand, dan Chile. HRF segera memasukkan laporan begitu ada informasi tentara Israel masuk suatu negara.
Kasus Vagdani contohnya. Ia disebut terlibat perusakan massal rumah warga sipil di Gaza. Perintah hakim untuk menangkap dia dikeluarkan pada 30 Desember 2024. Pengacara HRF di Brasil, Maira Pinheiro, menyebut Brasil sebagai penanda tangan Statuta Roma berkewajiban semua kejahatan yang dilarang di statuta itu bisa dihukum.
Israel jelas berusaha menyelundupkan terduga penjahat perang Yuval Vagdani dari Brasil.
Organisasi para orangtua tentara Israel, Moms Up, menyurati Perdana Menteri Israel soal fenomena perburuan itu. ”Cuma Anda yang bertanggung jawab menghilangkan risiko hukum yang dihadapi anak-anak kami,” tulis mereka.
Mereka menyatakan, Tzahal dipaksa beroperasi tanpa perlindungan dan pertimbangan hukum memadai. Tzahal harus bergerak untuk memuaskan nafsu kelompok ekstrem kanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/14/4ee215c9-ae07-436d-a792-b99338dd0f65_jpg.jpg)
Perburuan terhadap tentara Israel yang terlibat penyerbuan Gaza mirip perburuan terhadap para tokoh Nazi selepas PD II. Komunitas internasional membuat Pengadilan Nuremberg untuk menuntut para tokoh Nazi. Di berbagai negara, ada perburuan terhadap tokoh Nazi yang bersembunyi.
Sebagian tokoh itu diculik intel Israel, lalu dibawa ke Israel untuk diproses. Banyak cerita penculikan itu difilmkan beberapa tahun setelah kejadian.
HRF mengecam pelarian Vagdani dari Brasil. Pengadilan Brasil telah mengeluarkan perintah penyelidikan. Seharusnya, Vagdani tidak mudah keluarga begitu saja dari Brasil. Apalagi, menurut Kemenlu Israel, Vagdani keluar dari Brasil dengan pesawat komersial.
”Ada bukti terverifikasi bahwa Israel jelas berusaha menyelundupkan terduga penjahat perang Yuval Vagdani dari Brasil. Gara-gara perintah pengadilan Brasil kepada polisi untuk menyelidiki dia,” demikian pernyataan HRF.
HRF juga menyebut, bukti-bukti kejahatan Vagdani telah dihancurkan. ”Ini bukan cuma skandal, melainkan juga tantangan pada kedaulatan dan supremasi hukum Brasil. Israel telah menerapkan taktik yang sama sebelumnya,” lanjut HRF.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/20/7dccce70-f56a-4eaa-b11a-890fa616f0c6_jpg.jpg)
Sejumlah lembaga Israel, termasuk Mossad, memang telah meminta tentaranya berhenti mengunggah ulah mereka di Gaza. Kalau sudah diunggah, sebaiknya dihapus segera. Israel takut unggahan itu jadi bukti di pengadilan, seperti kasus Vagdani di Brasil.
Selama setahun terakhir, tentara Israel rutin mengunggah ulah mereka di Gaza. Banyak sekali tentara Israel terekam video merusak rumah warga sipil di Gaza. Bahkan, ada rekaman gerombolan tentara Israel sengaja merusak toko mainan di Jabaliya, Gaza.
Ada juga video tentara Israel membakar bahan makanan dan membuang cadangan air minum di Gaza. Di video-video itu, tentara Israel berulah dengan gembira. Mereka bernyanyi dan menari sembari merusak berbagai hal di Gaza.
Dalam akun media sosial politikus Israel, Yinon Magal, ada video sejumlah tentara Israel berjoget dan menari di Gaza. Mereka berulang kali mengatakan ”Gaza, kami datang untuk menaklukkan, tidak ada yang tidak terlibat".
Mereka (warga Israel) tidak punya kemampuan mental untuk berempati atau menerapkan aturan moral.
Video itu beredar di sejumlah pelantar media sosial. Dari akun Magal saja, video itu ditonton 200.000 kali.
Magal beralasan, video itu untuk menunjukkan kekuatan tentara Israel. ”Saya tidak perlu membela diri dari apa pun," kata Magal saat ditanyai soal video itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/52de181be7c4b40332e54b159bdef05c-000_36MR3D7.jpg)
Beredar pula banyak foto ulah tentara Israel. Ada yang sengaja menulis di dinding ”Mari hancurkan Gaza”. Ada juga unggahan yang membandingkan kondisi suatu daerah sebelum dan setelah diserang Israel. Dalam unggahan itu diberi keterangan ”inilah yang kami lakukan”.
Lembaga pembela HAM Israel, B’Tselem, menyebut ulah itu menunjukkan ketiadaan penghargaan terhadap harkat manusia. ”Ini mengakar di tentara,” kata juru bicara B’Tselem, Dror Sadot.
Juru Bicara Tzahal Laksamana Muda Daniel Hagiri berkilah, tindakan-tindakan itu bukan kebijakan Tzahal. Pelakunya, walau banyak sekali, disebut sebagai oknum.
Dosen psikologi pada Hebrew University Israel, Eran Halperin, kini nyaris tidak ada kecaman warga Israel terhadap video-video itu. ”Mereka (warga Israel) tidak punya kemampuan mental untuk berempati atau menerapkan aturan moral kepada pihak yang dianggap musuh,” katanya kepada Associated Press. (AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .