Jakarta dan Banjir yang Terus Berulang

Warga berharap segera ada solusi dari Pemerintah Provinsi Jakarta agar banjir tak lagi menjadi langganan yang terus menggenang.

30 Jan 2025 20:03 WIB · Metro

Oleh Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy

Selain intensitas hujan yang tinggi, kondisi sungai yang belum dilakukan penurapan atau normalisasi sungai membuat permukiman warga di sejumlah wilayah Jakarta kebanjiran. Warga pun berharap segera ada solusi dari Pemerintah Provinsi Jakarta agar banjir tak lagi menjadi langganan.

Hingga Kamis (30/1/2025) sore, banjir masih meredam Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur, dengan tinggi genangan 120 sentimeter akibat hujan deras dan luapan Kali Ciliwung.

Warga Kebon Pala, Sumiatri (43), menuturkan, Kali Ciliwung di Kebon Pala perlu segera diturap. Apalagi, permukiman warga tepat berada di bibir kali.

Sumiarti mengatakan, kali yang tidak diturap dapat menyebabkan banjir. Hal ini karena air yang tidak tertahan akan naik permukaan dan membanjiri sungai, aliran air, dan saluran air lainnya.

Ia meminta kelanjutan Pemerintah Jakarta untuk melakukan penurapan. Sebab, program pemerintah membangun sodetan Ciliwung belum berdampak terhadap permukiman warga Kebon Pala sehingga masih sering terkena imbas banjir.

Sumiarti juga meminta penjelasan pemerintah yang mengaku telah melakukan berbagai upaya mitigasi, mulai dari pengerukan saluran air hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Namun, faktanya, langkah-langkah tersebut belum mampu mengatasi akar permasalahan.

Di Kali Ciliwung, masih banyak saluran air yang tersumbat akibat tumpukan sampah atau sedimentasi yang tidak tertangani secara rutin. Akibatnya, saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air justru meluap ke permukiman warga.

Melihat keberhasilan Kampung Pulo, ia merasa yakin, apabila bantaran kali di Kebon Pala sudah diturap, banjir tidak akan masuk ke permukimannya lagi.

"Iya, ada rasa iri dengan wilayah Kampung Pulo, yang sudah lebih dahulu diturap," ujarnya, Kamis siang.

Warga lainnya, Hamdani (46), juga menginginkan adanya solusi untuk mengatasi banjir. Namun, ia juga tidak ingin rumahnya yang berada di bantaran Ciliwung digusur.

Saat ini, Hamdani memilih bertahan di lantai dua rumahnya. Ia telah memindahkan perabot serta kendaraan sepeda motor ke tempat lebih tinggi agar tidak terendam air.

”Harapan saya sama seperti warga lainnya, kami berharap kali Ciliwung yang tepat dibelakang permukiman ini segera dinormalisasi untuk mengurangi risiko banjir,” ujarnya.

Anak-anak di permukiman RW 04 dan RW 05, kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur bermain air di tengah kampung mereka yang terendam banjir, Kamis (30/1/2025). Banjir luapan Kali Ciliwung dengan ketinggian hingga 1 meter ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya pada hari Rabu (29/1/2025) kawasan ini juga terendam banjir selama dua hari berturut-turut. Banjir yang merendami perkampungan tersebut sehari sebelumnya sempat surut pada sore hari. Banjir kiriman dari Bogor dan Depok ini mulai meninggi kembali pada siang hari setelah Bendung Katulampa dinyatakan siaga III pada Kamis (30/1/2025) dini hari. Sejauh ini warga lebih memilih bertahan di lantai dua rumahnya masing-masing dan hanya memindahkan perabot serta kendaraan sepeda motor ke tempat lebih tinggi agar tidak terendam. Warga berharap, turap di bantaran kali Ciliwung yang berada tepat di belakang permukiman segera dinormalisasi untuk mengurangi resiko banjir. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Plt Wali Kota Jakarta Timur Iin Mutmainnah juga mengakui bahwa penyebab kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur, kerap menjadi langganan banjir karena kondisi Sungai Ciliwung yang belum dilakukan penurapan.

”Daerah ini terletak samping persis dengan kali yang memang belum dilakukan penurapan. Saat air tinggi, akan limpas ke daerah wilayah setempat yang memang rendah dan termasuk langsung di bibir kali, kan,” ujar Iin.

Ia berharap program normalisasi atau penurapan bantaran Kali Ciliwung terus dilanjutkan. Menurut dia, jika program tersebut dilanjutkan, kawasan Kebon Pala di Kampung Melayu ini tidak lagi terjadi banjir.

Selain penurapan, Iin memikirkan kemungkinan relokasi warga di bantaran sungai. Ia mengatakan sudah pernah membicarakan relokasi warga dengan suku dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman.

”Kami nanti akan komunikasikan lagi secara lebih lanjut terkait dengan kondisi pada saat ini,” ujar Iin.

Ketua Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta Yuke Yurike menegaskan bahwa hujan ekstrem memang faktor utama. Namun, dinas SDA tak bisa terus menjadikannya sebagai alasan.

Ia menekankan perlunya evaluasi total terhadap sistem pengendalian banjir Jakarta, termasuk drainase, kapasitas sungai, kesiapan pompa, dan pengelolaan air di daerah rawan genangan.

Dua anak bermain air genangan banjir di Jelambar Baru Raya, Jakarta, Rabu (29/1/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada pukul 08.00 WIB mencatat sedikitnya 51 RT dan 21 ruas jalan di Jakarta tergenang banjir. Tercatat terdapat 28 RT di Jakarta Barat, 1 RT di Jakarta Pusat, 22 RT di Jakarta Timur. Ketinggian air mulai dari 20 sentimeter sampai 100 sentimeter. Beberapa wilayah mulai tergenang banjir pada Rabu dini hari. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak Selasa (28/1/2025) sore menjadi penyebab terjadinya banjir di sejumlah titik di Jakarta. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 29-01-2025

”Kami menyoroti bahwa pencegahan harus lebih diutamakan daripada hanya bertindak saat banjir terjadi,” kata Yuke.

Ia menjelaskan koordinasi dengan pemerintah pusat harus diperkuat, khususnya dalam pengelolaan aliran air dari hulu, waduk, dan pintu air.

”Secara teknis, kami akan meminta dinas SDA memastikan peningkatan sistem drainase di daerah rawan genangan juga sangat diperlukan,” ujarnya.

Yuke menegaskan, pihaknya akan mendorong Pemprov DKI lebih tegas menertibkan bangunan liar yang menghalangi aliran air dan mempercepat pembangunan tanggul pesisir untuk antisipasi banjir rob.

Upaya

Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jakarta mengklaim ada peningkatan dalam penanganan banjir di Jakarta dibandingkan tahun 2020. Pj Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengklaim, banjir dengan ketinggian 20 cm yang menggenangi kawasan Monas bisa surut dalam 45 menit pada Selasa (28/1/2025) malam menunjukkan efektivitas sistem drainase dan infrastruktur penanganan banjir telah diperbarui.

Warga menggendong keluarganya saat melintasi banjir di Jalan Satria IV, Jakarta, Rabu (29/1/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada pukul 08.00 WIB mencatat sedikitnya 51 RT dan 21 ruas jalan di Jakarta tergenang banjir. Tercatat terdapat 28 RT di Jakarta Barat, 1 RT di Jakarta Pusat, 22 RT di Jakarta Timur. Ketinggian air mulai dari 20 sentimeter sampai 100 sentimeter. Beberapa wilayah mulai tergenang banjir pada Rabu dini hari. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak Selasa (28/1/2025) sore menjadi penyebab terjadinya banjir di sejumlah titik di Jakarta. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 29-01-2025

Adapun Teguh menuturkan, banjir yang menggenangi sejumlah wilayah Jakarta disebabkan curah hujan dengan intensitas tinggi dari siang hingga malam.

”Kami sudah beberapa hari ini antisipasi. Namun, kami juga mengacu pada prakiraan cuaca yang ada. Bahwasanya, kemarin itu prakiraannya adalah hujan sedang hingga lebat,” ujar Teguh.

Di sisi lain, Teguh mengakui saat ini infrastruktur utama pengendalian banjir di Jakarta hanya mampu menangani curah hujan dengan intensitas 150 mm/hari. Sementara sistem drainase atau saluran air di Jakarta hanya mampu menampung air akibat hujan dengan durasi di bawah lima jam.

Banjir di Jakarta pada Selasa (28/1/2025) malam akibat curah hujan ekstrem mencapai 368 mm dan angka terendahnya mencapai 264 mm. Angka tersebut dikatakan Teguh termasuk tinggi, seperti pada tahun 2020 saat Jakarta mengalami banjir tinggi.

