Upacara pemakaman seorang paus lebih membumi. Seorang paus juga bisa dimakamkan di luar Vatikan.
21 Nov 2024 10:10 WIB · Internasional
ROMA, KAMIS - Paus Fransiskus sudah menyelesaikan revisi upacara pemakaman yang akan dipergunakan saat ia meninggal. Paus Fransiskus juga menyederhanakan prosesi pemakaman bagi seorang paus untuk menekankan perannya sebagai uskup bagi semua umat dan mengizinkan pemakaman di luar Vatikan sesuai keinginannya.
Berita tentang rencana Paus Fransiskus hendak menyederhanakan upacara pemakaman bagi seorang paus sudah terdengar sejak Desember 2023. Kantor Berita Reuters pada 13 Desember 2023 melaporkan Paus Fransiskus mengungkapkan rencana itu dalam wawancara dengan televisi N+ Meksiko pada 12 Desember 2023.
Paus Fransiskus saat itu mengungkapkan bahwa ia berbicara dengan Kepala Bidang Liturgi Kepausan, Uskup Agung Diego Ravelli, untuk menyederhanakan upacara pemakaman untuk seorang Paus yang sebelumnya rumit dan panjang. Upacara tersebut sudah dipergunakan bagi para Paus pendahulu Paus Fransiskus.
Vatican News melaporkan, Vatikan mengumumkan aturan baru untuk menyederhanakan pemakaman kepausan pada Rabu (20/11/2024). Aturan baru tersebut termuat dalam buku liturgi edisi kedua Ordo Exsequiarum Romani Pontificis.
Buku liturgi tersebut disetujui Paus Fransiskus pada 29 April 2024. Paus Fransiskus sudah menerima salinan pertama dari edisi kedua tersebut pada 4 November 2024.
Buku liturgi terbaru tersebut merupakan pembaruan dari edisi sebelumnya yang disetujui Paus Yohanes Paulus II pada 1998 dan diterbitkan pada tahun 2000. Aturan dalam buku liturgi tersebut digunakan dalam pemakaman Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2005 dan dengan adaptasi dipergunakan dalam pemakaman Paus Benediktus XVI pada tahun 2023.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/02/7b94b4ef-b168-4a4b-abbf-f3cb4eece1e3_jpg.jpg)
The New York Times melaporkan, aturan baru itu mencerminkan komitmen Paus Fransiskus untuk meniadakan beberapa ritual lama Gereja dan kemegahan kepausan. Akan ada pengurangan jumlah peti mati tempat jenazah Paus dibaringkan. Dari semula tiga peti menjadi satu peti.
Dalam aturan lama, peti jenazah Paus yang terbuat dari kayu cemara akan dimasukkan ke dalam peti jenazah kedua yang terbuat dari timah. Lalu dua peti jenazah akan dimasukkan ke peti jenazah ketiga yang terbuat dari kayu ek atau kayu lainnya.
Penggunaan tiga peti mati untuk menguburkan jenazah Paus itu sudah berlangsung berabad-abad. Penggunaan tiga peti mati adalah untuk menciptakan segel kedap udara di sekeliling jenazah mendiang Paus. Peti mati juga memungkinkan benda-benda, seperti koin atau kertas yang dikeluarkan oleh Paus selama masa pemerintahannya, untuk dikuburkan bersama jenazah.
Dalam aturan baru, menurut Vatikan, Paus Fransiskus akan meninggalkan praktik tersebut. Sebagai gantinya, Paus Fransiskus akan dimakamkan dalam satu peti kayu berlapis seng.
Jenazah Paus juga tidak akan dipajang di atas panggung tinggi atau disebut “catafalque” di Basilika Santo Petrus untuk mendapat penghormatan terakhir dari para pengunjung di Roma seperti yang terjadi pada paus-paus sebelumnya. Pengunjung tetap dipersilakan untuk memberikan penghormatan terakhir dengan jenazah Fransiskus akan ditempatkan di dalam peti terbuka.
“Ritual baru tersebut lebih menekankan bahwa pemakaman Paus Roma adalah pemakaman seorang gembala dan murid Kristus, bukan orang yang berkuasa di dunia ini,” kata Uskup Agung Diego Ravelli dalam sebuah pernyataan.
Selain itu, aturan baru mengizinkan Paus dimakamkan di gereja selain Basilika Santo Petrus. Dalam wawancara tahun 2023, Paus Fransiskus sudah menyatakan keinginannya untuk dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, bukan di Basilika Santo Petrus seperti kebanyakan pendahulunya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/27/22fc7c20-6c53-4172-af6f-fa4c2aa8e6b2_jpg.jpg)
Paus Fransiskus mengunjungi Santa Maria Maggiore sehari setelah ia terpilih sebagai Paus pada 2013. Ia selalu pergi ke sana sebelum dan sesudah perjalanan apostoliknya. Selama di basilika tersebut, Paus berdoa di depan ikon Perawan Maria, Salus Populi Romani atau keselamatan rakyat Roma.
Banyak Paus dimakamkan di ruang bawah tanah di bawah Basilika Santo Petrus. Paus terakhir yang dimakamkan di luar Vatikan adalah Leo XIII. Ia meninggal pada tahun 1903 dan dimakamkan di Basilika Santo Yohanes Lateran di Roma.
Pemakaman di luar Vatikan merupakan bukti lain dari gaya khas kepausan Paus Fransiskus yang lebih membumi dan informal. Sejak awal kepausannya, Paus Fransiskus tidak mau mengenakan “mozzetta” atau jubah merah tua yang dihias bulu.
Ia tidak mengenakan kalung berbandul salib emas tetapi kalung dengan bandul salib berlapis perak pudar, kalung yang dikenakannya saat ia menjabat sebagai uskup agung Buenos Aires. Ia tidak menggunakan sepatu nelayan merah mewah yang digunakan oleh para pendahulunya. Ia tetap menggunakan sepatu hitam sederhana yang selalu ia gunakan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/06/c16aea93-6c16-46af-bb3d-2d054c2e575a_jpg.jpg)
Dia memilih memakai jam tangan Casio dan menggunakan mobil-mobil sederhana. Alih-alih tinggal di istana apostolik, Paus Fransiskus memilih tinggal di Casa Santa Marta, sebuah kediaman di sebelah basilika St. Petrus.
Ia juga memilih makan di kafetaria komunal. Paus Fransiskus sejak awal menggunakan simbol-simbol untuk melepaskan diri dari formalitas dan kemegahan yang telah lama menandai Gereja Katolik Roma.
Para ahli menyatakan, dengan aturan baru tersebut Paus Fransiskus telah mengambil langkah lebih jauh untuk mengukuhkannya dalam warisannya. “Sekarang ini lebih seperti pemakaman seorang uskup diosesan daripada seorang kaisar Romawi,” kata Massimo Faggioli, seorang profesor teologi di Universitas Villanova.
Dalam wawancaranya dengan N+ tahun lalu, Paus Fransiskus mengatakan, ”Itu adalah pengabdian saya yang besar. Tempatnya sudah disiapkan.”
Paus Fransiskus yang sebentar lagi berusia 88 tahun pada 17 Desember, telah menderita serangkaian masalah kesehatan dan operasi dalam beberapa tahun terakhir. Namun ia tampaknya dalam kondisi yang baik.
Paus Fransiskus sekarang menggunakan kursi roda karena nyeri lutut dan punggung. Namun ia sanggup melakukan perjalanan apostolik terpanjang sejak awal masa kepausannya pada September lalu. Ia juga menjadi tuan rumah untuk pertemuan puncak para pemimpin Katolik selama sebulan di Vatikan pada bulan Oktober.
Pada Rabu kemarin, Paus Fransiskus memimpin audiensi umum yang penuh semangat. Dalam audiensi tersebut anak-anak secara spontan menyerbu panggung.
Dalam wawancara dengan televisi N+ tahun lalu, Paus Fransiskus mengatakan, ia siap mengundurkan diri seperti yang dilakukan Paus Benediktus pada tahun 2013 jika kesehatannya menjadi sangat buruk. Namun ia percaya bahwa pengunduran diri Paus seharusnya tidak menjadi norma. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo H