Pemangkasan Anggaran Ancam Prestasi Olahraga Indonesia

Pemerintah diharapkan tetap memprioritaskan pembinaan olahraga. Adapun cabang olahraga juga diminta lebih kreatif mencari solusi pendanaan lain.

20 Feb 2025 16:24 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah, Yulia Sapthiani

Pemangkasan anggaran yang juga menyasar Kementerian Pemuda dan Olahraga dikhawatirkan mengancam program-program peningkatan prestasi olahraga. Dalam situasi ini, pemerintah diharapkan tetap memprioritaskan pembinaan olahraga agar atlet tetap bisa menjalani pelatihan demi persiapan meraih prestasi. Di sisi lain, pemerintah meminta cabang olahraga lebih kreatif mencari solusi pendanaan lain.

Dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR, Kamis (13/2/2025), Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo mengungkapkan bahwa pagu anggaran Kemenpora pada APBN tahun anggaran 2025 menjadi Rp 1,03 triliun. Artinya, terdapat pemangkasan anggaran Rp 1,29 triliun atau 55,59 persen dari pagu definitif tahun anggaran 2025 sebanyak Rp 2,3 triliun.

Pemangkasan ini akan berdampak pada beragam program olahraga nasional. Ini termasuk persiapan menuju SEA Games Thailand 2025 dan pemusatan latihan nasional jangka panjang untuk Asian Games Jepang 2026 serta Olimpiade Los Angeles 2028.

Dito menegakan, pengiriman atlet ke SEA Games kini akan dilakukan lebih selektif, tidak lagi dalam jumlah besar seperti SEA Games edisi-edisi sebelumnya. Pada SEA Games Kamboja 2023, misalnya, Indonesia mengirim 599 atlet, termasuk atlet dari cabang olahraga yang tidak dipertandingkan di ajang Asian Games ataupun Olimpiade.

”Dengan ada efisiensi ini, atlet yang kami kirim (ke SEA Games 2025) akan lebih ketat seleksinya, tidak jor-joran,” kata Dito dalam rapat tersebut.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, memaparkan anggaran setelah rekonstruksi saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (13/2/2025).

Di sisi lain, program pelatnas jangka panjang yang tadinya langsung direncanakan selama lima tahun untuk Olimpiade Los Angeles 2028 juga berubah. Selain pola pelatnas yang dilakukan per tahun, seperti tahun ini adalah SEA Games 2025, Kemenpora memutuskan untuk memprioritaskan cabang tertentu yang punya potensi besar medali.

Perubahan-perubahan ini mulai berdampak langsung pada cabang olahraga yang tidak prioritas atau relevan dengan Olimpiade, seperti kickboxing. Cabang olahraga ini ditolak Komite Olimpiade Internasional untuk mentas di Olimpiade Los Angeles 2028. Salah satu atletnya, Andi Mesyara Jerni Maswara, mengaku dipulangkan dari pelatnas yang digelar untuk persiapan World Games 2025 dan SEA Games 2025.

Jerni mengatakan, dia juga gagal mengikuti uji coba di Italia dan Thailand yang awalnya direncanakan pada Maret dan April. Padahal, kata Jerni, dia sudah berjuang untuk lolos ke World Games dengan meraih medali emas pada Kejuaraan Kickboxing Asia 2024 di Phnom Penh, Kamboja.

Quote

Jadi saya harap, ketua cabang olahraga masing-masing menenangkan atletnya, ngasih solusi yang baik dan mereka punya rencana yang lebih baik juga ke depan.

World Games, yang akan digelar Agustus di Chengdu, China, adalah ajang multiolahraga untuk cabang olahraga dan disiplin yang tidak termasuk dalam program Olimpiade. Semua atlet yang berpartisipasi dalam acara tersebut adalah yang terbaik di dunia dalam disiplin masing-masing serta lolos kualifikasi melalui beberapa ajang terpilih dari Federasi Internasional.

”Atlet bukan mesin, butuh pembinaan. Kami berhenti latihan dua hari saja, fisik kembali nol. Maka dari itu, kami butuh pembinaan. Atlet yang dapat pembinaan jangka panjang aja belum tentu juara, apalagi yang tidak dapat pembinaan,” kata Jerni.

”Saya dapat informasi bahwa pelatnas diprioritaskan untuk olahraga yang ikut Olimpiade. Lalu, bagaimana dengan olahraga yang lainnya?” ujarnya lagi.

Atlet kickboxing Indonesia, Andi Mesyara Jerni Maswara, bertarung di Kejuaraan Kickboxing Asia 2024 di Kamboja, Oktober 2024.

Angkat besi, yang sejak Olimpiade Sydney 2000 rutin mempersembahkan medali, belum mendapatkan kepastian soal keberlangsungan pelatnas. Peraih medali emas Olimpiade, Rizki Juniansyah, mengatakan, biasanya memang pada Desember atau Januari hingga April atau Mei tidak ada anggaran dari pemerintah untuk pelatnas.

Meski begitu, dalam beberapa kesempatan, ada dana talangan dari Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Rosan Roslani untuk keberlangsungan pelatnas, termasuk untuk gaji atlet. ”Namum, untuk saat ini belum ada tanda-tanda tersebut. Aku harap ke depannya lebih baik lagi untuk memperhatikan atlet, terutama prioritas yang bisa berjenjang atau bisa meraih medali di Olimpiade. Apalagi, banyak ajang menanti,” ucapnya.

Pemangkasan anggaran Kemenpora yang cukup tinggi ini bisa berdampak pada program olahraga nasional, terutama karena pemangkasan yang juga tinggi pada satuan kerja Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga. Deputi yang membawahkan pembinaan prestasi olahraga serta pengiriman kontingen ini mendapatkan pemangkasan hingga 71,03 persen dari Rp 1,63 triliun menjadi Rp 473,5 miliar.

Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, menyoroti pemangkasan yang besar pada satuan kerja tersebut. Habib mempertanyakan alasan dasar yang mendasari penurunan cukup dratis pada anggaran untuk peningkatan prestasi.

Catatan/kesimpulan hasil rapat kerja Kemenpora dengan Komisi X DPR di Senayan, Jakarta, Kamis (13/2/2025).

Menurut Habib, itu merupakan sesuatu yang kontradiktif karena dalam tiga tahun terakhir, prestasi Indonesia cukup banyak. Dengan prestasi di bidang olahraga, Kemenpora juga berkontribusi membangun citra Indonesia di kancah internasional.

Adapun anggota Komisi X DPR dari fraksi PKS, Ledia Hanifa, mengingatkan agar pemangkasan anggaran tidak menghambat pembinaan. ”Terutama bicara olahraga prestasi, karena yang diharapkan prestasi, maka usahanya harus kontinu sehingga sudut pandangnya harus ada pembinaan yang konsisten dan terencana,” ujar Ledia.

Guru Besar Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya Ali Maksum berpendapat, efisiensi anggaran memang dibutuhkan. Namun, Kemenpora perlu selektif untuk menentukan aspek mana yang akan terdampak efisiensi. Dia menyarankan efisiensi diterapkan pada kegiatan-kegiatan seremonial yang tidak ada dampak signifikan pada perkembangan olahraga atau prestasi olahraga.

”Kemenpora harus jeli memilah-milah. Apa yang berdampak langsung pada pelatihan atlet, tata kelola di lapangan itu tidak boleh dikurangi, entah itu latihannya, makannya, atau nutrisinya. Kalau dikurangi, sudah pasti akan berdampak langsung pada performa,” ucap Ali.

”Jika bicara soal pembinaan, kan, berarti harus berjenjang dan berkelanjutan. Karena yang dibina dan ’dibangun’ adalah manusia. Dalam pembinaan, jika atlet tidak latihan seminggu atau sebulan akan terasa itu dampaknya,” ujarnya lagi.

Suasana latihan di pelatnas angkat besi PB PABBSI di Mako Marinir TNI AL, Jakarta, Senin (25/4/2022). Sebanyak 13 lifter nasional dipersiapkan untuk mewakili Indonesia dalam SEA Games XXXI Vietnam 2021. Beberapa atlet muda yang menjadi regenerasi atlet pun diterjunkan dalam ajang pesta olahraga Asia Tenggara ini. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 25-4-2022

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat memperkirakan pemangkasan anggaran akan lebih menyasar tim pendukung ketimbang atlet. Dia pun berharap efisiensi tidak sampai harus membubarkan pelatnas.

”Kalau (anggaran) ke atletnya kita berharap tetap sama karena, kan, yang paling vital itu atlet,” ujar Taufik.

Taufik meminta semua pihak bersabar menanti hasil review. Dia juga meminta pengurus cabang olahraga, terutama ketua umum, untuk berperan mencari solusi sumber pendanaan lain.

”Jadi saya harap, ketua cabang olahraga masing-masing menenangkan atletnya, ngasih solusi yang baik dan mereka punya rencana yang lebih baik juga ke depan. Jujur, kalau memang semua mengandalkan pemerintah, kita anggaran juga tidak cukup. Kita realistis saja,” tuturnya lagi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah, Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey