Banyak alat kesehatan yang rusak atau hilang di rumah sakit yang terdampak bencana di Sumatera. Stok obat-obatan pun menipis.
08 Des 2025 21:14 WIB · Kesehatan
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Sebanyak 65 rumah sakit yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh terkena dampak bencana banjir dan tanah longsor. Alat-alat kesehatan di sejumlah rumah sakit itu rusak, sedangkan stok obat menipis.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh Ferdiyus menuturkan, sebanyak 28 unit rumah sakit yang terdampak merupakan rumah sakit umum daerah (RSUD) milik pemerintah daerah. Adapun sebanyak 37 sisanya merupakan rumah sakit swasta.
Hingga Senin (8/12/2025), masih ada dua RSUD yang belum beroperasi, yakni RSUD Aceh Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang dan RSUD Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak di Kabupaten Aceh Timur.
Selain itu, ada tiga rumah sakit swasta yang belum beroperasi, yakni RS Pertamina Rantau di Aceh Tamiang, RS Ummi Langsa di Kota Langsa, dan RS Umum Premi Inti Medika di Kabupaten Aceh Utara.
Adapun total puskesmas yang terdampak bencana sebanyak 336 puskesmas. Dari jumlah itu, sebanyak 50 puskesmas belum bisa beroperasi. Akses transportasi ke sejumlah puskesmas juga belum bisa ditembus melalui jalur darat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/07/0d24d7ea02ab70419adeb1ec648a9165-20251207TOK33.jpg)
Menurut Ferdiyus, pemerintah sudah menugaskan 371 petugas kesehatan yang akan bekerja di sembilan rumah sakit yang terdampak bencana. Kendati begitu, banyaknya alat-alat kesehatan yang rusak atau hilang akibat bencana sehingga petugas medis pun kewalahan.
”Yang menjadi keluhan teman-teman yang ada di lokasi adalah tenaga kesehatan spesialis yang ditempatkan cukup, tetapi alat kesehatan tidak ada,” kata Ferdiyus saat menyampaikan perkembangan penanganan bencana di Aceh secara daring, Senin (8/12/2025).
Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Aceh terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk membuka akses transportasi ke puskesmas-puskesmas terdekat. Pemerintah juga mendirikan dua posko kesehatan di setiap kabupaten, yakni di RSUD dan dinas kesehatan setempat.
Selain alat kesehatan yang terbatas, tenaga medis juga khawatir dengan menipsinya stok obat. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mendistribusikan obat-obatan dan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk anak-anak, ibu hamil/menyusui, dan warga lansia. Distribusi dilakukan dilakukan melalui jalur darat agar bisa menjangkau kelompok rentan.
Tak hanya itu, petugas medis di lokasi bencana juga masih kesulitan mendapat mobil ambulans. Saat ini, petugas kesehatan memanfaatkan kendaraan milik instansi lain, misalnya mobil milik TNI/Polri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/94da116f904c8811f08c0dd58bca7c75-20251204TOK1.jpg)
Sementara itu, di sejumlah lokasi pengungsian, para korban bencana juga masih kesulitan mendapat air bersih serta fasilitas mandi, cuci, dan kakus. Kondisi ini membuat sejumlah penyakit, misalnya infeksi saluran pernapasan dan gatal-gatal, mudah menyebar.
Ferdiyus menambahkan, Dinas Kesehatan Aceh terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk penanganan bencana. Sejauh ini, pemerintah pusat membantu dengan mengirimkan bantuan obat-obatan.
Yang menjadi keluhan teman-teman yang ada di lokasi adalah tenaga kesehatan spesialis yang ditempatkan cukup, tetapi alat kesehatan tidak ada.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, hingga Senin ini, jumlah korban meninggal akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tercatat sebanyak 961 orang. Sementara itu, sebanyak 293 orang hilang.
Pada Senin ini, tim pencarian dan pertolongan yang dipimpin Badan SAR Nasional menemukan sebanyak 40 jenazah di tiga provinsi itu. Sebanyak 23 orang ditemukan di Aceh sehingga jumlah korban meninggal di wilayah itu bertambah menjadi 389 jiwa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/07/1097b5bb21a936bfcb980707196e6a2f-20251207TOK10.jpg)
Di Sumut, petugas menemukan 9 jenazah sehingga korban meninggal di provinsi itu bertambah menjadi 338 jiwa. Sementara itu, di Sumbar ditemukan 8 jasad sehingga korban meninggal bertambah menjadi 234 jiwa. Adapun jumlah pengungsi yang terdata sebanyak 1.057.482 jiwa.
Sekretaris Daerah Aceh M Nasir mengatakan, Pemerintah Aceh bekerja sama dengan sejumah instansi untuk mempercepat dan memastikan bantuan tiba tepat sasaran. Distribusi logistik, meliputi pangan dan obat-obatan, diprioritaskan via udara untuk menjangkau wilayah yang terisolasi akibat akses darat terputus.
”Distribusi kami fokuskan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Kota Langsa. Di daerah tersebut kita sudah mendirikan tenda-tenda darurat, dapur umum serta posko-posko layanan medis,” kata Nasir.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase