Pada Juli 1995 terjadi genosida di Srebrenica, Bosnia, terhadap 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim.
12 Jul 2025 09:09 WIB · Internasional
Dari kejauhan, rombongan ribuan warga itu mirip ular panjang, memenuhi sepanjang jalan yang berliku, menerobos hutan-hutan lebat di pinggiran Bosnia Timur. Mereka mengenang napak tilas yang dijalani keluarga, kerabat bahkan orang yang tidak mereka kenal saat terjadi tragedi pembantaian Srebenica tahun 1995 lalu.
Ritual itu bertepatan dengan peringatan 30 tahun pembunuhan massal lebih dari 8.000 pria anak laki-laki dari kelompok etnis Bosnia yang sebagian besar terdiri dari Muslim yang saat itu berada di daerah aman yang dilindungi PBB. Sekitar 7.000 orang mengikuti prosesi selama tiga hari ini dalam diam. Sesekali terdengar isak tangis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/e2e2b549-4517-4acc-a16d-9385c0c6e398_jpeg.jpg)
Pawai tahunan sepanjang 100 kilometer ini menelusuri kembali rute yang dijalani oleh para pria dan anak laki-laki Bosnia yang dibantai saat mereka mencoba melarikan diri dari Srebrenica. Pasukan Serbia yang berhasil merebut Srebrenica melakukan pembantaian di tahun 1995.
”Saya di sini hari ini untuk mendukung putra saya, Sultan, saat ia memulai perjalanannya,” kata Amir Kulagic, salah satu dari mereka yang menempuh rute tersebut pada tahun 1995. Ia bersama keponakannya mencoba mengenang perjalanan anaknya saat menelusuri rute tersebut selama tujuh hari delapan malam.
Salah satu warga Amerika Serikat yang juga ikut dalam pawai itu, Nirha Music, dulunya adalah anak yang dilahirkan oleh seroang ibu yang selamat dari Srebrenica, mengatakan, ”Kami berjalan untuk melihat apa yang dialami warga kami.”
”Ini tidak mudah; yang bisa saya pikirkan hanyalah, beginilah keadaannya ketika mereka membunuh kami,” tambahnya.
Peringatan yang sama juga dilakukan dalam acara duka di Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, PBB dan dunia telah mengecewakan rakyat Srebrenica 30 tahun lalu, bukan karena ”kecelakaan sejarah”, melainkan karena ”kebijakan, propaganda, dan ketidakpedulian internasional”.
”Kita harus memastikan suara para penyintas Srebrenica melawan penyangkalan, distorsi, dan revisionisme terus didengar,” ujar Guterres dalam pesan video kepada Majelis Umum. ”Setelah Srebrenica, dunia kembali berkata, ’Jangan Pernah Terulang.’”
Namun, Sekjen PBB memperingatkan bahwa ujaran kebencian kembali memicu diskriminasi, ekstremisme, dan kekerasan, serta mengagungkan penjahat perang. Ia menyerukan kepada 193 negara anggota PBB untuk mencegah terulangnya kejahatan kekejaman dan menghadapi penyangkalan genosida dengan kebenaran dan impunitas dengan keadilan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/d1b917a7-25f5-46dd-b5d5-f9e4d2c85207_jpeg.jpg)
Sebagian besar korban pembantaian diburu dan dieksekusi seketika saat mereka mencoba melarikan diri melalui hutan. Jenazah mereka dikumpulkan dalam kuburan massal yang digali dengan buldoser dan disebar di banyak tempat untuk menyembunyikan bukti kejahatan. Sebagian juga dikuburkan di kuburan biasa untuk menyamarkan kejahatan pembantaian.
Sejauh ini, lebih dari 6.700 jenazah telah ditemukan dan dimakamkan kembali. Sebanyak tujuh jenazah yang baru-baru ini berhasil diidentifikasi melalui analisis DNA merupakan korban pembantaian Srebrenica juga dimakamkan di sana.
Munira Subasic, Presiden Asosiasi Ibu-ibu Srebrenica, yang kehilangan 22 anggota keluarganya termasuk suami dan putra bungsunya, mengatakan kepada para diplomat PBB bahwa sangat sulit selama 30 tahun untuk menanggung rasa sakit di jiwa. Hal itu makin terasa berat saat terjadi penyangkalan genosida Muslim oleh orang-orang Serbia Bosnia.
”Mereka terbunuh di zona PBB yang seharusnya aman, dan PBB, dunia, serta Eropa hanya menyaksikan dalam diam,” tambah Subasic. Bersama dengan Ibu-ibu Srebrenica lainnya, mereka kini melawan penyangkalan atas genosida dan ketidakadilan, serta menciptakan dunia yang lebih damai bagi anak-anak saat ini.
”Keadilan ada di pihak kita, dan kita akan menang.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto