Empat Faktor Eksternal Penyebab Depresiasi Rupiah di Awal 2026

Rupiah pada awal 2026 langsung mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Apa yang terjadi? Apa penyebabnya?

16 Jan 2026 19:56 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)

Oleh FX Laksana Agung Saputra

Menjelang akhir 2025, rupiah sudah tertekan. Merujuk data Bank Indonesia, rupiah pada 31 Desember 2025 ditutup pada kurs Rp 16.670 per dolar AS atau melemah dibandingkan dengan kurs rata-rata sepanjang 2025. Di saat yang sama, indeks dolar AS terhadap enam mata uang negara utama perekonomian dunia (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF) juga menguat ke level 98,32.

Pada 2 Januari 2026, rupiah dibuka pada kurs Rp 16.680 terhadap dolar AS. Selanjutnya, kurs rupiah bergerak fluktuatif dengan tren melemah di kisaran Rp 16.700-Rp 16.900. Per 14 Januari, kurs rupiah ditutup pada Rp 16.855 per dolar AS. Sehari kemudian, kurs rupiah dibuka pada Rp 16.840 per dolar AS.

Reuters melaporkan, indeks dolar AS—mengukur dolar terhadap sejumlah mata uang global—stabil di 99,36. Artinya, dolar AS cenderung menguat secara luas terhadap mata uang lain. Dengan demikian, pelemahan mata uang terhadap dolar AS merata, tidak hanya terjadi pada rupiah.

Pertanyaannya kemudian, apa faktor eksternal yang menyebabkan depresiasi rupiah di awal 2026 tersebut?

(FILES) A vendor counts Venezuelan bolivar and US dollar banknotes at La Hoyada market in Caracas on December 23, 2025. On December 31, 2025, the Central Bank of Venezuela (BCV) valued the dollar at 301.37 bolivars (Venezuelan currency), a price valid until January 2, representing an increase of 479.25% compared to the 52.02 bolivars set by the issuing entity at the beginning of 2025. (Photo by Federico PARRA / AFP)

1. Pengangguran di AS berkurang

Merujuk pemberitaan Reuters, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian di Amerika Serikat turun 9.000 klaim menjadi 198.000 klaim secara musiman pada pekan yang berakhir 10 Januari 2026. Artinya, jumlah pengangguran di AS berkurang pada periode itu.

Laporan ketenagakerjaan pada Jumat untuk Desember 2025 menunjukkan tingkat pengangguran turun lebih besar daripada perkiraan ekonom, menjadi 4,4 persen.

Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan jumlah klaim mencapai 215.000 untuk periode tersebut. ”Kita berada di batas bawah kisaran,” kata Lou Brien, analis strategi di DRW Trading.

Ketika lapangan kerja menguat, tekanan kepada The Fed untuk menurunkan suku bunga berkurang. Dampaknya, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tetap tinggi sehingga menarik bagi investor. Dengan demikian, investasi dalam dolar menjadi menarik.

US Federal Reserve Chair Jerome Powell speaks at a news conference at the Federal Reserve headquarters, following the Federal Open Market Committee (FOMC) meeting in Washington, DC, on September 17, 2025. The US Federal Reserve on Wednesday lowered interest rates for the first time this year, flagging slower job gains and risks to employment as policymakers face heightened pressure under President Donald Trump. The Fed cut the benchmark lending rate by 25 basis points, to a range between 4.0 percent and 4.25 percent, while penciling in two more cuts this year. Only new Fed Governor Stephen Miran voted against this decision, preferring a larger rate reduction. (Photo by Jim WATSON / AFP)

2. Inflasi di AS masih bandel

The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga dan mencapai tingkat ketenagakerjaan maksimum. Inflasi di AS masih bandel. Dengan situasi ini, pasar memperkirakan The Fed cenderung mempertahankan suku bunga acuan yang ada ketimbang memangkas dalam waktu dekat.

Mengutip laman Federal Reserve Kansas, Presiden Federal Reserve Kota Kansas Jeff Schmid, Kamis, menyebut, inflasi masih terlalu tinggi. Laju inflasi di sekitar 3 persen, di atas target Federal Reserve 2 persen.

Penutupan pemerintahan pada 2025, ia melanjutkan, mengganggu pengumpulan data resmi. Meskipun aliran data telah kembali normal, dampak penutupan tersebut terhadap kualitas data kemungkinan akan terus terasa hingga awal 2026. Meski demikian, data yang tersedia saat ini, termasuk rilis Indeks Harga Konsumen untuk Desember 2025, konsisten dengan tingkat inflasi yang tetap mendekati 3 persen.

”Saya melihatnya begini, tugas Federal Reserve adalah menetapkan suku bunga untuk menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan di seluruh perekonomian. Dan, indikator terbaik dari keseimbangan tersebut adalah tingkat inflasi secara keseluruhan. Ketika inflasi terlalu tinggi, harga-harga memberikan sinyal bahwa pertumbuhan permintaan melampaui pertumbuhan penawaran. Inflasi telah berada di atas target The Fed sebesar 2 persen selama lebih dari empat tahun. Saya tidak melihat adanya ruang untuk bersikap lengah,” katanya.

An aerial view of a container terminal in Shanghai, China, Monday, Dec. 8, 2025. (Chinatopix Via AP) Foto aerial terminal peti kemas di Pelabuhan Shanghai, China, Senin (8/12/2025). Ekspor China kembali mencatatkan pertumbuhan pada bulan November setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya, karena masih terimbas perang dagang AS-China.

3. Kesenjangan imbal hasil

Bank sentral lain (seperti Bank Sentral Eropa/ECB dan Bank of Japan) tidak memperketat ataupun melonggarkan kebijakan moneter dengan laju yang sama seperti The Fed. Kebijakan ini menciptakan divergensi kebijakan moneter. Sebagai contoh, yen Jepang berada di dekat level terendah dalam beberapa bulan akibat perbedaan prospek kebijakan moneter, yang mendorong penguatan pasangan USD/JPY.

Ketika satu bank sentral utama menahan atau memperketat kebijakan sementara bank sentral lain bersikap lebih dovish, mata uang dari negara dengan kebijakan yang relatif lebih ketat cenderung menguat. Dovish adalah istilah dalam kebijakan moneter yang menggambarkan sikap bank sentral atau pejabat moneter yang cenderung longgar dan mendukung pertumbuhan ekonomi meski berisiko mendorong inflasi.

Mengutip Reuters, Kepala ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Philip Lane mengatakan, ECB tidak berencana mengubah suku bunga dalam waktu dekat selama ekonomi masih berjalan stabil. Namun, jika muncul guncangan baru—misalnya Fed bertindak berbeda dari mandatnya—maka prospek ekonomi bisa terganggu.

Sejak Juni 2025, ECB mempertahankan suku bunga setelah seri pemotongan suku bunga yang cepat. Pada Desember 2025, ECB menegaskan bahwa mereka tidak terburu-buru mengubah kebijakan. Pertimbangannya, pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat dan inflasi diperkirakan akan tetap stabil di sekitar target 2 persen selama beberapa tahun ke depan.

Infografik Perkembangan Peran Dollar dalam Transakasi Global

 

4. ”Safe haven” dan ketidakpastian

Dalam pasar keuangan global dikenal istilah safe haven. Ini merujuk pada aset yang cenderung bertahan atau bahkan meningkat nilainya saat terjadi ketidakpastian, krisis, atau pasar bergejolak. Investor akan beralih ke aset ini untuk melindungi modal ketika risiko meningkat.

Aset yang termasuk kategori ini, antara lain, dolar AS, emas, obligasi Pemerintah AS, serta yen Jepang dan franc Swiss. Aset jenis mata uang masuk kategori ini jika pemerintahan di mana mata uang negara tersebut dicetak stabil, institusinya kuat, dan kebijakan moneternya bisa diprediksi. Aset tersebut juga harus mudah diperjual-belikan dalam volume yang besar dengan harga relatif stabil atau tetap.

Ketegangan di Timur Tengah, Venezuela, dan Laut Hitam telah mendorong harga miyak ke level tinggi karena kekhawatiran gangguan pasokan. Reuters melaporkan, protes di Iran, ancaman intervensi AS, dan serangan terhadap kapal tanker telah membuat harga minyak mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Sebab, pasar khawatir terjadi gangguan pasokan minyak.

Ketika risiko meningkat, dolar AS sering menguat terhadap mata uang lain karena dianggap lebih aman untuk investasi.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati