Anggaran Kemenpora Dipangkas 55,59 Persen, Atlet dan Pelatih Harap-harap Cemas

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, yang berkaitan dengan pembinaan atlet dan pengiriman kontingen, bahkan mendapatkan pemangkasan hingga 71,03 persen.

19 Feb 2025 17:01 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

JAKARTA, KOMPAS — Atlet, pelatih, dan pengurus cabang olahraga digelayuti kecemasan akibat adanya pemangkasan anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mencapai 55,59 persen. Penghentian pelatnas, pemulangan atlet, pembatalan keikutsertaan turnamen-turnamen internasional, hingga pengurangan gaji membayangi mereka.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendapatkan pemangkasan anggaran Rp 1,29 triliun atau 55,59 persen dari pagu definitif tahun anggaran 2025 sebanyak Rp 2,3 triliun. Angka ini merupakan hasil rekonstruksi anggaran atau perubahan kebijakan efisiensi anggaran yang awalnya sudah diperintahkan Presiden Prabowo Subianto dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025. Dengan demikian, pagu anggaran Kemenpora pada APBN tahun anggaran 2025 menjadi Rp 1,03 triliun.

Dalam paparan Kemenpora saat rapat kerja dengan Komisi X, Kamis (13/2/2025), diketahui bahwa pemangkasan ini berdampak pada pengurangan anggaran satuan kerja Kemenpora, termasuk Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Satuan kerja yang membawahkan pembinaan prestasi olahraga, pengiriman kontingen, penyelenggaraan kejuaraan internasional, pembinaan olahragawan muda di sentra olahraga dan peningkatan mutu tenaga keolahragaan dengan sertifikasi nasional ini mendapatkan pemangkasan yang cukup besar.

Pada pagu definitif tahun anggaran 2025, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga mendapatkan anggaran Rp 1,63 triliun. Pascarekonstruksi, satuan kerja ini mendapatkan Rp 473,5 miliar. Artinya, terdapat pemangkasan hingga 71,03 persen untuk satuan kerja yang berkaitan langsung dengan atlet, pelatih, dan cabang olahraga tersebut.

Catatan/kesimpulan hasil rapat kerja Kemenpora dengan Komisi X DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (13/2/2025).

Maka, tak heran kecemasan menggelayuti para pelaku olahraga, terutama atlet dan pelatih. Atlet menembak nomor 25 meter rapid fire pistol, Dewa Putu Yadi Suteja, misalnya, tak memungkiri kekhawatiran itu ada. Di sisi lain, dia juga bersyukur karena Pengurus Besar Persatuan Menembak Indonesia masih terus menggelar pelatnas dan bahkan mengirim para atlet mengikuti berbagai turnamen sejak awal tahun.

Dewa, yang sedang berlaga di Asian Rifle/Pistol Cup 2025 di Bangkok, Thailand, meyakini kebijakan yang diputuskan pemerintah itu bertujuan baik. Sebagai atlet, dia berusaha mengikuti apa yang diputuskan pemerintah dan fokus pada tugasnya untuk berlatih dan bertanding.

”Kekhawatiran itu tentu ada. Misalnya terjadi gaji macet, atlet pasti akan pusing untuk beli vitamin. Saya berharap pemerintah tetap memperhatikan atlet yang berjuang demi negara kita,” kata Dewa, Rabu (19/2/2025).

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI) Regina Lefrandt Vega meyakini, kabar pemangkasan anggaran juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan judoka dan pelatih di pelatnas. Namun, pihaknya meminta atlet dan pelatih tetap fokus menjalani pelatnas sembari pengurus cabang olahraga mencari cara atau solusi agar bisa mengelola dampak efisiensi.

Judoka Indonesia Maryam March Maharani (kanan) sedang berlatih di Gedung Judo PPOP Dispora DKI, Ragunan, Jakarta, pada Rabu (3/7/2024). Rani, panggilannya, merupakan satu-satunya judoka Indonesia yang akan tampil di Olimpiade Paris 2024.

Regina mengatakan, PB PJSI belum mengetahui akan mendapatkan pemotongan anggaran seberapa besar. Pihaknya masih menunggu review dengan Kemenpora terkait hal itu. Akan tetapi, para pengurus sudah mulai berembuk untuk membicarakan antisipasinya.

”Dari Ketum kami sendiri (Maruli Simanjuntak) sudah berkomitmen untuk mempertahankan pelatnas, apalagi ini sudah berjalan sekian lama. Kami tidak mau mereka sampai dipulangkan. Maka dari itu, kami dari pengurus yang harus memutar otak untuk mengusahakan solusi agar semua tetap berjalan di tengah kondisi ini,” ucap Regina.

Rasa cemas juga dirasakan Dirdja Wihardja, pelatih tim angkat besi Indonesia. Dirdja menuturkan, angkat besi memiliki serangkaian agenda pada 2025, baik untuk yunior maupun senior. Meski ada pemangkasan anggaran, Dirdja berharap agenda-agenda itu tetap berjalan.

Dirdja masih menanti dengan keputusan dari Kemenpora yang baru melakukan review pada Selasa (11/2/2024) lalu. Dia juga menyampaikan harapannya agar Kemenpora selektif dalam memangkas anggaran sehingga tidak terjadi pemulangan atlet atau pemotongan gaji atlet dan pelatih.

Pelatih tim angkat besi Indonesia, Dirdja sedang berbincang dengan lifter putri asal Papua, Natasya di sela-sela latihan, pada Rabu (26/4/2023). Natasya bakal disiapkan untuk mengikuti Kejuaraan Asia di Jeju, Korea Selatan.

Sejauh ini, ada karate yang menjadi salah satu cabang yang memulangkan atletnya dari pemusatan latihan nasional sebagai dampak pemangkasan anggaran. Padahal, menurut pelatih tim karate Indonesia, Jintar Simanjuntak, pelatnas yang melibatkan 38 karateka ini telah digelar sejak November 2024 di Bali.

”Untuk program pelatnas, sesuai dengan kebijakan efisiensi dari Presiden, Kemenpora membubarkan pelatnas. Semua pulang. Untuk selanjutnya seperti apa, terutama untuk SEA Games Thailand 2025, kami masih menunggu kabar dari Kemenpora,” ucap Jintar.

”Kalau dari segi prestasi, sangat disayangkan (pemulangan atlet). Karena kondisi fisik semua atlet dari pelatnas cabang olahraga yang sudah mulai pelatnas dari November sudah terbangun dengan baik. Kalau dipulangkan begini, nanti akan mulai dari awal lagi. Yang akhirnya percepatan peningkatan prestasi pasti akan terlambat,” tutur peraih medali perunggu pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018 ini.

Sejumlah remaja pelari lokal tengah berlatih di Pusat Pelatihan Atletik Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/10/2024). Meskipun area latihan ini dipergunakan untuk atlet nasional, mereka diajak untuk mencoba jalur lari pada saat pembukaan di hari tersebut.

Atletik juga sempat dikabarkan memulangkan atlet-atletnya sebagai dampak dari pemangkasan anggaran. Seperti karate, atletik telah menggelar pemusatan latihan untuk melakoni berbagai kejuaraan, termasuk persiapan SEA Games Thailand 2025. Pada 9 Desember 2024, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) memanggil 15 atlet, 5 pelatih spesialis, dan 2 anggota staf pendukung.

Mereka awalnya direncanakan menjalani pelatnas selama satu tahun penuh hingga Desember 2025 di Pusat Pelatihan Atletik PB PASI Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selain itu, ada pula atlet-atlet senior yang juga berlatih di Pangalengan.

Sekretaris Umum PB PASI Tigor Tanjung mengatakan, pihaknya masih mempertahankan para atlet di pelatnas. Namun, Tigor tak menampik soal kemungkinan akan dilakukan pengurangan jumlah atlet di pelatnas sejalan dengan pemangkasan anggaran Kemenpora. Tigor pun harap-harap cemas dengan keputusan Kemenpora yang baru diketahui setelah review pada Rabu (19/2/2025) sore.

”Sementara ini, pelatnas masih lanjut, masih coba bertahan dengan kemampuan dana yang ada, sambil menunggu keputusan dari Kemenpora. Akan ketahuan nanti berapa atlet yang bisa diakomodasi. Harapannya, tentu tidak ada perubahan anggaran sehingga tidak ada pengurangan atlet, tetapi sepertinya sulit juga. Kemungkinan besar akan ada pengurangan atlet,” tutur Tigor.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, memaparkan anggaran setelah rekonstruksi saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (13/2/2025).

Sementara itu, Menpora Dito Ariotedjo membantah kabar penghentian pelatnas cabor tertentu karena efisiensi. Menurut Dito, pihaknya tengah melakukan evaluasi sejak 31 Januari terhadap pelatnas sehingga terdapat jeda latihan yang diterapkan setiap cabang olahraga.

Terkait pemangkasan anggaran, Dito mengatakan bahwa akan ada penyesuaian dalam beberapa program. Namun, Dito menegaskan bahwa hal ini tidak akan mengganggu persiapan para atlet untuk berlaga di ajang internasional.

Salah satu penyesuaian adalah pola perlakuan terhadap pelatnas. Awalnya, Kemenpora membuat rencana untuk pelantas langsung jangka panjang sampai Olimpiade 2028. Setelah adanya pemangkasan anggaran, pelatnas yang akan dilakukan dengan anggaran tahun anggaran 2025 hanya akan difokuskan pada persiapan ajang sepanjang tahun ini.

”Fokus saat ini diarahkan menuju SEA Games pada Desember 2025 sebagai event terdekat, dan sebagai persiapan menuju Asian Games 2026, Olimpiade 2028, dan Para Games dalam setiap event,” ucap Dito.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey