50 Tahun Pasar Seni Ancol: Cak Lontong, Tolong!

Pada 2025 Pasar Seni Ancol berusia 50 tahun. Namun, sejak 20 tahun silam wahana seni legendaris ini mati suri.

11 Mei 2025 15:00 WIB · Opini

Oleh Agus Dermawan T

Pada suatu hari Minggu di kwartal pertama 2025 Pasar Seni Ancol menggelar acara untuk puluhan sekolah taman kanak-kanak. Alangkah meriahnya arena PSA! Namun, ternyata kios-kios para seniman yang ada di PSA tetap sepi-sepi saja.

”Ratusan orangtua dan guru yang membimbing anak-anak itu tidak membawanya ke kios-kios seni di sini. Padahal, kami tuan rumahnya. Ibaratnya kami adalah penduduk asli kampung ini, yang wilayahnya dijadikan ajang pesta,” kata penjaga kios kerajinan di Pasar Seni Ancol (PSA).

Namun, harus diakui, serakan kios PSA itu sudah tidak menarik untuk dikunjungi. Dari sekitar 30 kios yang dinyatakan aktif, sisa dari sekitar 160 kios yang pernah ada, hanya sekitar sepuluh yang dijaga pemiliknya. Dari sepuluh kios itu hanya empat saja yang berpraktik kerja seni, aktivitas yang menjadi subyek tontonan utama di PSA.

Menghilangnya para seniman yang berpraktik bukanlah lantaran kemalasan atau keengganan, melainkan didorong oleh berbagai persoalan yang mendasar. Sejak 20 tahun silam PSA serta-merta surut pamor. PSA sangat sepi dari pengunjung. Munculnya ruang pamer di berbagai penjuru Jakarta dianggap sebagai salah satu penyebab.

<p>*** Local Caption *** Joget HUT Jakarta &#8212; Gubernur DKI Jakarta, Surjadi Soedirdja, pada pergantian hari Senin (21/6) tengah malam ke Selasa (22/6) dini hari, seakan ingin menghilangkan kepenatan rutinitas kerja sehari-hari. Dalam rangkaian acara HUT Jakarta ke-466 di panggung terbuka Pasar Seni, Ancol, gubernur sempat bernyanyi dan berjoget bersama Ketua DPRD DKI Jakarta, MH Ritonga, serta unsur Muspida DKI Jakarta lainnya, seperti Pangdam Jaya, Mayjen TNI AM Hendropriyono dan Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Drs Moch Hindarto beserta nyonya. Pada acara yang dihadiri sekitar 2.000 warga Jakarta itu, Ny Surjadi Soedirdja mengalunkan jali-jali, mengiringi joget Surjadi Soerdjadi, para pejabat, dan artis ibu kota.</p><p>Terkait berita di Kompas, 23 Juni 1993, 7.<br />Judul Amplop : Ulang Tahun Jakarta 466</p>

Bayangkan, apabila dahulu pada 1980-an, ketika PSA mengibarkan kiprahnya, di Jakarta hanya ada lima galeri, memasuki tahun 2000 sudah ada sekitar 30 galeri. Ketika melewati dekade pertama tahun 2000, di Jakarta sudah berdiri tak kurang dari 60 galeri, yang berupa art space, art house, ataupun art room.

Semua institusi seni rupa di luar PSA itu hadir dengan sofistikasi dan modernitasnya. Ruangannya terang, sejuk dan wangi. Lantainya klimis, dengan tampilan interior yang menawarkan gaya hidup masa kini. Sementara PSA tetap dibiarkan bercokol di ruang terbuka, dengan terpaan angin laut yang semakin hari semakin kurang berkompromi. Pengunjung PSA juga harus siap untuk berpanas dan berhujan ria ketika di sana.

PSA memang sudah ketinggalan sepur (kereta api), kata banyak orang. Itu disadari oleh warga PSA sendiri semenjak memasuki tengah dekade pertama abad ke-21. Para seniman ternama yang ada di situ hengkang sama sekali atau hilang-muncul seperti hantu. Padahal, nama-nama itu adalah bintang yang sangat menjunjung martabat PSA.

Simak nama Cubung Wahono Putro, Sukamto Dwi Susanto, Sapto Sugiyo Utomo, yang beberapa kali memenangi kompetisi nasional, seperti Indonesia Philip Morris Art Awards, Indofood Art Awards, dan Jakarta Art Awards. Perhatikan nama Hatta Hambali, Kanten Tjokot, Harlim, Nisan Kristiyanto, Mansyur Mas’ud, GM Sudarta, Pramono, Johnny Hidayat, sederet seniman yang memberikan aksen fenomenal dalam seni rupa Indonesia.

Bahkan, di arena ini pernah aktif pelukis masyhur angkatan Persagi 1938 dan 1945: Agus Djaya, Otto Djaya, sampai Harijadi Sumodidjojo. Juga angkatan 1960, seperti Amrus Natalsya, Abas Alibasyah, serta IB Said, sang pelukis tamu agung negara.

Mencurigai sebutan ”pasar”

Namun, tidak berarti manajemen PSA selalu berdiam diri menghadapi tantangan zaman yang bikin ngeri dan kempis. Ketika Budi Karya Sumadi duduk sebagai komisaris PT Pembangunan Jaya, PSA diupayakan menggeliat dalam modernitas. Pada 2009, misalnya, Budi merombak Galeri Jaya Ancol yang terletak di sumbu PSA menjadi North Art Space alias NAS, yang di dalamnya mengolah art academy. Dasar perombakan itu adalah dua hal.

Pertama: kepercayaan diri, yang diberangkatkan dari fakta sejarah. Misalnya, betapa pada masa lalu dan masa sekarang PSA memiliki segudang seniman yang reputasinya membanggakan, seperti nama-nama di atas. Kedua, kesadaran untuk mengikuti zaman, yang ditolakkan dari realitas yang merundung. Yakni, betapapun para perupa PSA memiliki reputasi hebat, istilah ”pasar” menjadi beban yang terus dipikulnya.

Arus informasi era global memang mengajarkan bahwa kini segala produk harus tersuguh dengan ”kecanggihan kemasan”. Adapun PSA yang hadir dengan konsep ”pasar tradisional” dirasa ketinggalan kereta. Apalagi, secara salah kaprah kata ”pasar” dikonotasikan sebagai area penjualan barang yang harga dan mutunya rendah. Dari sini PSA menyadari bahwa kemasan ”pasar tradisional” yang berupa kios barang seni sungguh tampak kurang ngetrend.

Namun, pengembangan manajemen citra itu mandeg di tengah jalan setelah Budi Karya Sumadi diangkat jadi pimpinan PT Jakarta Propertindo, Angkasa Pura II, dan akhirnya Menteri Perhubungan. Kemerosotan segala aspek PSA dari tahun ke tahun semakin nyata.

Padahal, PSA punya masa lalu yang unik dan gemilang. Pasar ini mulai dioperasikan pada 1975 dengan diilhami Art Fair ITB. Sementara Art Fair ITB diinspirasi pasar seni Montmartre, Paris. Pasar seni di Ancol yang disebut ”Bazar Seni Rupa” itu dihelat selama tiga hari dalam setiap bulan purnama, di depan wahana Gelanggang Samudera. Para seniman berpraktik serta berjualan di kios beratap rumbia, dengan lantai yang masih tanah. Setahun kemudian, lantaran minat masyarakat luar biasa, bazar ini diperpanjang jadi tujuh hari.

Pada 1977, Ir Ciputra, sang penggagas, membuat bazar berlangsung setiap hari di sepanjang bulan. Nama Pasar Seni Ancol pun dideklarasikan oleh Gubernur Ali Sadikin. Pada awal 1982 kios-kios itu diperbaiki sehingga semakin nyaman. Pada sekitar 1986 direnovasi lagi jadi lebih artistik, dengan atap terbuat dari kayu ulin dan lantai mengkilat dan licin.

”Pasar Seni Ancol sekarang permanen. Ini jauh lebih bagus dibanding Montmartre, yang tidak berkios dan remanen,” ujar Ciputra.

Malam Muda Mudi dalam HUT Jakarta ke-456 di lima wilayah. Penduduk Jakarta pun, terutama para remaja, membanjiri Taman Impian Jaya Ancol yang mengadakan Malam Muda Mudi.
Payung warna-warni yang digunakan untuk menghias jalan masuk Pasar Seni, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.
Diskusi sejarah kawasan Marunda di Wall of Frame Betawi, Kampung Betawi Pasar Seni, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (21/7/2018).

Kunjungan tamu negara

Ketika pertama berdiri, PSA (baca: Bazar Seni Rupa) memiliki sekitar 25 kios, yang diisi oleh puluhan seniman dan perajin dari luar Jakarta. Pada tengah 1990-an pasar seni ini sudah memiliki hampir 120 kios, sampai akhirnya jadi sekitar 160 kios menjelang tahun 2000. Ramai sekali!

Pada masa jayanya, PSA sungguh menjadi pusat perhatian seniman dan masyarakat penggemar wisata seni. Meski untuk berkunjung ke sini setiap orang harus membayar tiket Taman Impian Jaya Ancol yang tak murah bilangannya.

Potensi seniman dan atraksi kesenimanan itu menarik pengunjung berbagai level. Tamu-tamu negara yang melakukan kunjungan kenegaraan acap digiring ke PSA oleh para menteri dan nyonya pejabat tinggi. Catat nama Lee Kuan Yew dari Singapura sampai selebritas Ratna Sari Dewi. Juga Pangeran Benhard dan Ratu Yuliana dari Belanda, yang diantar oleh Karlinah, istri Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah. Bahkan, mereka bersama sempat menerakan tanda tangan dalam lukisan besar peristiwa tenggelamnya kapal Tampomas II pada 1981, yang dikerjakan oleh para seniman PSA.

Di PSA lah terwujud pertemuan Basoeki Abdullah dan Sudjojono, dua tokoh legendaris seni rupa Indonesia yang puluhan tahun berseteru. Di PSA tergelar pertama kali festival seni eksperimental dan happening art, yang membuka mata publik bahwa seni ternyata bisa berbentuk ”kejadian”.

Untuk panggung pertunjukan, PSA punya program rutin Friday Jazz Nite. Di sini pemusik dan penyanyi Utha Likumahua, Vonny Sumlang, Abadi Soesman sampai Elfa Secioria acap tampil menggemparkan. Pengamat musik mencatat, di sini pula grup musik Karimata, Bhaskara dan Halmahera menemukan pemujanya.

Di PSA berbagai diskusi seni penting diadakan, dari sejarah seni, perdagangan seni, kritik seni, sampai gambar sampul kaset. Pembicaranya tak main-main: Affandi, Henk Ngantung, Fuad Hassan, Titiek Puspa, Mus Mualim, Kusnadi, Sudarmaji. Di PSA pula kompetisi seni ”langka” digelar, seperti Reog Ponorogo, dengan penilai di antaranya Hartini Sukarno. Dan jangan lupa, di PSA pula terjadinya peristiwa gaib nan heboh: Mbah Broto melukis Si Maryam Jembatan Ancol.

Namun, itu PSA masa lalu. Sementara kita akan mengelus dada melihat PSA sekarang, yang kondisinya seperti bekas kampung tua ditinggal penduduknya. Bahkan, ada bagian yang mirip reruntuhan perang di Ukraina. Sepertinya, tak ada orang yang bisa mengurus. Padahal, PSA adalah oase besar bagi masyarakat yang sudah disesaki hatinya dan dibisingi telinganya oleh problem sosial dan politik.

Cak Lontong usai memandu acara di Mabes TNI AU, Cilangkap, Senin (30/12/2024)

Pada 26 April 2025 lalu PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk menggelar rapat umum pemegang saham tahunan. Sidang itu mengangkat Lies Hartono, budayawan dan komedian brilian yang kesohor dengan nama Cak Lontong, sebagai salah satu komisaris. Dari pengangkatan itu muncul harapan besar agar Cak Lontong bisa memberi gagasan dan dorongan agar direksi Taman Impian Jaya Ancol serius memikirkan PSA. Menghidupkan kembali PSA dengan apa pun caranya. Apakah mengaktualisasi dengan cara-cara baru, atau memodernisasi segalanya dengan rias pasar yang selaras waktu. Atau bahkan ”menebang habis” untuk diganti dengan hambaran kebun seni yang baru.

Banyak yang meyakini Cak Lontong bisa mengombinasikan idealisme Ciputra sang pendiri dan semangat modernisasi Budi Karya Sumadi. Cak Lontong, tolong!

Agus Dermawan T Seniman dan budayawan


Kerabat Kerja

Penulis:

Agus Dermawan T
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra