Daerah yang mengalami bencana paling parah meliputi Tapanuli Selatan dengan 12 korban jiwa, Tapanuli Tengah 5 korban jiwa, dan Kota Sibolga 5 korban jiwa.
26 Nov 2025 18:55 WIB · Lingkungan
HUMAS POLDA SUMUT
MEDAN, KOMPAS — Banjir bandang dan longsor melanda 11 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Sebanyak 25 orang meninggal akibat bencana itu. Akses jalan menuju Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga masih lumpuh. Sementara akses internet dan telepon belum tersambung.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar Ferry Walintukan mengatakan, hingga Rabu (26/11/2025) sore, pihaknya mendapat laporan 25 korban meninggal akibat bencana di sejumlah daerah di Sumut.
Daerah yang mengalami bencana paling parah adalah kawasan pantai barat Sumut, meliputi Tapanuli Selatan dengan laporan sementara 12 korban jiwa, Tapanuli Tengah dengan 5 korban jiwa, dan Kota Sibolga dengan 5 korban jiwa. Banjir bandang dan longsor terjadi di 30 lokasi berbeda.
”Hingga Rabu sore, hujan masih turun di kawasan tersebut. Petugas di lapangan berfokus mengevakuasi masyarakat ke tempat yang lebih aman,” kata Ferry.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/26/37944d19-2d55-47d6-9612-7943258b50c5.jpeg)
Ferry menyebut, tiga akses jalan nasional ke kawasan itu masih terputus. Akses jalan utama, yakni melalui Jalan Tarutung-Sibolga, tertimbun longsor di beberapa lokasi. Truk logistik yang datang dari arah Medan tertahan. Antrean kendaraan memanjang hingga beberapa kilometer.
Jalan alternatif lain melalui Jalan Padangsidimpuan-Sibolga. Namun, jalan nasional itu juga putus total di Kecamatan Angkola Barat, Tapanuli Selatan. Sebuah truk tangki Pertamina tertimbun material longsor di badan jalan. Beberapa rumah juga tertimbun.
Ada pula jalur alternatif lain dari Kabupaten Humbang Hasundutan melalui Jalan Pakkat-Barus. Namun, jalan itu juga longsor di tiga lokasi dan tidak bisa dilalui.
Kawasan lain di Sumut pun dilanda banjir bandang, banjir, dan longsor, yakni Nias Selatan (1 meninggal), Pakpak Bharat (2 meninggal), Mandailing Natal, Tapanuli Utara, Padang Sidimpuan, Humbang Hasundutan, Nias, dan Serdang Bedagai.
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengatakan, pihaknya kini berfokus membuka akses jalan ke kawasan itu. Selain itu, petugas mengevakuasi warga ke posko pengungsian. Pihaknya mengantisipasi banjir bandang dan longsor susulan.
Petugas mengerahkan ekskavator untuk menggeser material longsor yang menimbun jalan di beberapa lokasi di Jalan Tarutung-Sibolga. ”Jalan terputus beberapa kilometer akibat longsor di beberapa lokasi,” kata Masinton.
Ia menyebut, petugas baru bisa membuka beberapa lokasi longsor di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara. Namun, material longsor masih menumpuk di beberapa kilometer jalan tersebut. Beberapa kendaraan juga tertimbun longsor di badan jalan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/26/4b22e3f4-c599-4ff5-99ae-144ced1de210.jpeg)
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan, sebagian petugas BPBD Sumut masih tertahan di Tapanuli Utara. Mereka juga kesulitan berkomunikasi dengan petugas di kawasan Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga.
Akibat terputusnya komunikasi itu, kondisi masyarakat di sejumlah lokasi itu tidak bisa diketahui oleh keluarga di luar daerah. Anisa Ramadani (27), karyawan swasta di Medan, menuturkan, dirinya terakhir kali berkomunikasi dengan orangtuanya di Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah, pada Selasa pukul 10.00 WIB.
”Orangtua saya bilang ada bukit yang longsor di dekat rumah. Banjir juga merendam kawasan di sekitar rumah kami di Tapanuli Tengah,” kata Anisa.
Sejak itu, Anisa tidak bisa lagi menghubungi keluarganya. Sudah lebih dari 24 jam dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya. Dia tidak tahu kondisi mereka. Angkutan umum menuju kawasan itu juga tidak beroperasi.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti