TNI AU menyiapkan 52 alutsista untuk ikut serta memeriahkan peringatan HUT Ke-80 RI di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus nanti.
13 Agt 2025 19:49 WIB · Politik & Hukum
Gemuruh pesawat tempur membelah langit Jakarta, Rabu (13/8/2025). Dari kejauhan terlihat pesawat tempur itu terbang membentuk formasi terbang lintas. Tidak berapa lama, terlihat helikopter terbang membawa bendera berlogo HUT Ke-80 RI hingga bendera merah putih.
Hari Rabu, Istana Kepresidenan Jakarta menggelar gladi kotor perayaan HUT Ke-80 RI. Pesawat-pesawat itu berlatih sebelum menampilkan beragam atraksi di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para hadirin saat upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI, Minggu (17/8/2025).
Demi lancarnya acara, Istana menggelar gladi kotor sejak Selasa (12/8/2025). Menurut rencana, gladi kotor akan dilanjutkan dengan gladi bersih pada Kamis (14/8/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/d03069fd-cee4-4cb5-b641-aab97f00f904_jpg.jpg)
Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI Nyoman Suadnyana mengungkapkan, sebanyak 52 pesawat dan helikopter TNI AU yang tengah berlatih akan ikut serta dalam rangkaian peringatan HUT RI. Alutsista itu di antaranya 12 pesawat tempur F-16, lima pesawat T-50 Golden Eagle, enam pesawat Hawk 209, dan sembilan pesawat KT-1B. Ada pula empat helikopter Caracal, dua helikopter Super Puma, tiga helikopter Apache, tiga helikopter Panther, tiga helikopter AW-169, dan dua helikopter Dauphin.
Bukan hanya TNI AU, TNI AD, TNI AL, dan Kepolisian Negara RI (Polri) juga ikut serta meramaikan perayaan kemerdekaan. Alutsista yang akan tampil antara lain helikopter Apache dari TNI AD, helikopter Phanter dari TNI AL, helikopter AW-169 dari Polri, dan helikopter Dauphin dari Basarnas.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, persiapan peringatan HUT ke-80 RI kini sudah mencapai 70 persen. ”Masih ada beberapa hal yang harus kami perbaiki, terutama berkenaan dengan ketepatan waktu antara satu show dengan show yang berikutnya," tuturnya.
Menurut Prasetyo, perihal jeda waktu antara satu atraksi dengan atraksi lainnya masih perlu disempurnakan. Salah satu yang akan disempurnakan adalah jeda tampil antarpesawat supaya waktu dan koordinatnya lebih pas. Istana ingin atraksi pesawat tempur itu lebih bagus untuk ditonton.
Mensesneg memang mengawasi langsung persiapan dan gladi kotor yang digelar selama dua hari tersebut. Bukan hanya halaman Istana Merdeka, ia juga memeriksa fasilitas hiburan dan area publik di sekitar Monumen Nasional (Monas). Lokasi tersebut akan menjadi alternatif bagi masyarakat yang tidak mendapatkan akses untuk ke dalam kompleks Istana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/13/118729bf-1225-4ce0-b39c-0bab88c7b31e_jpg.jpg)
Istana menyiapkan beragam permainan untuk anak-anak yang hadir bersama orang tuanya. ”Intinya kami ingin semua warga yang datang ke Monas bisa merasakan semangat dan kegembiraan yang sama dengan mereka yang bisa mengikuti upacara di Istana,” tuturnya.
Bukan hanya itu, Istana juga menyiapkan pesta rakyat di Monas. Akan ada pula karnaval kemerdekaan yang dimulai Minggu petang, setelah upacara penurunan bendera usai.
Sementara itu, upacara penaikan bendera untuk peringatan Detik-detik Proklamasi akan dihadiri 8.000 undangan. Adapun pada upacara penurunan bendera di sore hari, sebanyak 8.000 undangan lain akan hadir.
Prasetyo menjelaskan semua warga harus mengambil undangan paling lambat 16 Agustus 2025 sore. Namun, diharapkan proses pengambilan tidak menumpuk di satu waktu.
Pada saat upacara, para undangan dapat memasuki Istana Merdeka lewat delapan pintu masuk yang disiapkan. Di antaranya gerbang Istana seberang Monas dan gerbang Istana di Jalan Juanda.
Para peserta upacara pun diminta untuk membaca undangan dan denah yang ditunjukkan. Setiap undangan juga akan menunjukkan dari pintu mana peserta bisa masuk. Pintu masuk itu, antara lain, gerbang Istana seberang Monas, gerbang di Jalan Juanda, dan lainnya.
”Kalau semua tertib, membaca, mengikuti panduan, akan lancar,” tambah Prasetyo.
Penulis:
Nina Susilo, Kurnia Yunita RahayuEditor:
Anita YossiharaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase