Sebanyak 20 Siswa SD di Pasar Rebo Keracunan MBG, SPPG Langsung Ditutup

Siswa SD di Pasar Rebo keracunan menu MBG. Lima orang sempat dirawat di RSUD Pasar Rebo.

30 Sep 2025 16:43 WIB · Metropolitan

Oleh Rhama Purna Jati, Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 20 siswa dari SDN 01 Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur, diduga keracunan paket Makan Bergizi Gratis, Selasa (30/9/2025). Polisi sudah meminta keterangan lima saksi terkait hal ini.

Paket MBG itu tiba di SDN 01 Gedong pukul 06.00 WIB. Jumlahnya 240 paket dan langsung dibagikan ke setiap kelas. Menunya adalah mi goreng, telur dadar, capcai, tahu, dan buah stroberi. Siswa diklaim lantas menyantapnya.

Akan tetapi, setelah mengonsumsinya, beberapa siswa muntah, mual, pusing, dan sakit perut. Melihat kondisi itu, guru langsung menarik semua paket MBG yang belum dimakan. Ini adalah kejadian pertama setelah MBG dibagikan di sekolah itu sejak Agustus 2025.

”Sejumlah siswa mengatakan mi berwarna pucat, berbau, dan agak lembek,” ucap Kepala Polsek Pasar Rebo Ajun Komisaris I Wayan Wijaya, Selasa.

Bubaran siswa kelas 3 dan 4 di SDN Gedong 01, Jakarta, Selasa (30/9/2025). Sebanyak 5 siswa dibawa menuju IGD RSUD Pasar Rebo yang terindikasi keracunan.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
30-09-2025

Beruntung, kondisi siswa tidak bertambah parah. Meski sempat dibawa ke RSUD Pasar Rebo, lima siswa sudah mendapatkan pertolongan pertama dan boleh pulang.

Ke depan, Wayan menuturkan akan menindaklanjuti kasus ini. ”Kami akan melakukan penyelidikan. Untuk sementara, sudah lima saksi yang diperiksa,” katanya.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan sudah mengecek kejadian ini. Pihaknya langsung menutup sementara dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di kawasan itu.

”Dari 400 menu yang sudah dibagikan (di Pasar Rebo), ada 15 siswa yang sakit. Yang lainnya langsung dibatalkan, totalnya ada 3.600 porsi,” kata Dadan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (kiri) berbincang dengan siswa korban keracunan usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Posko Penanganan di Kantor Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (23/9/2025). Berdasarkan data dari posko penanganan hingga Selasa (23/9) pukul 07.00 WIB sebanyak 352 siswa dan orang tua mengalami keracunan yang diduga akibat menyantap hidangan makan bergizi gratis pada (22/9). ANTARA FOTO/Abdan Syakura/nz

Bertambah

Berdasarkan data yang dikumpulkan Kompas, setidaknya terjadi 5.626 siswa keracunan seusai menyantap menu MBG di sejumlah daerah pada awal Januari-19 September 2025.

Kasus terakhir yang menyita perhatian terjadi di Bandung Barat, Jawa Barat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia Nurliana, Jumat (26/9/2025), mengatakan, tercatat 1.258 siswa keracunan menu MBG di Bandung Barat, yakni di Cipongkor dan Cihampelas.

Mereka datang dalam dua gelombang besar, yakni pada Senin (22/9/2025) dan Rabu (24/9/2025). Sebagian besar mengeluhkan pusing dan mual.

Selain di Bandung Barat, kasus keracunan MBG yang terbaru terjadi di Cianjur dan Sumedang (Jabar), Kebumen dan Banyumas (Jateng), serta Lampung Timur (Lampung). Di Lampung Timur, puluhan siswa SD dan SMP harus dirawat inap di RSUD Sukadana karena mengalami gejala keracunan.

Pertolongan pertama

Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia Yogi Prawira mengatakan, penyebab keracunan makanan cukup beragam.

Beberapa bakteri yang sering dilaporkan menjadi penyebabnya adalah Salmonella, E. Coli, Listeria, dan Clostridium botulinum. Ada juga yang disebabkan virus, salah satunya Hepatitis A. Penyebab lainnya adalah parasit dan bahan kimia.

Tubuh manusia sebenarnya punya mekanisme pertahanan. Jadi, saat menerima asupan makanan atau minuman yang terkontaminasi, tubuh akan merespons untuk mengeluarkannya, seperti dengan mual, muntah, nyeri perut, buang air besar (BAB) cair, bahkan terkadang hingga BAB berdarah.

Fitriany, pelajar korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di rawat di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. Hingga Kamis (22/9/2025) sore tercatat 35 orang masih di rawat di GOR Cipongkor Dalam tiga hari terakhir, tercatat lebih dari 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG di kawasan tersebut. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
25-9-2025

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk pertolongan pertama? Yogi menuturkan, anak yang mengalami keracunan perlu diistirahatkan terlebih dahulu. Hal ini diperlukan untuk membantu pemulihan.

”Walaupun muntah-muntah, tetap didorong untuk minum yang banyak. Mungkin dengan cara diberikan sedikit-sedikit dengan porsi yang kecil, tapi sering sehingga bisa mengganti cairan yang keluar tadi. (Minum) bisa dengan air atau oralit,” jelasnya.

Setelah muntah dan diare berhenti, anak juga dapat diberi makanan ringan yang lembut dalam porsi kecil, seperti bubur, pisang, dan roti. Berikan makanan yang tidak pedas dan tidak merangsang asam lambung.

Label pemeriksaan siswa keracunan di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025).

Kabar keracunan massal akibat menu program MBG membuat jagat media sosial gaduh. Di Bandung Barat, pemerintah daerah bahkan hingga menetapkan status kejadian luar biasa. Warganet merespons peristiwa ini dengan 66 persen sentimen negatif.

BGN mencatat, program MBG terhitung sejak Januari hingga 25 September 2025 mengakibatkan 70 insiden keracunan makanan dengan total 5.914 murid terdampak.

Dilihat dari tren datanya, pada Januari tercatat timbul 94 korban keracunan makanan yang disebabkan dari empat kasus. Puncaknya terjadi pada September dengan catatan 44 kasus yang menimbulkan korban hingga 2.210 murid dari tingkat PAUD hingga SMA.

Serangkaian kasus keracunan MBG yang sering kali diberitakan melalui beragam kanal informasi membuat perbincangan warganet kian menghangat. Apalagi, tren kasus keracunan MBG kian meningkat dan santer tersiar kabarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati, Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari