Longsor di Banjarnegara dan Cilacap, 34 Orang Belum Ditemukan

Sebanyak 7 korban longsor di Cilacap dan 27 korban di Banjarnegara, Jawa Tengah, masih dicari hingga Senin (17/11/2025) sore. Masyarakat diimbau mewaspadai cuaca.

17 Nov 2025 19:51 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI BPBD BANJARNEGARA

Oleh Defri Werdiono

MALANG, KOMPAS — Tim gabungan masih berupaya mencari korban yang dilaporkan hilang dalam bencana tanah longsor di dua lokasi berbeda di Kabupaten Banjarnegara dan Cilacap, Jawa Tengah. Curah hujan yang tinggi jadi salah satu pemicu bencana selain faktor lain seperti kondisi tanah.

Di Banjarnegara, longsor terjadi di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Sabtu (15/11/2025) sore, lalu longsor besar terjadi pada Minggu (16/11/2025). Sementara di Cilacap, longsor menerjang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025) malam.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, dalam keterangan pers, Senin (17/11/2025), memaparkan, pihaknya menerima laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara ada 27 warga yang belum diketahui nasibnya.

”Dilaporkan 27 jiwa yang belum bisa dihubungi, tentu kita harap kepada aparat desa, kelurahan, babinsa (bintara pembina desa), babinkamtibmas (Bhayangkara Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) bisa segera mengonfirmasi. Harapannya, (27 jiwa) ini bukan korban, tetapi sudah mengungsi secara mandiri atau tidak berada di lokasi,” ujarnya.

Tercatat 2 orang meninggal, 2 orang terluka, dan 823 jiwa mengungsi akibat longsor di Banjarnegara. Lokasi pengungsian berpusat di tiga lokasi, yakni Kantor Kecamatan Pandanarum, GOR Desa Beji, dan Gedung Haji Desa Pringamba.

Menurut Muhari, berdasarkan data sementara ada 30 rumah yang rusak berat dalam peristiwa di Banjarnegara. Tim BNPB tengah melakukan pemetaan menggunakan drone dan mencocokkannya dengan data satelit guna mengidentifikasi lebih detail daerah terdampak.

Foto drone lokasi dua hari pascabencana longsor di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (17/11/2025).

Salah satu warga Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara, Dwi Lestari (45), saat dihubungi terpisah, menuturkan, curah hujan di wilayahnya dalam beberapa hari terakhir terbilang cukup tinggi.

Hujan deras biasa turun pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, lalu berangsur reda. Namun, beberapa jam kemudian hujan lagi dan berulang hingga pagi. ”Seperti terjadwal mulai sekitar pukul 14.00, hujan deras lalu terang. Kemudian hujan lagi, terang lagi. Begitu sampai pagi,” ujarnya.

Meski demikian, curah hujan di setiap wilayah di Banjarnegara berbeda. Waktu hujan di kota berbeda dengan dataran yang lebih tinggi, seperti di Pandanarum. Menurut Dwi, curah hujan mulai meningkat sejak Sepatember 2025. Sepanjang musim kemarau (kemarau basah) tetap ada hujan, tetapi frekuensinya tidak begitu sering.

Longsor di Cilacap

Sementara itu, hingga hari kelima pascabencana, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan terus mencari dan mengevakuasi korban yang diduga masih tertimbun longsoran di Cilacap. Jumlah total korban meninggal 16 orang. Hingga Senin (17/11/2025) sore ada tujuh korban yang dinyatakan masih hilang.

Menurut Muhari, operasi yang dikoordinasikan oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) berlangsung mulai pukul 07.00 WIB. Tim gabungan melibatkan sekitar 520 personel, baik dari Basarnas, BNPB, BPBD, TNI, Polri, sukarelawan, dan potensi SAR. Dukungan 22 alat berat dan 18 anjing pelacak diharapkan bisa membantu akselerasi pencarian.

Selama empat hari pencarian, tim terkendala kondisi cuaca. Hujan deras membuat tim SAR mesti mempertimbangkan keselamatan personel. BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca hingga 4 sorti pada Minggu (16/11/2025). Hasilnya, cuaca pada Senin pagi di lokasi pencarian cerah sehingga upaya pencarian bisa lebih optimal.

Longsor mengubur dua belas rumah di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11/2025).

Adapun jumlah warga yang mengungsi sementara tercatat 106 orang dengan rincian 56 orang di Balai Desa Cibeunying dan 50 orang di MTs Cibeunying. BPBD Cilacap dan BNPB memastikan pelayanan dasar pengungsi terpenuhi melalui dapur umum.  

Selain korban jiwa, tercatat ada 16 rumah rusak berat, dengan rincian 8 unit di Dusun Cibuyut dan 8 unit di Tarukahan. Sementara 16 rumah lainnya terancam pergerakan tanah.

Menurut Muhari, di dekat ”mahkota” longsor juga terdeteksi rekahan-rekahan baru sehingga mengharuskan warga untuk relokasi, tak hanya mereka yang rumahnya sudah rusak, tetapi juga rumah lainnya yang berpotensi terdampak. Panjang bidang luncur longsoran di Cilacap memanjang sekitar 900 meter dengan beda tinggi 100 meter.

Pemerintah Provinsi Jateng telah menyiapkan lahan seluas 3,5 hektar. Masalah ini didiskusikan oleh Kepala BNPB dengan masyarakat.

”Karena tidak terlalu banyak, kurang dari 50 unit, biasanya dua bulan selesai. Namun, nantinya pada fase menunggu masyarakat akan diberi opsi dana tunggu hunian agar bisa mengontrak rumah Rp 600.000 per bulan per keluarga. Sampai mereka menghuni lokasi baru,” tuturnya.

Muhari mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi hujan dan lingkungan sekitar. Ada beberapa indikasi sebelum longsor terjadi, misalnya keberadaan rekahan tanah hingga posisi pepohonan di sekitar rumah apakah ada yang miring sebagai tanda hendak terjadi longsor.

Secara umum kondisi cuaca di Indonesia dalam eksposur awan cukup masif di Jawa Tengah dan Jawa Barat sisi selatan sepekan terakhir. Sementara itu, berdasarkan prakiraan cuaca pada dasarian 3 November, beberapa daerah, seperti Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Banten, Aceh, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Sumatera Utara, masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi.

Ekskavator mengeruk titik longsor di Desa Cibeunying, Sabtu (15/11/2025), untuk mencari korban hilang dalam bencana longsor di desa yang berada di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu.

”Untuk pekan berikutnya masih ada beberapa fenomena regional di Indonesia, seperti Gelombang Kelvin-Rossby, ini biasanya menjadi pemicu peningkatan curah hujan mulai lebat sampai ekstrem,” katanya. Muhari menyebut, untuk kewaspadaan, mesti berlanjut sampai Maret 2026 karena sekarang baru pada awal musim hujan.

Saat dihubungi secara terpisah, prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani, Semarang, Gempita Icky Dzikrillah mengatakan, secara umum selama sepekan terakhir wilayah Jateng barat daya dan wilayah pegunungan tengah terjadi hujan dengan intensitas bervariasi dari ringan hingga lebat. Wilayah Majenang, Kabupaten Cilacap, secara umum terpantau hujan lebar dalam tujuh hari terakhir.

Curah hujan tinggi, menurut Icky, bisa menjadi salah satu penyebab longsor. Namun, hujan sering kali bukan satu-satunya faktor. Curah hujan tinggi dapat memicu longsor karena air yang meresap membuat tanah jenuh, lebih berat, dan menurunkan kestabilannya, sekaligus menyebabkan erosi di lereng.

”Risiko meningkat jika hujan berlangsung lama dan kondisi lereng sebelumnya sudah lemah. Dalam keadaan seperti ini, hujan menjadi pemicu utama terjadinya longsor. Namun, longsor juga dipengaruhi oleh kondisi lereng yang terjal, jenis tanah atau batuan yang mudah lapuk, serta kerusakan lahan akibat aktivitas manusia,” tuturnya.

Getaran dan keberadaan retakan atau bidang lemah dalam batuan, menurut dia, juga dapat memicu pergerakan tanah sehingga lereng menjadi semakin rentan saat hujan turun.

Sampai kapan curah hujan meningkat? Icky menjelaskan bahwa curah hujan akan meningkat hingga mencapai puncak musim hujan. Adapun puncak musim hujan pada setiap daerah berbeda. Untuk wilayah Jateng variasi puncak hujan terdapat pada November 2025-Februari 2026.

Disinggung soal dua bibit siklon tropis yang aktif di wilayah Indonesia, yakni 97S dan 98S, Icky menjelaskan bahwa kedua sistem tersebut terbentuk 14 November 2025 dan memiliki potensi secara tidak langsung untuk memicu cuaca ekstrem pada hari-hari setelahnya, seperti hujan lebat dan angin kencang di wilayah Jateng, terutama untuk bibit siklon 97S.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul