Dua korban tewas dan 26 orang masih hilang akibat tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Upaya pencarian tanah terhambat oleh gerakan tanah di lokasi.
18 Nov 2025 10:53 WIB · Lingkungan
KOMPAS/AMBROSIUS HARTO
BANJARNEGARA, KOMPAS — Hingga Selasa (18/11/2025) pagi, sebanyak 26 orang korban masih dalam pencarian akibat bencana tanah longsor yang menerjang Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sementara itu, jumlah korban tewas yang telah ditemukan sebanyak dua orang.
”Kemarin (Senin, 17/11/2025), tim SAR mengevakuasi dua jenazah, sedangkan yang masih dalam pencarian 26 jiwa,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang Budiono, Selasa, di Banjarnegara.
Budiono memaparkan, sampai Selasa pukul 10.00 WIB, operasi pencarian dan pertolongan terhadap 26 korban masih hilang belum bisa dilakukan. Hal ini karena potensi bencana di lokasi yang mesti diwaspadai. ”Ada pergerakan tanah yang membahayakan tim SAR,” ujarnya.
Dia menambahkan, operasi pencarian dan pertolongan korban bencana tanah longsor di Banjarnegara itu telah memasuki hari ketiga. Adapun tanah longsor di lokasi itu dilaporkan terjadi pada Minggu (16/11/2025) pukul 15.30 WIB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/18/0aae4c47-5f95-411d-8623-932b40044a72_jpeg.jpg)
Pada hari kejadian, pencarian korban awalnya dilakukan secara mandiri oleh warga. Setelah itu, operasi SAR dijalankan oleh petugas gabungan. Pada Senin kemarin, tim SAR menemukan dan mengevakuasi dua orang korban. Namun, mereka sudah meninggal.
”Tanahnya seperti bubur. Terdengar suara rekahan-rekahan. Situasi ini membahayakan tim SAR sehingga sementara kami minta turun dari lokasi,” kata Budiono.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara Junaedi menambahkan, lokasi tanah longsor mencakup RT 01, 02, 03, dan 04 di RW 03 Dusun Situkung.
”Dari evaluasi kami, retakan pada dinding tanah itu sudah muncul sejak 2017 tetapi tidak disadari dan tidak dilaporkan oleh masyarakat,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/18/28f36ef2-e9d6-4e3c-a40b-605db3fb1bc0_jpeg.jpg)
Hujan yang rutin turun bertahun-tahun, kata Junaedi, mengakibatkan tanah menjadi amat jenuh air. Tanah di sana mengeluarkan air, tetapi dianggap sebagai mata air atau sumber air bagi perkebunan dan persawahan.
”Situasi ini kurang disadari dan di sini belum terpasang alat EWS (early warning system/sistem peringatan dini),” ujar Junaedi.
Tanahnya seperti bubur. Terdengar suara rekahan-rekahan. Situasi ini membahayakan tim SAR sehingga sementara kami minta turun dari lokasi.
Berdasarkan data BPBD Banjarnegara, bencana tanah longsor ini memaksa 917 warga Desa Pandanarum mengungsi. Pengungsian berada di sejumlah lokasi, terutama di Kecamatan Pandanarum. Sejumlah sekolah dan kantor desa menjadi tempat koordinasi tim SAR terpadu dan sukarelawan.
Di dekat lokasi, masyarakat juga meminta bantuan tim SAR untuk memindahkan ternak dan harta benda. ”Saya punya enam kambing, Pak, minta tolong diambil,” ujar salah seorang warga, Zaidah, kepada seorang Bintara Pembina Desa yang berjaga di lokasi.
Penulis:
Ambrosius HartoEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan