Indonesia dan Sejumlah Negara Tunggu Mandat Pasukan Perdamaian Gaza

AS mempertimbangkan mengajukan resolusi PBB soal mandat bagi pasukan di Gaza. Sementara Israel masih terus menyerang Gaza.

26 Okt 2025 13:00 WIB · Internasional

AP

Oleh Iwan Santosa

DOHA, MINGGU — Pasukan penjaga perdamaian di Gaza, yang berpeluang melibatkan prajurit dari Indonesia, menanti mandat untuk bertugas. Sementara Israel masih terus menyerang Gaza meski gencatan senjata diberlakukan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan, AS mencatat Indonesia dan sejumlah negara telah menyatakan minat bergabung di pasukan itu. ”Untuk bisa mengirim pasukan, negara-negara peminat terutama menanti mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujarnya di Doha, Qatar, pada Sabtu (25/10/2025) waktu setempat atau Minggu dini hari WIB.

Dari Doha, ia terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk menghadiri rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat AS dari berbagai lembaga juga hadir di Kuala Lumpur.

Rubio mengatakan, AS mempertimbangkan mengajukan resolusi PBB soal mandat bagi pasukan di Gaza. AS telah membahas isu itu dengan Mesir, Qatar, dan Turki yang selama ini jadi penengah perundingan gencatan senjata Gaza.

Mandat itu penting karena pasukan perdamaian di Gaza diharapkan bisa jadi kekuatan penjaga keamanan di sana. Pasukan itu, kata Rubio, bertujuan menjadi kekuatan penstabil di Gaza.

Quote

Gencatan senjata ini tak lebih dari jeda pada apa yang kini kami yakini sebagai perang tanpa akhir.

Selain mandat, hal yang dinanti calon pengirim pasukan adalah aturan bertindak di lapangan serta perincian misi. Aturan itu akan menjadi dasar interaksi antara pasukan dan lingkungan sekitar. Misalnya, kapan senjata boleh digunakan dan kepada siapa.

Gencatan senjata Israel dengan kelompok perjuangan kemerdekaan di Gaza dimulai sejak 10 Oktober 2025. Di tahap pertama, selain penghentian baku tembak, para pihak juga setuju saling menukar tawanan. Israel juga menarik pasukan dari sebagian Gaza.

Palestinians take shelter in a damaged building in Khan Yunis, in the southern Gaza Strip on October 25, 2025. The devastating conflict between Israel and Hamas reduced swathes of Gaza to rubble, displaced the vast majority of its population at least once and crippled public services (Photo by Bashar TALEB / AFP)

Terus menyerang

Dalam 11 hari terakhir, Israel masih terus menyerang Gaza. Salah seorang warga Gaza, Sara Awad, di Aljazeera menulis, dirinya nyaris jadi sasaran serangan Israel di Gaza Tengah pada 19 Oktober 2025.

Ia dan sejumlah rekannya sedang menuju salah kedai minum kala kedai itu diserang pesawat nirawak Israel. Serangan itu menewaskan tiga orang dan melukai beberapa lainnya.

Hari itu, Israel menyerang sejumlah lokasi di Gaza. Total 45 orang tewas dalam rangkaian serangan sepanjang 19 Oktober. Hingga 25 Oktober, 100 warga Gaza tewas akibat serangan Israel di periode gencatan senjata. ”Gencatan senjata macam apa ini?” kata Awad.

Israel juga terus membatasi pasokan bantuan ke Gaza. Israel menjanjikan 600 truk boleh masuk setiap hari ke Gaza. Faktanya, pada 10-25 Oktober 2025, hanya 986 truk masuk Gaza. ”Kelaparan masih terjadi di Gaza,” lanjut Awad.

”Gencatan senjata ini tak lebih dari jeda pada apa yang kini kami yakini sebagai perang tanpa akhir—sebuah momen hening yang bisa berakhir kapan saja. Kami akan tetap berada di bawah belas kasihan penjajah yang kejam hingga dunia akhirnya mengakui hak kami untuk hidup dan mengambil tindakan nyata untuk mengamankannya. Hingga saat itu tiba, kami akan tetap menjadi berita utama tentang pembantaian tak berujung Israel,” tuturnya.

Bukan cuma membatasi bantuan sembari terus menyerang, Israel juga membatasi evakuasi medis. Media Inggris, BBC, melaporkan, setidaknya 15.000 pasien kritis perlu dievakuasi dari Gaza. Mereka tidak bisa dirawat di Gaza karena berbagai rumah sakit di sana telah dihancurkan Israel.

Di ruang perawatan anak, RS Nasser, Amar Abu Saidis (10) tergeletak karena lumpuh dari leher ke bawah. Ia ditembak pesawat nirawak Israel. Peluru tersebut bersarang di antara dua ruas tulang belakang.

Ola Abu Said, ibunya, mengatakan, putranya butuh operasi segera. ”Dia harus dioperasi di RS dengan peralatan lengkap yang tidak ada di Gaza. Operasi tersebut berisiko tinggi dapat mengakibatkan stroke atau pendarahan otak,” kata Ola.

Di tempat perawatan lainnya, Ahmed al Jadd terbaring tak berdaya. Shahd saudarinya merawat dia. Sekitar 10 bulan lalu, Ahmed diketahui terkena tumor otak.

Saat itu, mereka sekeluarga sedang mengungsi karena Gaza sedang digempur Israel. ”Dia pernah mengeluh sakit kepala. Kami berikan parasetamol, sesudah itu tangan kanannya tidak bisa bergerak,” kata Shahd menahan tangis sambil memeluk adiknya.

”Dia harus segera dievakuasi. Kami tidak bisa kehilangan dia. Kami barus saja kehilangan ayah, rumah, dan impian kami. Walau kemungkinan Ahmed selamat hanya 1 persen, itu harus kami coba,” kata Shahd terisak.

Israel mengatakan tetap menutup perbatasan Rafah hingga Hamas memenuhi komitmen di bawah kesepakatan gencatan senjata dengan memulangkan jenazah seluruh sandera Israel. Israel menutup perbatasan Rafah-Mesir sejak Mei 2024.

Sejauh ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru bisa mengevakuasi 45 pasien dari Gaza. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, akan berarti kalau evakuasi bisa segera dilakukan dari Gaza.

Biro Urusan Gaza di militer Israel, COGAT, menyebut bahwa semua keputusan soal perlintasan orang tergantung pada Kantor Perdana Menteri Israel. Hal itu berlaku pada evakuasi medis.

Dokter Ahmed al Farra, Direktur Bagian Anak RS Nasser di Gaza, mengaku frustrasi. ”Ini membuat kami tertekan, bisa memberikan diagnosa dan mengetahui apa penyakit yang dialami, tetapi kami tidak bisa memberikan perawatan,” kata Al Farra.

Pekan lalu, RS Nasser memakamkan Saadi Abu Taha (8) yang meninggal karena kanker perut dan tidak mendapatkan perawatan. Berselang sehari, Zain Tafesh (3) dan Luay Dwek (8) meninggal karena hepatitis. Angka tersebut masih terus bertambah. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto