Peringatan Hari Nelson Mandela dirayakan dengan memasak bersama dan dibagikan ke masyarakat.
21 Jul 2025 15:45 WIB · Internasional
Puluhan koki Afrika Selatan, juru masak komunitas, juru masak katering, dan mahasiswa kuliner bergabung pada hari Jumat (18/7/2025), di Johannesburg untuk membuat 67.000 liter. Nantinya, sup akan dibagikan untuk memberi makan masyarakat yang lapar, dalam rangka merayakan Hari Nelson Mandela.
Sejak pertama kali diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2009, Hari Internasional Nelson Mandela telah mendorong orang-orang untuk memperingati hari ulang tahun dan warisan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan itu. Peringatan diisi dengan menjadi sukarelawan selama 67 menit. Angka 67 diamblil dari lama tahun pengabdian publik Mandela.
Nelson Mandela yang lahir pada 18 Juli 1918 di desa Mvezo, Afrika Selatan, adalah nama yang sangat populer di Afrika, bahkan di dunia. Perjuangannya mengakhiri politik apartheid menjadikan Mandela sangat dihormati. Bersama Presiden Afrika Selatan FW de Klerk, Mandela mendapatkan hadiah nobel di tahun 1993 atas upaya mereka mengakhiri apartheid. Nelson Mandela meninggal dunia pada tanggal 5 Desember 2013.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/a3449f85-0628-4b4e-a2eb-1be5f245962a_jpg.jpg)
Untuk memperingati hari ulang tahun mantan kepala negara Afrika Selatan itu, para juru masak di seluruh negeri membuat sup di dapur mereka masing-masing maupun secara bersama-sama sebagai bentuk kontribusi dalam mencapai target tersebut.
Di Sekolah Seni Kuliner yang berbasis di Johannesburg, para juru masak memotong sayuran, menambahkan kacang-kacangan, dan menaburkan beragam bumbu untuk membuat sup yang lezat. Mereka merebus kaldu dari pagi hingga pukul 17.30, saat penghitungan sup terakhir dimulai.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/b4764177-577d-4b67-8bca-7898a5aeb1f3_jpg.jpg)
"67.000 liter itu, itu perkiraan kami untuk 67 menit," kata kepala koki dan ketua LSM Chefs with Compassion, James Khoza.
"Saya membuat sup miju-miju dengan sayuran dan sedikit potongan ayam di dalamnya. Ini bukan sup biasa di mana semua bahan direbus, lalu diolah menjadi sup. Saya memperhatikan rasa dan kualitasnya,” tambahnya.
Setiap tahun, warga Afrika Selatan menyumbangkan waktu mereka pada tanggal 18 Juli, membersihkan ruang publik, membantu di sekolah atau rumah sakit, atau melakukan pekerjaan kemanusiaan dan memberikan sumbangan. Bagi Chefs with Compassion, sebuah organisasi nirlaba yang berupaya memerangi kelaparan dan pemborosan makanan, kegiatan penggalangan dana makanan ini merupakan “perang melawan pemborosan makanan dan memasak secara boros”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/995b39bb-610d-4fd6-8a2e-63d311619909_jpg.jpg)
"Saya tahu terkadang orang-orang cenderung memberi mereka apa pun yang mereka mau, tetapi orang-orang seperti kami yang bekerja di bisnis perhotelan. Kami paham bahwa yang harus kami berikan kepada orang-orang haruslah berkualitas tinggi, yang membuat mereka merasa berharga karena memang mereka memang berharga," tambah Khoza.
Tahun ini menandai tahun keenam mereka menyelamatkan sisa makanan dari petani dan toko yang biasanya terbuang. Para koki justru memanfaatkannya untuk membuat sup dalam jumlah besar yang akan mereka bagikan kepada ribuan warga Johannesburg yang mengalami kerawanan pangan. Sebagai bagian dari upaya sekolahnya untuk menambahkan 300 liter sup ke 67.000 liter yang menjadi target kolektif, Tyra Nyakudya, seorang mahasiswa berusia 18 tahun, menghabiskan sebagian besar harinya memotong sayuran dan mengawasi panci sup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/2af9804d-eecf-4581-9623-f226795c3f43_jpg.jpg)
Nyakuda baru berusia enam tahun ketika negarawan tersebut meninggal dunia pada tahun 2013. Namun, ia mengatakan warisan kasih sayang dan pengabdiannya tetap dikenang. ”Ia telah melakukan segala daya upaya untuk memberi kembali kepada masyarakat, itulah sebabnya kita melakukan ini hari ini,” ujarnya.
Afrika Selatan merupakan salah satu produsen pangan terkemuka di Afrika, tetapi laporan Survei Keamanan Pangan dan Gizi Nasional (NFNSS) 2024 menemukan bahwa 63,5 persen rumah tangga di Afrika Selatan mengalami kerawanan pangan. Ini artinya lebih dari 20 juta orang tidak memiliki makanan setiap hari, sedangkan di sisi lain sekitar 10,3 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya. Hal ini terutama disebabkan oleh kemiskinan, pengangguran, dan kenaikan harga pangan, yang diperburuk oleh faktor-faktor seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/21/1fa9cd45-4274-47f3-b9be-f51645432f91_jpg.jpg)
Hanneke Van Linge, kepala Nosh Food Rescue, mengatakan, angka-angka tersebut menggambarkan bahwa pemborosan makanan dan kelebihan makanan merupakan masalah besar. Hal itu seharusnya menjadi perhatian warga setiap hari.
“Ada banyak energi indah seputar Hari Mandela. Namun, kami ingin mengimbau masyarakat, jangan biarkan keterlibatan Anda hanya terbatas pada Hari Mandela,” katanya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan Setiyawan