Belum ada keterangan terkait kondisi terkini dari tujuh pekerja yang terjebak aliran material basah selama sepekan di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia.
16 Sep 2025 12:47 WIB · Lingkungan
JAYAPURA, KOMPAS — Proses evakuasi tujuh pekerja PT Freeport Indonesia yang terjebak di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, masih terus berlangsung, Selasa (16/9/2025). Belum ada keterangan terkait kondisi terkini dari para pekerja yang telah terjebak aliran material basah selama sepekan ini.
Hingga Selasa siang, proses evakuasi masih terus dilakukan oleh PT Freeport Indonesia. Proses evakuasi telah berlangsung sejak insiden terjadi pada Senin (8/9/2025) sekitar pukul 22.00 WIT.
”Saat ini proses sedang berlangsung. Evakuasi dilakukan dari internal PT Freeport Indonesia. Namun, kami tetap stand by,” kata Kepala Subseksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Timika Charles Y Batlajery.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/16/21cdffe4-d69d-4d22-a2fa-d4669377a7a0_jpeg.jpeg)
Evakuasi dilakukan oleh tim tanggap darurat PT Freeport Indonesia. Upaya ini juga dilakukan bersama tim dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Manusia untuk menentukan langkah terbaik dalam penyelamatan.
Sejak awal proses evakuasi, tim tanggap darurat terkendala material basah yang menutup sejumlah akses. Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Katri Krisnati mengatakan, tim penyelamat terus berupaya membuka akses sembari memulihkan akses komunikasi.
”Tim penyelamat bekerja tanpa henti untuk membuka akses menuju lokasi keberadaan karyawan meski terus-menerus menghadapi tantangan besar dan risiko keselamatan tinggi,” ujar Katri dalam keterangannya.
Namun, pihak PT Freeport Indonesia belum merinci terkait kondisi terkini para pekerja yang terjebak. Hingga saat ini, operasi pertambangan dihentikan sementara.
”Kami mengajak seluruh pihak untuk mendoakan kelancaran operasi dan keselamatan tim yang bertugas di lapangan,” ujar Katri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/16/5cabd570-0e66-4869-b104-85489fdff427_jpeg.jpeg)
Titus Pekei Agiyadokii, pegiat Ekologi dan Kemanusiaan dari Yayasan Noken Papua, mempertanyakan insiden dan proses evakuasi di tambang Freeport. Ia menyayangkan insiden terjangan lumpur material tidak bisa diantisipasi oleh perusahaan.
Menurut Titus, perusahaan sebesar PT Freeport Indonesia seharusnya memiliki desain untuk mitigasi lebih dini ketika insiden atau kecelakaan di tambang bawah tanah.
”Kenapa lumpur besar itu tidak tidak diperhitungkan sebelum tambang itu dibuka? Lumpur sebesar itu sudah masuk dalam desain tambang?” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/ce39123769591172cd43428f391b1e69-_RAD8271.jpg)
Dihubungi terpisah, Ketua Indonesian Mining Institute Irwandy Arif turut memberi tanggapan terkait insiden di tambang bawah tanah Freeport. Menurut Irwandy, pertambangan bawah tanah tentu memiliki berbagai potensi risiko kecelakaan.
Dia menduga, aliran lumpur ini berasal dari sisa-sisa material pertambangan Freeport yang menggunakan metode block caving. Dengan teknik ini, sisa dari batuan yang diruntuhkan dari atas kemungkinan terakumulasi dengan air yang membentuk lumpur dalam jumlah besar.
“Hal seperti ini, kan, sebelumnya belum pernah terjadi. Ini dugaan saya, mungkin ada bagian terowongan yang retak kemudian aliran air yang masuk. Bisa jadi air hujan dari atas atau kemungkinan juga dari air tanah,” ujarnya.
Tim penyelamat bekerja tanpa henti untuk membuka akses menuju lokasi keberadaan karyawan meski terus-menerus menghadapi tantangan besar dan risiko keselamatan tinggi.
Tim penyelamat bekerja tanpa henti untuk membuka akses menuju lokasi keberadaan karyawan meski terus-menerus menghadapi tantangan besar dan risiko keselamatan tinggi.
Namun, Irwandy memuji komitmen PT Freeport Indonesia dalam upaya evakuasi secara total. Perusahaan mengerahkan berbagai kekuatan terbaik untuk menyelamatkan para pekerja.
Di sisi lain, upaya yang telah dilakukan lebih sepekan ini memang bukan tanpa hambatan. Misalnya saja, kata Irwandy, tidak muda untuk membersihkan lumpur material di dalam terowongan bawah tanah dengan jumlah hingga ratusan ribu ton.
Penulis:
Nasrun KatingkaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan