Jika mengacu data hisab, maka 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu (1/3/2025). Namun, data rukyat memprediksi awal Ramadhan bisa jatuh Sabtu atau Minggu (2/3/2025).
27 Feb 2025 16:37 WIB · Humaniora
Meski Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah jatuh pada Sabtu (1/3/2025), keputusan pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan organisasi massa Islam lainnya masih menunggu pengamatan hilal pada Jumat (28/2/2025) petang. Ada kemungkinan, 1 Ramadhan akan ditetapkan sama pada Sabtu (1/3/2025) atau justru Minggu (2/3/2025).
Konjungsi atau kesegarisan Matahari, Bulan, dan Bumi atau terjadinya fase Bulan (moon) mati akan terjadi pada Jumat (28/2/2025) pukul 07.44 WIB. Sesaat setelah fase Bulan mati terjadi, akan dimulai fase Bulan baru yang menjadi tanda dimulainya putaran bulan (month) baru dalam kalender hijriah.
Jika kalender lunar lain bersifat matematis alias ditentukan lewat perhitungan (hisab) semata, maka kalender Islam adalah kalender astronomis.
Dalam menentukan awal bulan, kalender Islam berbeda dengan kalender lunar lain. Jika awal bulan kalender lunar lain umumnya ditentukan otomatis sesuai dimulainya fase Bulan baru, maka awal bulan kalender Islam ditentukan berdasarkan terlihatnya hilal atau Bulan sabit tipis yang pertama terlihat selepas Matahari terbenam setelah konjungsi.
Jika kalender lunar lain bersifat matematis alias ditentukan lewat perhitungan (hisab) semata, maka kalender Islam adalah kalender astronomis. Penentuan awal bulan dalam kalender hijriah ditentukan dengan melihat hilal (rukyat) atau perhitungan berbasis kemungkinan terlihatnya hilal (imkan rukyat).
Sesuai data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat Matahari terbenam pada Jumat (28/2/2025) petang atau bertepatan dengan 29 Syakban 1446 H, di seluruh wilayah Indonesia dari Papua hingga Aceh, ketinggian hilal berkisar antara 3,02 derajat hingga 4,69 derajat. Pada saat yang sama, elongasi atau jarak sudut Matahari dan Bulan mencapai 4,78 derajat sampai 6,4 derajat.
Agar hilal bisa diamati, kriteria baru Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) mensyaratkan ketinggian Bulan minimal 3 derajat dan elongasi paling sedikit 6,4 derajat. Dengan kriteria itu, maka satu-satunya wilayah Indonesia yang posisi hilalnya memenuhi dua syarat tersebut hanya ada di ujung barat Aceh, yaitu Banda Aceh, Sabang, dan sisi barat Kabupaten Aceh Besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/01/327b6812-a4e8-417e-af5d-00034a1851d4.jpg)
Salah satu lokasi pengamatan hilal di ujung barat Aceh yang berpeluang mengamati hilal Ramadhan 1446 ini adalah Lhoknga di Aceh Besar. Jika hilal berhasil diamati, maka kemungkinan besar 1 Ramadhan 1446 akan ditetapkan pemerintah pada Sabtu (1/3/2025). Jika hilal gagal teramati, maka jumlah hari di bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga 1 Ramadhan akan jatuh pada Minggu (2/3/2025).
Karena itu, pastikan menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah pada Jumat (28/2/2025) petang. Mengingat waktu maghrib di Lhoknga pada hari itu adalah pukul 18.52 WIB, maka masyarakat Indonesia di wilayah lain perlu bersabar menunggu hasil sidang isbat karena akan berlangsung lebih malam beberapa menit dibanding biasanya.
Butuh waktu untuk mengamati hilal. Hilal di Lhoknga akan berada di atas ufuk sekitar 22 menit sebelum akhirnya tenggelam pukul 19.14 WIB. Rentang waktu ketampakan hilal itu harus dimanfaatkan optimal oleh pengamat hilal karena umat Islam Indonesia sangat bergantung pada kesaksian mereka.
Kalaupun hilal teramati, butuh waktu tambahan untuk memverifikasi laporan pengamatan hingga pengambilan sumpah yang akan dilakukan oleh pengadilan agama setempat. Jika hilal tidak teramati, maka prosesnya akan lebih singkat.
Jadi, untuk tahun ini, masyarakat perlu sedikit bersabar untuk menunggu Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi mengumumkan hasil sidang isbat tentang awal Ramadhan 1446.
Almanak yang dikeluarkan berbagai lembaga di Indonesia, mulai dari Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 yang dikeluarkan Kemenag, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 1446 Muhammadiyah, Almanak Nahdlatul Ulama (NU) 2025 Miladiyah, sama-sama menyebutkan 1 Ramadhan 1446 jatuh pada Sabtu (1/3/2025). Namun, untuk Almanak NU selalu disertai keterangan bahwa putusan awal bulan hijriah menunggu hasil rukyat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/4bbeb17c2fc0dc0ec6840e5d095c4a1d-250207_tinggi_hilal_BMKG.jpg)
Semua kalender hijriah itu disusun berdasarkan hisab dengan penentuan awal bulannya ditentukan berdasarkan kriteria awal bulan hijriah yang berbeda-beda. Kemenag dan NU menggunakan kriteria baru MABIMS. Dengan kriteria ini, maka benar jika awal Ramadhan 1446 akan jatuh Sabtu (1/3/2025) karena sudah ada wilayah Indonesia yang memenuhi kriteria tersebut meski hanya di ujung wilayah Aceh.
”Dengan prinsip kesatuan wilayah hukum, maka jika ada satu daerah yang sudah memenuhi kriteria MABIMS, wilayah lain akan mengikutinya,” kata Hendro Setyanto, peneliti falak yang juga pendiri Observatorium dan Planetarium Imah Noong Lembang Bandung, Kamis (26/2/2025).
Munculnya kemungkinan 1 Ramadhan jatuh pada Minggu (2/3/2025) karena Kemenag menggunakan gabungan sistem hisab dan rukyat untuk menentukan awal tiga bulan hijriah yang terkait ibadah wajib, yaitu Ramadhan (bulan ke-9), Syawal (10), dan Zulhijah (12). Ketentuan ini dijalankan sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004.
Karena wilayah yang memenuhi syarat mengamati hilal awal Ramadhan 1446 H nanti hanya ujung barat Aceh, maka peluang terlihatnya hilal menjadi lebih sedikit dari biasanya. Terlebih, daerah-daerah yang selama ini cukup sering melaporkan terlihatnya hilal, seperti wilayah di pantai utara Jawa, belum memenuhi kriteria yang memungkinkan terlihatnya hilal.
Terlebih lagi, prakiraan cuaca BMKG di sekitar Lhoknga, Aceh Besar, pada Jumat (28/2/2025) besok adalah berawan dengan tingkat kelembaban udara antara 69-94 persen. Sementara di Sabang, diprediksi hujan ringan dengan kelembaban antara 78-91 persen. Banyaknya uap air di udara ini tentu membuat pengamatan hilal menjadi tidak mudah.
Jika hilal awal Ramadhan itu terlihat dari wilayah ujung barat Aceh, maka potensi umat Islam Indonesia mengawali Ramadhan 1446 secara bersamaan terbuka lebar. Jika hilal tidak terlihat, maka umur bulan Syakban (8) akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga 1 Ramadhan akan jatuh pada Minggu (2/3/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/1d9376cede9c72bd19420a8019725e07-250227_peta_elonagsi_BMKG.jpg)
Meski secara hisab hilal bisa diamati, jika rukyat gagal mengamati hilal, maka hasil pengamatan yang akan jadi acuan. Rukyat berfungsi sebagai metode pembuktian atas hisab yang dilakukan.
