14 Tewas akibat Banjir Bandang di Sumut, Benarkah Bencana Hidrometeorologi Kian Mematikan?
Hanya dalam sehari, banjir bandang dan longsor menerjang empat kabupaten di Sumatera Utara. Merenggut nyawa 14 orang. Delapan warga masih belum ditemukan.
1. Bagaimana kronologis kejadian banjir pada 4 kabupaten di Sumut?
2. Apa yang terjadi di balik bencana banjir tersebut?
3. Bagaimana mitigasi yang telah dilakukan para pihak?
4. Benarkah hidrometerologi di wilayah itu sekarang kian mematikan?
5. Seberapa besar ancaman bencana berulang akan terjadi dan apa yang bisa kita lakukan?
Bagaimana kronologis kejadian banjir pada 4 kabupaten di Sumut?
Sabtu (23/11/2024) malam, listrik padam. Warga sedang beristirahat dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas bukit dan diikuti air bah yang membawa material banjir bandang di Desa Martelu, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.
Empat rumah dan satu gereja tersapu arus banjir. Akibatnya, empat warga meninggal dan dua hilang di Desa Martelu. Permukiman itu mengalami kerusakan berat diterjang banjir dahsyat.
Di Kabupaten Karo, bencana longsor menerjang permukiman dan daerah wisata permandian air panas di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, pada Sabtu sekitar pukul 19.00. Lokasi itu berjarak sekitar 15 kilometer dari banjir bandang di Deli Serdang. Empat orang tewas dan enam lainnya hilang. Jumlah korban hilang masih bisa bertambah lagi karena kemungkinan ada wisatawan yang belum didata.
Di Tapanuli Selatan, banjir bandang menerjang tiga desa di Kecamatan Sayur Matinggi. Dua warga tewas dan puluhan terluka. Sejumlah rumah rusak berat diterjang arus banjir bandang.
Di Padang Lawas, hujan deras mengakibatkan longsor yang menimbun dua rumah dan tiga warung makan di Desa Harang Julu, Kecamatan Ulu Sosa. Empat orang dalam satu keluarga ditemukan tewas tertimbun material longsor.
Apa yang terjadi di balik bencana banjir tersebut?
Koordinator Studi dan Advokasi Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Rocky Pasaribu menyebut, bencana ekologis sebenarnya telah bertahun-tahun mengepung Sumut pada setiap musim hujan tiba.
”Namun, hingga saat ini tidak ada langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Bencana ekologis juga hampir tidak ada diperbincangkan di tengah gegap gempita pilkada,” kata Rocky.
Rocky mengingatkan, terjadinya bencana yang menelan korban jiwa di banyak daerah di Sumut adalah peringatan keras tentang kondisi darurat ekologis.
Hingga saat ini, tidak ada langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Bencana ekologis juga hampir tidak ada diperbincangkan di tengah gegap gempita pilkada.
Bagaimana mitigasi yang telah dilakukan para pihak?
Kabupaten Deli Serdang kini berfokus pada penanganan di masa tanggap darurat untuk mencari korban. Meski demikian, mitigasi jangka pendek dilakukan dengan merelokasi warga yang berada di daerah rawan bencana banjir bandang dan longsor.
”Warga yang berada di daerah rawan bencana kami relokasi. Mereka untuk sementara pindah ke rumah keluarga masing-masing yang lebih aman,” kata Wiriya Alrahman, Penjabat Bupati Deli Serdang.
Wiriya menyebut, mereka belum melakukan penyelidikan secara mendalam tentang penyebab banjir bandang. Namun, menurut dia, bencana itu tidak disebabkan oleh penebangan hutan atau kerusakan alam. ”Banjir bandang itu terjadi di sungai kecil. Kami melihat, penyebabnya bukan karena perusakan hutan,” katanya.
Benarkah bencana hidrometeorologi di wilayah itu sekarang kian mematikan?
Bencana hidrometeorologi di Sumut kian mematikan. Hanya dalam sehari, empat kabupaten di Sumut dilanda banjir bandang dan longsor yang menelan banyak korban jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir ini, banjir bandang dan longsor juga terjadi, khususnya di daerah dataran tinggi.
KSPPM memetakan kerusakan hutan untuk melihat dampaknya pada bencana hidrometeorologi. Bencana ekologis di Sumut terjadi karena kerusakan hutan yang kian masif, terutama hutan negara. Hutan yang masih terjaga dengan baik justru hutan yang dikelola masyarakat adat. Namun, masyarakat adat terus disingkirkan untuk memperluas eksploitasi hutan.
Tahun lalu, sejumlah daerah di Sumut, seperti Kabupaten Humbang Hasundutan, juga dilanda banjir bandang dan longsor yang menelan korban jiwa. Perkampungan di Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, juga rusak total. Perkampungan adat yang sudah berusia ratusan tahun ini tak bisa lagi ditempati warga karena tertimbun bebatuan besar.
Seberapa besar ancaman bencana berulang akan terjadi dan apa yang bisa kita lakukan?
Bupati Deli Serdang Wiriya Alrahman mengatakan, saat ini mereka berfokus untuk melakukan mitigasi jangka pendek sembari menyiapkan pengurangan risiko jangka panjang. ”Kami menurunkan alat berat untuk memastikan sungai mengalir dan tidak ada hambatan. Ini sangat penting agar banjir bandang tidak berulang,” katanya.
Wiriya menyebut, mereka juga memantau intensitas hujan di hulu desa yang merupakan kawasan hutan. Mereka memantau di hulu agar tidak ada air yang terbendung.
Beberapa tahun lalu, ada pembalakan hutan di hulu sungai. Mereka mengangkut kayu dari desa kami. Mungkin dampaknya baru sekarang kami rasakan.
Wiriya menyebut, sungai yang dilanda banjir bandang itu sangat kecil. Namun, aliran yang terhambat di hulu membuat air tertampung dalam volume besar. Saat aliran jebol, banjir badang terjadi.
Warga Desa Martelu Edy Ginting (45) mengatakan, perusakan hutan di hulu desa pernah terjadi dalam beberapa tahun yang lalu. ”Beberapa tahun lalu, ada pembalakan hutan di hulu sungai. Mereka mengangkut kayu dari desa kami. Mungkin dampaknya baru sekarang kami rasakan,” kata Edy.
Edy menyebut, hutan di hulu desa harus direboisasi lagi agar banjir bandang tidak terjadi. Tahun lalu, banjir bandang juga terjadi di desa itu, tetapi tidak sampai menelan korban jiwa karena arus banjir bandang tidak menerjang permukiman. Penanaman hutan kembali satu-satunya cara mencegah bencana berulang kembali.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana kronologis kejadian banjir pada 4 kabupaten di Sumut?
2. Apa yang terjadi di balik bencana banjir tersebut?
3. Bagaimana mitigasi yang telah dilakukan para pihak?
4. Benarkah hidrometerologi di wilayah itu sekarang kian mematikan?
5. Seberapa besar ancaman bencana berulang akan terjadi dan apa yang bisa kita lakukan?
Bagaimana kronologis kejadian banjir pada 4 kabupaten di Sumut?
Sabtu (23/11/2024) malam, listrik padam. Warga sedang beristirahat dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas bukit dan diikuti air bah yang membawa material banjir bandang di Desa Martelu, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.
Empat rumah dan satu gereja tersapu arus banjir. Akibatnya, empat warga meninggal dan dua hilang di Desa Martelu. Permukiman itu mengalami kerusakan berat diterjang banjir dahsyat.
Di Kabupaten Karo, bencana longsor menerjang permukiman dan daerah wisata permandian air panas di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, pada Sabtu sekitar pukul 19.00. Lokasi itu berjarak sekitar 15 kilometer dari banjir bandang di Deli Serdang. Empat orang tewas dan enam lainnya hilang. Jumlah korban hilang masih bisa bertambah lagi karena kemungkinan ada wisatawan yang belum didata.
Di Tapanuli Selatan, banjir bandang menerjang tiga desa di Kecamatan Sayur Matinggi. Dua warga tewas dan puluhan terluka. Sejumlah rumah rusak berat diterjang arus banjir bandang.
Di Padang Lawas, hujan deras mengakibatkan longsor yang menimbun dua rumah dan tiga warung makan di Desa Harang Julu, Kecamatan Ulu Sosa. Empat orang dalam satu keluarga ditemukan tewas tertimbun material longsor.
Apa yang terjadi di balik bencana banjir tersebut?
Koordinator Studi dan Advokasi Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Rocky Pasaribu menyebut, bencana ekologis sebenarnya telah bertahun-tahun mengepung Sumut pada setiap musim hujan tiba.
”Namun, hingga saat ini tidak ada langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Bencana ekologis juga hampir tidak ada diperbincangkan di tengah gegap gempita pilkada,” kata Rocky.
Rocky mengingatkan, terjadinya bencana yang menelan korban jiwa di banyak daerah di Sumut adalah peringatan keras tentang kondisi darurat ekologis.
Hingga saat ini, tidak ada langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Bencana ekologis juga hampir tidak ada diperbincangkan di tengah gegap gempita pilkada.
Bagaimana mitigasi yang telah dilakukan para pihak?
Kabupaten Deli Serdang kini berfokus pada penanganan di masa tanggap darurat untuk mencari korban. Meski demikian, mitigasi jangka pendek dilakukan dengan merelokasi warga yang berada di daerah rawan bencana banjir bandang dan longsor.
”Warga yang berada di daerah rawan bencana kami relokasi. Mereka untuk sementara pindah ke rumah keluarga masing-masing yang lebih aman,” kata Wiriya Alrahman, Penjabat Bupati Deli Serdang.
Wiriya menyebut, mereka belum melakukan penyelidikan secara mendalam tentang penyebab banjir bandang. Namun, menurut dia, bencana itu tidak disebabkan oleh penebangan hutan atau kerusakan alam. ”Banjir bandang itu terjadi di sungai kecil. Kami melihat, penyebabnya bukan karena perusakan hutan,” katanya.
Benarkah bencana hidrometeorologi di wilayah itu sekarang kian mematikan?
Bencana hidrometeorologi di Sumut kian mematikan. Hanya dalam sehari, empat kabupaten di Sumut dilanda banjir bandang dan longsor yang menelan banyak korban jiwa. Dalam beberapa tahun terakhir ini, banjir bandang dan longsor juga terjadi, khususnya di daerah dataran tinggi.
KSPPM memetakan kerusakan hutan untuk melihat dampaknya pada bencana hidrometeorologi. Bencana ekologis di Sumut terjadi karena kerusakan hutan yang kian masif, terutama hutan negara. Hutan yang masih terjaga dengan baik justru hutan yang dikelola masyarakat adat. Namun, masyarakat adat terus disingkirkan untuk memperluas eksploitasi hutan.
Tahun lalu, sejumlah daerah di Sumut, seperti Kabupaten Humbang Hasundutan, juga dilanda banjir bandang dan longsor yang menelan korban jiwa. Perkampungan di Desa Simangulampe, Kecamatan Baktiraja, juga rusak total. Perkampungan adat yang sudah berusia ratusan tahun ini tak bisa lagi ditempati warga karena tertimbun bebatuan besar.
Seberapa besar ancaman bencana berulang akan terjadi dan apa yang bisa kita lakukan?
Bupati Deli Serdang Wiriya Alrahman mengatakan, saat ini mereka berfokus untuk melakukan mitigasi jangka pendek sembari menyiapkan pengurangan risiko jangka panjang. ”Kami menurunkan alat berat untuk memastikan sungai mengalir dan tidak ada hambatan. Ini sangat penting agar banjir bandang tidak berulang,” katanya.
Wiriya menyebut, mereka juga memantau intensitas hujan di hulu desa yang merupakan kawasan hutan. Mereka memantau di hulu agar tidak ada air yang terbendung.
Beberapa tahun lalu, ada pembalakan hutan di hulu sungai. Mereka mengangkut kayu dari desa kami. Mungkin dampaknya baru sekarang kami rasakan.
Wiriya menyebut, sungai yang dilanda banjir bandang itu sangat kecil. Namun, aliran yang terhambat di hulu membuat air tertampung dalam volume besar. Saat aliran jebol, banjir badang terjadi.
Warga Desa Martelu Edy Ginting (45) mengatakan, perusakan hutan di hulu desa pernah terjadi dalam beberapa tahun yang lalu. ”Beberapa tahun lalu, ada pembalakan hutan di hulu sungai. Mereka mengangkut kayu dari desa kami. Mungkin dampaknya baru sekarang kami rasakan,” kata Edy.
Edy menyebut, hutan di hulu desa harus direboisasi lagi agar banjir bandang tidak terjadi. Tahun lalu, banjir bandang juga terjadi di desa itu, tetapi tidak sampai menelan korban jiwa karena arus banjir bandang tidak menerjang permukiman. Penanaman hutan kembali satu-satunya cara mencegah bencana berulang kembali.