Setidaknya 500 orang tewas akibat kekerasan di Suriah, sebagian dieksekusi dalam tiga hari terakhir
08 Mar 2025 08:25 WIB · Internasional
DAMASKUS, SABTU — Kejatuhan Bashar al-Assad dari kursi kepresidenan Suriah tidak mengakhiri perang saudara dan kekerasan di negara itu. Pengejaran oleh milisi terafiliasi Hayat Tahrir al-Sham, yang kini menjadi pasukan penguasa baru Suriah, terhadap para pendukung Assad memicu kekerasan dalam dua hari terakhir.
Hingga Sabtu (8/3/2025) siang waktu Damaskus, setidaknya 500 orang tewas. Penguasa Suriah menerapkan jam malam sampai pagi di Latakia, Tartus, dan Homs. Jam malam juga diberlakukan di daerah yang berbatasan dengan tiga provinsi itu.
Jam malam diberlakukan untuk meredakan kekerasan di tiga provinsi itu dan daerah yang berbatasan. Kecuali Homs, daerah lain merupakan basis para pendukung Assad.
Pada Kamis (6/3/2025), pasukan yang disebut loyalis Assad baku tembak dengan pasukan keamanan penguasa baru Suriah. Para pihak saling menyalahkan soal siapa yang memulai kekerasan itu.
”Semua sama-sama merasa diserang. Semua merasa jadi korban kesewangan pihak lain. Lebih buruk lagi, semua pihak bersenjata,” kata peneliti Suriah di Century International, Aron Lund.
Ini pembantaian sektarian dengan tujuan mengusir komunitas alawi dari rumah mereka
Pejabat keamanan di Latakia, Mustafa Kneifati, menuding ada serangan yang direncanakan dengan rapi. ”Sejumlah sisa milisi Assad menyerang kami dan pos pemeriksaan, menyasar banyak petugas patroli di sekitar kota Jableh,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/08/1bf90d25-e748-464d-9dc0-6ebd8c4046b2_jpg.jpg)
Di sisi lain, pasukan penguasa antara lain menggunakan helikopter serbu untuk menyerang Desa Beit Ana. Serangan itu menyasar sekelompok bekas pasukan khusus Suriah yang mengikuti komandannya, Suhail Hassan.
Sementara pada Jumat, sebagaimana dilaporkan kantor berita SANA, pasukan penguasa menyerang Qardaha yang merupakan kampung halaman Assad. Di sana, mereka antara lain menangkap Ibrahim Huweija yang pernah menjadi jenderal di masa pemerintahan Hafez al-Assad. Ayah Bashar al-Assad itu menjadi Presiden Suriah pada 1971-2000.
Syria Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di London menyiarkan cuplikan dampak baku tembak itu. Menurut SOHR, setidaknya 500 orang tewas sejak baku tembak meletus pada Kamis.
Di antara korban, tak sampai 100 yang jadi milisi pendukung kedua pihak bertikai. Sisanya warga sipil yang terjebak di baku tembak.
”Ini bukan lagi tentang menjadi pendukung atau penentang rezim Assad. Ini pembantaian sektarian dengan tujuan mengusir komunitas alawi dari rumah mereka,” demikian pernyataan SOHR.
SOHR antara lain menyiarkan cuplikan video proses eksekusi orang-orang yang disebut loyalis Assad. Dalam posisi merangkak, mereka ditembak dari belakang oleh orang-orang yang mengenakan seragam pasukan penguasa baru Suriah. Menurut SOHR, eksekutor teridentifikasi sebagai pasukan yang dikendalikan Kementerian Keamanan dan Dalam Negeri Suriah.
Sementara stasiun televisi Lebanon, Al-Mayadeen TV, melaporkan serangan di Sheer, Mukthariyeh, dan Haffah. Desa-desa itu disebut jadi markas para loyalis Assad.
Menurut redaksi Al-Mayadeen, di Muhtariyeh saja ada 30 orang tewas dan 60 lain di Baniya. Penjarahan dan perusakan terjadi di Baniya dan sekitarnya.
Seorang ulama Alawi terkemuka, Sheikh Shabaan Mansour (86), Jumat (7/3/2025), bersama putranya ditemukan tewas di Desa Sahlab di Suriah barat. Warga setempat menuding milisi dan aparat keamanan pemerintah sementara Suriah membunuh mereka.
Secara terpisah, Ahmed al-Sharaa yang merupakan pemimpin sementara Suriah mengultimatum para pendukung Assad. Ia menyalahkan mereka dan menuding mereka menyerang aparat sah Suriah. ”Letakkan senjata dan menyerah sebelum terlambat,” ujarnya.
Pengejaran terhadap pendukung Assad akan terus dilakukan. ”Kami akan membawa mereka ke pengadilan yang adil, dan kami akan terus membatasi senjata untuk negara. Tidak akan ada senjata yang tersisa di Suriah,” ucap Sharaa yang pernah memimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) sejak HTS masih jadi bagian Al Qaeda itu.
Sharaa dalam pernyataannya juga menuding para loyalis Assad sebagai pihak yang memprovokasi. ”Sisa-sisa rezim yang jatuh mencari provokasi yang akan menyebabkan pelanggaran, sesuatu hal yang bisa memberikan perlindungan bagi mereka,” katanya.
Saat mengambil kekuasaan dari Assad, Sharaa berjanji menggandeng kelompok mana pun dalam upayanya membangun kembali Suriah, termasuk kelompok minoritas. Ia juga berjanji tidak akan membiarkan adanya hukuman kolektif atau pembalasan sektarian terhadap kelompok yang mendukung rezim sebelumnya.
Akan tetapi, sejauh ini tidak ada komunikasi dan pertemuan Sharaa dengan tokoh senior komunitas Alawi. Bahkan, kekerasan terhadap komunitas itu terus berlanjut dilakukan para pendukung penguasa baru.
Moussa al-Omar, seorang tokoh media Suriah yang dekat dengan pemerintahan baru Suriah, mengatakan, puluhan ribu anggota milisi keamanan Suriah ke wilayah bentrokan untuk memulihkan keamanan. Dia menyebutkan, tindakan keras itu merupakan pesan kepada siapa pun bahwa negara mampu menggunakan kekuatan militer kapan pun, termasuk ketika tengah mengupayakan solusi damai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/e26c94668be15f57b8c537ba0d083772-000_36ZG8V7.jpg)
Sejumlah pihak mengkhawatirkan kekerasan ini bisa berujung pada eskalasi kekacauan baru. Dewan Islam Alawi menuding milisi bersenjata yang terafiliasi dengan penguasa memasuki wilayah Alawi untuk meneror dan membunuh. Mereka mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menempatkan wilayah itu dalam perlindungan PBB.
Kepala Pusat Studi Timur Tengah Universitas Oklahoma Joshua Landis mengatakan, pembunuhan dan kekacauan yang tak terkendali akan merusak kepercayaan asing dan warga terhadap pemerintahan Sharaa. Situasi ini dinilainya akan membuat upaya Sharaa membawa Suriah keluar dari fase sulit menjadi lebih kompleks.
Gregory Waters, peneliti Middle East Institute, mengatakan optimistis gejolak itu tidak akan meningkat menjadi pertempuran berkelanjutan. Akan tetapi, dia khawatir hal itu dapat memicu siklus kekerasan di antara berbagai komunitas sipil yang tinggal di sepanjang pantai.
Selain itu, setiap pelanggaran oleh pasukan keamanan yang dikirim dari Damaskus akan membuat pemuda Alawi lebih cenderung mengangkat senjata dibandingkan mengambil opsi lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/08/11d14b523d8e400b7838c990e9aad6cf-000_36ZE99Q.jpg)
Qutaiba Idlbi, peneliti di Atlantic Council, mengatakan, selain bahaya eskalasi sektarian, kekerasan itu juga mengungkap potensi ketidakmampuan pemerintahan baru Suriah untuk menghadapi tantangan keamanan besar. ”Kelompok bersenjata yang menentang otoritas baru mungkin memperhatikan hal ini,” ucapnya.
Utusan PBB untuk Suriah Geir Pedersen meminta agar semua pihak menahan diri untuk mengurangi potensi bentrokan lebih lanjut. Ia juga menyerukan penghormatan penuh atas perlindungan warga sipil sesuai dengan hukum internasional.
”Semua pihak harus menahan diri dari tindakan yang dapat semakin mengobarkan ketegangan, meningkatkan konflik, memperburuk penderitaan masyarakat yang terkena dampak, mengganggu stabilitas Suriah, dan membahayakan transisi politik yang kredibel dan inklusif,” katanya dalam sebuah pernyataan.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris Mada