Sementara NU menggunakan metode rukyat dalam penentuan awal bulan hijriahnya. Hisab hanya digunakan sebagai pendukung atau alat bantu untuk melakukan rukyat. Namun, selain kriteria baru MABIMS, NU juga menggunakan syarat qath’iy rukyat untuk menentukan apakah umur bulan berjalan digenapkan 30 hari atau tidak.
Jika hilal yang secara hisab berpotensi teramati, tetapi tidak bisa diamati seperti akibat kondisi cuaca, maka umur bulan hijriah biasanya akan dibulatkan menjadi 30 hari. Namun, dengan qath’iy rukyat, jika elongasi hilal sudah mencapai 9,9 derajat, maka umur bulan berjalan tidak lagi digenapkan tetapi langsung dianggap memasuki bulan hijriah baru.
Aturan ini untuk menghindari panjang bulan hijriah berikutnya kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari. Ketentuan ini pula yang membuat 1 Muharam 1446 H/2024 berbeda antara NU dengan pemerintah dan Muhammadiyah. Untuk Muharam, pemerintah hanya menggunakan hisab, sedangkan NU tetap merukyat. Meski hasil hisab sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, karena belum mencapai qath’iy rukyat membuat tahun baru hijriah NU datang lebih lambat sehari dibandingkan dengan yang ditetapkan pemerintah.
Sementara itu, Muhammadiyah yang menentukan awal bulan hijriah dengan metode hisab, pada 12 Februari 2025, sudah mengumumkan 1 Ramadhan 1446 jatuh pada Sabtu (1/3/2025). Meski pada awal tahun hijriah lalu Muhammadiyah sudah mengumumkan menggunakan kriteria KHGT sebagai kriteria baru awal bulan hijriah, ternyata tahun ini Muhammadiyah masih memakai kriteria wujudl hilal.
”KHGT memang belum secara resmi diterapkan, baru tahap pengenalan dan sosialisasi. Rencananya, KHGT baru akan digunakan saat pergantian tahun 1447 H mendatang,” kata Ketua Biro Komunikasi dan Pelayanan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Edy Kuscahyanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/04/09/3267245331f45a4faf806f324b467ee8-WhatsApp_Image_2024-04-09_at_19.21.53.jpeg)
Awal bulan hijriah dalam kriteria KHGT mensyaratkan konjungsi terjadi sebelum pukul 00.00 waktu universal (UT) atau waktu Greenwich, Inggris, serta posisi hilal di wilayah mana pun di seluruh dunia sudah mencapai tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat. Sementara kriteria wujudul hilal mensyaratkan di wilayah Indonesia, konjungsi terjadi sebelum maghrib, saat Matahari terbenam hilal sudah di atas ufuk, dan Matahari terbenam lebih dulu dibandingkan dengan Bulan. Dengan kedua kriteria tersebut, 1 Ramadhan 1416 H jatuh pada Sabtu (1/3/2025).
Kemungkinan awal Ramadhan 1446 di Indonesia yang bisa jatuh pada Sabtu (1/3/2025) atau Minggu (2/3/2025) mengundang ketidakpastian dan senantiasa menimbulkan kontroversi di masyarakat. Perdebatan umumnya meruncing di media sosial karena sering kali didasari oleh prasangka dan asumsi terhadap sistem penentuan awal bulan hijriah.
Salah satu yang sering muncul adalah manfaat pengamatan hilal di wilayah yang secara hisab tidak memungkinkan hilal untuk diamati. Jika ada laporan melihat hilal di wilayah itu, maka kesaksiannya akan ditolak karena secara hisab alias secara teoretis, hilal tidak akan bisa diamati karena tinggi dan elongasi hilal kurang dari batas minimal.
Namun, selama ini, pengamatan hilal akan tetap dilakukan di wilayah-wilayah yang secara hisab tidak memungkinkan melihat hilal. Tindakan ini juga akan dilakukan pada pengamatan hilal Jumat (28/2/2025) petang. Karena itu, banyak warganet menilai tindakan ini sebagai buang-buang anggaran negara.
Peneliti astronomi dan astrofisika yang juga dosen Program Studi Fisika Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Judhistira Aria Utama, mengatakan, kriteria imkan rukyat yang digunakan dalam penyusunan kalender dan dasar dalam menentukan bisa atau tidaknya hilal diamati memang tidak memberi jaminan bahwa hilal bisa diamati meski batas minimal tercapai.
Batas minimal itu hanya memberikan panduan berbasis bukti ilmiah tentang syarat minimal ketampakan hilal. Persoalannya, pengamatan hilal tidak hanya ditentukan oleh posisi hilal, tetapi juga cuaca, kondisi atmosfer, keterampilan perukyat, penggunaan alat bantu, hingga keberadaan benda-benda langit di sekitar prediksi posisi hilal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/02/5b2757c6-8b1b-46df-ab6f-ded7463d7b9f.jpg)
Pengamatan hilal di wilayah yang secara hisab tidak memungkinkan diamatinya hilal tetap diperlukan dalam batas tertentu untuk mewaspadai potensi munculnya hilal. Kewaspadaan ini diperlukan untuk memberikan kepastian waktu ibadah, mirip galat dalam perhitungan statistika.
”Sains itu bersifat terbuka dengan perkembangan data baru,” katanya.
Karena itu, jika ada kesaksian melihat hilal dari wilayah di luar wilayah ujung barat Aceh pada pengamatan hilal awal Ramadhan 1446 nanti, Aria mengusulkan untuk diterima sepanjang menyertakan bukti valid berupa potret hilal. Foto hilal itu juga harus dilengkapi dengan berbagai informasi pendukung seperti modus pengamatan, jenis alat, waktu pengamatan dan lama hilal teramati, cuaca, hingga jumlah pengamat yang melihat hilal.
Dengan demikian, kesaksian melihat hilal itu bisa divalidasi kebenarannya dan data itu bisa digunakan untuk membenahi kriteria imkan rukyat yang digunakan sekarang. Toh, kriteria baru MABIMS yang dipakai sekarang pun berasal dari data pengamatan hilal yang berhasil dilakukan, baik di Indonesia maupun luar negeri.
Selain itu, lanjut Hendro, kriteria baru MABIMS disusun untuk menjembatani antara penganut hisab dan rukyat. Sejauh ini, kriteria ini memang lebih banyak diadopsi oleh organisasi Islam yang menerapkan rukyat dalam penentuan awal bulan hijriah. Sementara organisasi Persatuan Islam juga memakai kriteria ini meski mereka hanya menggunakan hisab dalam penyusunan kalender.
Meski potensi perbedaan dalam mengawali Ramadhan 1446 terbuka, masyarakat tetap perlu legawa menyikapi perbedaan yang ada. Semua metode penentuan awal bulan hijriah, baik hisab maupun rukyat dengan berbagai kriteria yang ada, dipilih berdasarkan dalil-dalil keagamaan yang diyakini, bukan soal mana yang lebih mudah, lebih praktis, lebih memberi kepastian, atau lebih hemat biaya.
Kabar gembiranya, umat Islam Indonesia kemungkinan besar justru akan merayakan Idul Fitri 1446 secara bersama-sama. Dalam tradisi umat Islam Indonesia, kebersamaan Idul Fitri itu memiliki makna lebih mendalam bagi masyarakat dibandingkan dengan memulai Ramadhan secara bersama. Meski demikian, adanya kesatuan kriteria awal bulan hijriah di Indonesia semoga bisa terwujud sehingga semua umat Islam bisa menjalankan ibadah bersama-sama.
Penulis:
Muchamad Zaid WahyudiEditor:
Adhitya Ramadhan