100 Tahun Mekanika Kuantum: Fondasi Ilmu Pengetahuan yang Terancam Dilupakan

Perayaan 100 tahun mekanika kuantum bukan sekadar refleksi atas pencapaian masa lalu, melainkan juga panggilan kembali menumbuhkan semangat keilmuan di Indonesia.

18 Mar 2025 11:59 WIB · Opini

Oleh Kuwat Triyana

Tahun 2025 menandai satu abad sejak lahirnya mekanika kuantum, sebuah teori revolusioner yang telah mengubah cara manusia memahami alam semesta. Untuk memperingati momen bersejarah ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2025 sebagai Tahun Internasional Sains dan Teknologi Kuantum.

Perayaan ini bukan sekadar penghormatan kepada para ilmuwan besar seperti Max Planck, Albert Einstein, Werner Heisenberg, dan Erwin Schrödinger, tetapi juga sebagai pengingat betapa teori ini telah mendorong berbagai inovasi teknologi yang kini kita gunakan sehari-hari.

Dari transistor dalam perangkat elektronik hingga komputer kuantum yang mulai dikembangkan, dampak mekanika kuantum terhadap sains dan teknologi begitu luas. Namun, ironi terjadi di Indonesia: minat generasi muda terhadap sains, terutama fisika, semakin menurun.

Salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan sistem pendidikan melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di tingkat sekolah menengah yang kurang menitikberatkan pada penguatan dasar-dasar sains. Di sisi lain, stereotipe negatif terhadap sains di Indonesia semakin membuat bidang ini kurang diminati oleh calon mahasiswa.

Peneliti IBM Research Douglas McClure menunjukkan bentuk telanjang komputer kuantum pada Senin (23/5/2022) di Thomas J Watson Research Center, kantor pusat IBM Research, Yorktown Heights, New York, AS. Bentuk komputer yang menyerupai kandelir emas ini adalah sistem pendingin yang mampu menurunkan suhu hingga mendekati 0 kelvin, atau titik beku mutlak.

Mekanika kuantum dan revolusi ilmu pengetahuan

Awal abad ke-20 ditandai oleh kebingungan ilmuwan dalam memahami perilaku cahaya dan materi. Max Planck membuka jalan dengan konsep kuantisasi energi pada tahun 1900, diikuti oleh kontribusi besar dari Einstein melalui efek fotolistrik yang kemudian menjadi dasar bagi pengembangan teori mekanika kuantum.

Heisenberg dengan prinsip ketidakpastiannya dan Schrödinger dengan persamaan gelombangnya kemudian mengukuhkan teori ini sebagai salah satu pilar fisika modern.

Keanehan dunia kuantum—seperti superposisi, entanglement, dan dualitas gelombang-partikel—menjadi dasar bagi banyak fenomena yang tampaknya mustahil dalam fisika klasik. Prinsip ketidakpastian Heisenberg menyatakan bahwa kita tidak bisa mengetahui posisi dan momentum partikel secara bersamaan dengan akurasi sempurna.

Sementara itu, fenomena entanglement memungkinkan dua partikel yang berjauhan untuk tetap terhubung secara instan, menantang pemahaman kita tentang ruang dan waktu.

Dampak mekanika kuantum dalam berbagai sektor

Dalam satu abad terakhir, mekanika kuantum telah menjadi tulang punggung berbagai inovasi yang membentuk dunia modern.

  1. Teknologi informasi dan komputasi
  2. Kesehatan dan kedokteran
  3. Energi dan material cerdas
  4. Keamanan dan komunikasi
Kuantum dot atau titik-titik kuantum akan memancarkan cahaya monokromatik saat terkena cahaya atau dialiri listrik. Kuantum dot berukuran kecil akan menghasilkan warna biru. Saat ukuran kuantum dot bertambah besar, warnanya akan berubah menjadi hijau, kuning, oranye, hingga yang berukuran besar akan memiliki warna merah.

Mengapa minat generasi muda terhadap sains menurun?

Meskipun mekanika kuantum telah mendorong inovasi luar biasa, sayangnya minat pelajar Indonesia terhadap bidang ini terus merosot. Salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan yang semakin menjauh dari penguatan konsep fundamental sains.

Kebijakan MBKM di tingkat sekolah menengah, yang bertujuan memberikan fleksibilitas belajar, justru mengurangi fokus pada sains dan matematika sebagai fondasi utama ilmu pengetahuan.

Di samping itu, sains di Indonesia sering kali dikaitkan dengan kesulitan akademik yang membuatnya kurang menarik dibandingkan bidang lain yang dianggap lebih ”langsung menghasilkan” secara ekonomi. Stigma bahwa ilmu fisika hanya cocok bagi mereka yang ”genius” juga menjadi faktor utama yang membuat siswa enggan menekuni bidang ini.

Padahal, negara-negara maju seperti China dan Jerman semakin meningkatkan pendidikan sains guna mempersiapkan generasi muda menghadapi era teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan dan komputasi kuantum.

VP IBM Quantum Scott Crowder menjelaskan potensi penggunaan komputer kuantum pada Senin (23/5/2022) di Thomas J Watson Research Center, kantor pusat IBM Research, Yorktown Heights, New York, AS. Operasi simulasi alam, kecerdasan buatan, dan optimisasi menjadi tiga potensi terbesar komputer kuantum.

Urgensi revitalisasi pendidikan sains di Indonesia

Untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam revolusi sains dan teknologi global, beberapa langkah perlu dilakukan.

  1. Memperkuat kurikulum sains dan matematika
  2. Memopulerkan sains melalui media dan teknologi
  3. Menghubungkan sains dengan prospek karier
  4. Mendorong kolaborasi antara akademisi dan industri

Fondasi masa depan yang tidak boleh terabaikan

Perayaan 100 tahun mekanika kuantum bukan sekadar refleksi atas pencapaian masa lalu, melainkan juga panggilan untuk kembali menumbuhkan semangat keilmuan di Indonesia. Dengan meningkatnya peran teknologi kuantum dalam berbagai aspek kehidupan, generasi muda Indonesia harus didorong untuk kembali mencintai sains.

Jika tren ketidakminatan terhadap fisika terus berlanjut, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung lahirnya inovator-inovator sains masa depan. Dengan langkah konkret, Indonesia tidak hanya bisa mengikuti perkembangan teknologi kuantum, tetapi juga berkontribusi dalam revolusi ilmu pengetahuan dunia.

Kuwat Triyana, Guru Besar Departemen Fisika dan Dekan FMIPA UGM, Yogyakarta


Kerabat Kerja

Penulis:

Kuwat Triyana
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti