Sebanyak 11 orang meninggal dan 12 lainnya masih hilang dalam bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Majenang, Cilacap, Kamis (13/11/2025) malam.
16 Nov 2025 12:09 WIB · Lingkungan
DOKUMENTASI BNPB
JAKARTA, KOMPAS — Tim SAR gabungan meningkatkan intensitas operasi pencarian terhadap 12 korban hilang dalam bencana longsor di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sebanyak 21 ekskavator, 17 alat bantu kompresor (alkon), dan 9 anjing pelacak (K-9) dikerahkan mencari korban yang tertimbun material longsor.
Kepala Kantor SAR Cilacap Muhamad Abdullah, dalam siaran pers, Minggu (16/11/2025), mengatakan, operasi pencarian pada hari keempat longsor difokuskan pada empat titik utama, yaitu dua titik (worksite A-1 dan A-2) di Dusun Cibuyut untuk mencari 6 korban dan dua titik (worksite B-1 dan B-2) di Dusun Tarukahan untuk mencari 6 korban lainya.
”Kami telah membagi area terdampak menjadi empat sektor prioritas. Pengerahan 21 ekskavator bertujuan mempercepat pembukaan akses dan penyingkiran material, sementara unit K-9 dan alkon berfungsi maksimal dalam mendeteksi dan mengeringkan area yang diduga menjadi lokasi survivor,” kata Abdullah.
Menurut Abdullah, tantangan terbesar tim dalam pencarian korban di lapangan adalah cuaca yang tidak menentu. Curah hujan tinggi sangat berisiko karena dapat menyebabkan tanah menjadi labil dan berpotensi memicu longsor susulan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/834a71a79fd7c6daec232d8ec8441ce3-WhatsApp_Image_2025_11_15_at_20.43.18.jpeg)
Sebelumnya, longsor menerjang Desa Cibeunying di Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025), sekitar pukul 20.00. Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, BPBD Jawa Tengah, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada dua dusun yang terdampak, yaitu Tarukahan dan Cibuyut.
Longsor itu menyebabkan 11 korban jiwa dan 12 orang lainnya hilang. Data Kantor SAR Cilacap menunjukkan tiga korban tewas ditemukan pada Jumat (14/11/2025) siang, yaitu Maya Dwi Lestari (15), Julia Lestari (20), dan Yuni (45), yang berasal dari Dusun Tarukahan.
Adapun delapan korban tewas lainnya ditemukan di Dusun Cibuyut pada Sabtu (15/11/2025). Mereka ialah Rusyanto (60), Muhammad Hafiz (6), Nur Isnaini (30), Asmanto (70), Febriansyah (5), Rizky Pratama Ramdan (9), Dani Setiawan (29), dan Satini (28).
Selain korban meninggal dan hilang, longsor menyebabkan tiga korban luka-luka, yaitu Maya, Haryanto, dan Andi. Mereka telah dibawa ke RSUD Majenang untuk ditangani tim medis. Sebanyak 23 jiwa selamat dan telah mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/204d6840-053f-4b45-836b-ccfd6b8fed96_jpg.jpg)
Selain itu, longsor juga menyebabkan kerugian material. Ada 12 rumah rusak berat karena tertimbun material longsor dan 16 rumah di Tarukahan dan Cibuyut dalam status terancam longsor.
Longsor itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis siang dan kondisi tanah yang tidak stabil. Material longsor tidak hanya menimbun permukiman, tetapi juga menyebabkan penurunan tanah sedalam lebih kurang 2 meter dan retakan dengan panjang mencapai 25 meter. Luasan area terdampak sekitar 6,5 hektar.
Pemprov Jateng, dalam siaran pers, menyebutkan, pencarian korban hilang melibatkan 747 tim SAR gabungan, antara lain dari Basarnas, TNI, Polri, sukarelawan penanggulangan bencana, dan lainnya. Tahap awal, operasi SAR direncanakan berlangsung tujuh hari sejak kejadian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/16/5867a797cf84f9741edfe89274235ddd-WhatsApp_Image_2025_11_15_at_20.44.46.jpeg)
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meminta tim gabungan terus berupaya mencari para korban hingga semua korban ditemukan. Ia juga mengimbau warga tetap waspada.
”Terutama warga yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana. Mengingat saat ini curah hujan masih tinggi,” kata Luthfi, Sabtu (15/11/2025).
Luthfi menyebut, Minggu ini, petugas berencana akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Cilacap. Tujuannya agar operasi SAR berlangsung optimal. Sebelumnya, hujan deras disertai angin kencang jadi kendala pencarian korban hilang.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nur Adji