”Bahkan, hampir sama pada kejadian 2020. Berdasarkan data yang diperoleh, curah hujan pada tahun 2020 yang tertinggi 377 mm, kemudian yang terendah 256 mm,” kata Teguh.

Teguh mengatakan telah menginstruksikan jajaran Pemprov Jakarta untuk mengupayakan penyedotan rendaman air. Selain itu, memastikan tali-tali air berfungsi baik.

Maria (kiri) dan Sunarti berdoa di makam keluarganya yang terendam air hujan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (24/1/2025). TPU tersebut menjadi langganan banjir saat curah hujan tinggi sejak tahun 2018. Ketinggian air yang merendam pemakaman mulai 20 sentimeter hingga 60 sentimeter. Area makam yang langganan terendam tersebut berada di dataran yang lebih rendah dari aliran sungai di sekitarnya. Lokasi TPU Semper diapit oleh dua aliran sungai, yakni Kali Begok dan Cakung Drain. Alih fungsi lahan disekitarnya mempercepat penurunan muka tanah. Pengelola mengatasi banjir dengan menyedot air menggunakan pompa dan membersihkan saluran air dari sampah.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
24-1-2025

Kemudian, dalam mengantisipasi dampak banjir di sepanjang Sungai Ciliwung, pihaknya akan melakukan pengerukan dan pelebaran sungai atau normalisasi guna meningkatkan kapasitas tampung air serta mengembalikan fungsi alami sungai.

”Upaya normalisasi sungai dan kali masih terus dilakukan salah satunya di wilayah Kelurahan Pengadegan dan Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan,” tuturnya.

Tahun ini, pihaknya juga merencanakan untuk melanjutkan normalisasi Kali Ciliwung dengan anggaran sebesar Rp 90 miliar. Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembebasan lahan yang belum tuntas di segmen Rawajati dan Cililitan.

Selain upaya fisik, seperti normalisasi sungai, menurut dia, Pemprov DKI Jakarta juga aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar Sungai Ciliwung. Pihaknya melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar untuk mencegah penyumbatan aliran air yang dapat menyebabkan banjir.

Masyarakat juga diajak untuk tidak membuang sampah ke sungai dan berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong membersihkan bantaran sungai.

Selanjutnya, untuk penanganan jangka pendek, Pemerintah Provinsi Jakarta juga akan melakukan modifikasi cuaca kembali untuk mencegah curah hujan tinggi yang mengakibatkan banjir.

”Kami merencanakan modifikasi cuaca dalam dua hingga tiga hari ini,” kata Teguh.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (24/1/2025). TPU tersebut menjadi langganan banjir saat curah hujan tinggi sejak tahun 2018. Ketinggian air yang merendam pemakaman mulai 20 sentimeter hingga 60 sentimeter. Area makam yang langganan terendam tersebut berada di dataran yang lebih rendah dari aliran sungai di sekitarnya. Lokasi TPU Semper diapit oleh dua aliran sungai, yakni Kali Begok dan Cakung Drain. Alih fungsi lahan disekitarnya mempercepat penurunan muka tanah. Pengelola mengatasi banjir dengan menyedot air menggunakan pompa dan membersihkan saluran air dari sampah.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
24-1-2025

Adapun hujan dengan intensitas tinggi pada Selasa (28/1/2025) malam bukan kali pertama terjadi di Jakarta. Berdasarkan data BMKG, BPBD, dan Jakarta Open Data, pada tahun 2014-2020, Jakarta pernah beberapa kali mengalami banjir hebat karena intensitas hujan sangat tinggi hingga mengakibatkan warga meninggal dunia. Hujan tersebut rata-rata terjadi pada periode Januari hingga April.

Curah hujan tertinggi pada tahun 2014 terjadi pada Januari (154 mm dengan rata-rata ketinggian 10-400 cm) yang mengakibatkan 23 warga meninggal dan 122.417 warga mengungsi. Kemudian, terjadi lagi pada Februari (284 mm dengan rata-rata ketinggian 10-300 cm) yang mengakibatkan 38.340 warga mengungsi.

Kemudian, pada tahun 2015, hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir besar, terjadi pada Januari (147,9 mm dengan rata-rata ketinggian 10 - 150 cm) yang mengakibatkan 3.255 warga mengungsi. Kemudian, pada bulan Februari (277,5 mm dengan rata-rata ketinggian 10 - 200 cm) yang mengakibatkan 41.202 warga mengungsi.

Selanjutnya, pada tahun 2016, hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir besar, terjadi pada April (124,5 mm dengan rata-rata ketinggian 5-360 cm) yang mengakibatkan 20.945 warga mengungsi.

Lalu, pada tahun 2017, hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir besar, terjadi pada Februari (179,7 mm dengan rata-rata ketinggian 10-250 cm) yang mengakibatkan 6 warga meninggal dan 5.858 warga mengungsi.

Selanjutnya, pada tahun 2018, hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir besar, terjadi pada Februari (104,6 mm dengan rata-rata ketinggian 5-300 cm) yang mengakibatkan 1 warga meninggal dan 15.558 warga mengungsi.

Kemudian, pada tahun 2019, hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir besar, terjadi pada Maret (130,3 mm dengan rata-rata ketinggian 10-100 cm) yang mengakibatkan 3.600 warga mengungsi.

Lalu, pada tahun 2020, hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir besar, terjadi pada Januari (377 mm dengan rata-rata ketinggian 10- 350 cm) yang mengakibatkan 19 warga meninggal dan 36.445 warga mengungsi. Kemudian, pada Februari (277,5 mm dengan rata-rata ketinggian 5-200 cm) yang mengakibatkan 6 warga meninggal dan 13.808 warga mengungsi.

Buruh tani merontokkan padi varietas Cilamaya Muncul di Rorotan, CIlincing, Jakarta Utara, Kamis (23/1/2025). Dalam 10 hari terakhir kawasan tersebut terendam banjir hingga menyulitkan buruh tani dalam memanen padi. Buruh tani menggunakan terpal untuk menarik hasil panen melintasi banjir sedalam 70 sentimeter. Lebih dari 80 hektar areal persawahan siap panen terendam banjir di Cilincing. Buruh panen mendapatkan upah dengan bagi hasil dengan pemilik sawah yakni 5 : 1  total berat gabah kering panen. Jadi misalnya mendapatkan 6 ton gabah kering panen, pemilik sawah mendapatkan bagian 5 ton dan buruh panen 1 ton. Harga gabah kering panen petani di kawasan tersebut Rp 6.000 per kilogram. BMKG telah memperingatkan, fenomena La Nina mengakibatkan penambahan curah hujan di Indonesia hingga 20 persen pada awal 2025. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
23-1-2025

Masih tergenang

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta melaporkan, hingga Kamis (30/1/2025) pukul 16.00 WIB, terdapat 35 RT dan satu ruas jalan yang tergenang banjir akibat hujan yang melanda wilayah Jakarta pada Selasa (28/1/2025) malam hingga Rabu (29/1/2025).

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD Mohamad Yohan mengatakan, rinciannya, ada 17 RT di Jakarta Barat yang menyebabkan ketinggian air 40 hingga 80 cm. Selanjutnya, 2 RT di Jakarta Selatan ada 2 RT akibat luapan Kali Ciliwung yang mengakibatkan banjir setinggi 70 cm.

Kemudian, ada 11 RT di Jakarta Timur akibat luapan Kali Ciliwung yang mengakibatkan genangan setinggi 30 sampai 160 cm. Lalu, di Jakarta Utara ada 1 RT, yakni Kelurahan Semper Barat akibat curah hujan tinggi. Ketinggian banjir sekitar 40 cm. Sementara itu, ruas jalan yang masih tergenang berada di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Sukapura, Jakarta Timur.

Yohan menyebut, sebelumnya, wilayah yang terendam banjir sempat berkurang. Namun, banjir kembali meluas akibat luapan Kali Ciliwung.

Hingga saat ini, masih ada 1.179 jiwa yang dilaporkan mengungsi. Mereka dari tiga kelurahan, yakni Kelurahan Cengkareng Barat dengan jumlah 48 kepala keluarga (KK) atau total 189 jiwa yang mengungsi di Masjid An Nur. Selanjutnya, Kelurahan Pegadungan dengan jumlah 75 KK atau total 300 jiwa mengungsi ke Masjid Sawatul Ummah, serta Kelurahan Tegal Alur dengan jumlah 310 KK atau total 690 jiwa mengungsi di Musala Al Madin.

Sudah saatnya Jakarta berhenti hanya mencari solusi jangka pendek untuk penanganan banjir. Dengan perencanaan yang matang dan koordinasi yang baik, Jakarta seharusnya bisa terbebas dari bayang-bayang genangan air.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al-Hamasy
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari