Catatan redaksi: artikel ini telah diperbarui dengan pandangan China tentang peringatan Konferensi Asia Afrika
KUALA LUMPUR, RABU-China memandang penting semangat Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan 70 tahun lalu. Warisan semangat konferensi itu penting di tengah guncangan tatanan global sekarang.
Pandangan itu disampaikan terpisah oleh Presiden China Xi Jinping dan pengusaha China di Malaysia, Andy Heng. Xi menyampaikan dalam artikel yang diterbitkan di sejumlah media Malaysia. Sementara artikel Heng diterbitkan China Daily pada Rabu (16/4/2025).
Pada 15-17 April 2025, Xi melawat ke Malaysia. Setelah itu, ia akan mendatangi Kamboja. Adapun pada 14-15 April 2025, Xi diterima di Vietnam.
Dalam artikelnya, Xi menyebut bahwa 2025 menandai 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Sembari mengingat warisan konferensi yang digelar di Bandung, Jawa Barat itu, Xi mengajak mitranya menguatkan kerja sama internasional dan kawasan. Semangat Deklarasi Bandung perlu senantiasa dijunjung.
"Kita harus menjunjung sistem internasional yang berpusat pada PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan tatanan global yang dijaga hukum internasional, serta mendorong tata kelola global yang adil dan setara," tulis Xi.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga sistem perdagangan multilateral. Perlu pula menjaga rantai pasok dan industri global tetap stabil. "Serta menjadi keterbukaan dan kerja sama," ujarnya.
China akan bekerja sama dengan Malaysia dan anggota lain ASEAN melawan upaya pelemahan sistem global. Kerja sama juga untuk menolak proteksionisme dan unilateralisme. ”Demi menjaga perdamaian dan pembangunan,” lanjutnya.
Konferensi Bandung 1955 adalah momen penting dalam kerja sama internasional
Ajakan disampaikan di tengah bayang-bayang perang dagang baru. Perang dagang itu dipicu keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan tarif bea masuk impor (BMI). China kena 145 persen, Malaysia 24 persen.
Xi menyebut, tidak akan ada pemenang dalam perang dagang. Meski demikian, China balik mengenakan BMI 125 persen pada semua impor dari AS.
Guncangan global
Heng menulis, lawatan Xi ke Asia Tenggara bertepatan dengan bayangan guncangan tatanan global. Di sisi lain, China dan para mitranya punya modal panjang kerja sama.
Deklarasi Bandung adalah warisan lama yang terus bertahan. Sementara Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) salah satu wujud kerja sama terbaru China dan mitranya.
"Konferensi Bandung 1955 adalah momen penting dalam kerja sama internasional, membawa bangsa-bangsa Asia Afrika mendorong kerja sama ekonomi dan kebudayaan serta menentang penjajahan," tulisnya.
Di Konferensi Bandung, lanjut Heng, Perdana Menteri China Zhou Enlai melontarkan kalimat terkenal. Sembari mengakui ada perbedaan, bangsa-bangsa Asia Afrika perlu mencari kesamaan di antara mereka. "Prinsip ini adalah landasan bagi hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati di antara negara merdeka," kata Heng.
Prinsip itu menjadi semakin relevan di masa sekarang. Kini, dunia dilanda peningkatan ketegangan, nasionalisme ekonomi, dan polarisasi ideologi. "Menggelorakan lagi Semangat Bandung untuk mendorong era baru kerja sama Selatan-Selatan dapat membantu mendorong pembangunan suatu komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," lanjut Heng.
Tetap relevan
Indonesia menjadi tuan rumah KAA pada April 1955. Pada 2025, pemerintah RI tidak menggelar peringatan konferensi itu. Meski demikian, sejumlah pihak tetap membuat peringatan.
Salah satunya digelar Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bersama Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. FPCI-Kedubes Jerman menggelar Global History and Politics Dialogue di Bandung.
Pendiri FPCI, Dino Patti Djalal, mengatakan nilai-nilai yang dirumuskan dalam KAA 1955 tetap relevan digaungkan. Pelanggaran berbagai tatanan global jadi alasan relevansi itu.
Dino mengajak untuk meninjau lagi ke-10 prinsip Deklarasi Bandung. Prinsip-prinsip itu antara lain kedaulatan dan keutuhan wilayah negara harus dihormati, kesamaan di antara bangsa-bangsa, keadilan dan kerja sama, dan tidak ikut campur.
Nilai-nilai itu menyemangati beberapa piagam di sejumlah kawasan, antara lain ASEAN Charter, ASEAN Declaration, dan juga Piagam Afrika.
Namun, menurut Dino, sekarang ini banyak prinsip Bandung atau Dasasila Bandung itu yang terlanggar dalam dunia internasional. ”Prinsip mengenai equality; prinsip non-interference, jadi jangan ikut-ikut campur urusan kita, urusan dari masing-masing; kalau ada masalah itu dengan peaceful solution, tidak melakukan agresi, itu yang benar-benar dilanggar,” kata Dino.
Pelanggaran-pelanggaran itu, menurut Dino, banyak dilakukan sejumlah negara di dunia. Ia mencontohkan pelanggaran itu antara lain tindakan Amerika Serikat yang mengklaim wilayah Greenland, Denmark. Lalu, AS juga menginginkan Kanada menjadi negara bagian AS ke-51.
Pelanggaran-pelanggaran dalam konteks internasional saat ini, lanjut Dino, menunjukkan pentingnya mengingat lagi Dasasila Bandung. ”Kita perlu menerapkannya, memeloporinya kembali, dan menghidupkannya kembali dalam dunia internasional, dalam sistem internasional,” ujar Dino.
Memang, menurut Dino, saat ini tatanan dunia sedang berubah dan masuk ke dalam transisi. Pada tahun 1960 saat Perang Dingin selesai, dunia berubah dan sistem juga berubah.
Saat ini, perubahan yang terjadi juga sama. Saat ini terjadi perubahan sistemis secara struktural, kekuasaan, dan sebagainya.
Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini dianggap sudah tidak lagi bisa berfungsi dengan baik. ”Kita lihat ya, PBB efektif atau tidak di Gaza? Tidak. PBB efektif atau tidak di Ukraina? Tidak,” jelasnya.
Itu sebabnya, menurut Dino, untuk menjaga dan menegakkan kembali Dasasila Bandung, negara-negara di selatan atau Global South juga perlu berdialog dengan negara-negara di utara atau Global North seperti Jerman. Negara-negara itu perlu memikirkan world order atau tatanan dunia baru yang mau dibangun bersama.
”Global South dan Global North itu sama-sama mencoba memikirkan wujud dari dunia baru, rules of the game-nya, itu seperti apa. Karena ada perbedaan nuansa antara apa yang diinginkan Global South danGlobal North,” kata Dino
Duta Besar Republik Jerman untuk Indonesia, Ina Lepel, dalam acara pembukaan juga menyatakan perlunya dialog dan kerja sama antara negara-negara Selatan dengan Jerman dan Eropa. Kerja sama ini sebagai peluang untuk saling mengembangkan, meningkatkan kapasitas pembelajaran, serta memastikan kerja sama dan investasi.
Dalam pembukaan, Wali Kota Bandung M Farhan menyatakan tidak akan ada perayaan terkait 70 tahun KAA. Akan tetapi, akan ada perjalanan sejarah atau napak tilas ke Bandung yang melibatkan 15 duta besar aktif dari negara-negara Afrika di Jakarta.
Catatan redaksi: artikel ini telah diperbarui dengan pandangan China tentang peringatan Konferensi Asia Afrika
KUALA LUMPUR, RABU-China memandang penting semangat Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan 70 tahun lalu. Warisan semangat konferensi itu penting di tengah guncangan tatanan global sekarang.
Pandangan itu disampaikan terpisah oleh Presiden China Xi Jinping dan pengusaha China di Malaysia, Andy Heng. Xi menyampaikan dalam artikel yang diterbitkan di sejumlah media Malaysia. Sementara artikel Heng diterbitkan China Daily pada Rabu (16/4/2025).
Serial Artikel
Indonesia-Afrika Gaungkan Solidaritas dan Kemitraan Global
Presiden Jokowi mengungkapkan keprihatinan: dalam kondisi sulit, solidaritas internasional justru menurun.
Pada 15-17 April 2025, Xi melawat ke Malaysia. Setelah itu, ia akan mendatangi Kamboja. Adapun pada 14-15 April 2025, Xi diterima di Vietnam.
Dalam artikelnya, Xi menyebut bahwa 2025 menandai 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Sembari mengingat warisan konferensi yang digelar di Bandung, Jawa Barat itu, Xi mengajak mitranya menguatkan kerja sama internasional dan kawasan. Semangat Deklarasi Bandung perlu senantiasa dijunjung.
"Kita harus menjunjung sistem internasional yang berpusat pada PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dan tatanan global yang dijaga hukum internasional, serta mendorong tata kelola global yang adil dan setara," tulis Xi.
Ia juga menyinggung pentingnya menjaga sistem perdagangan multilateral. Perlu pula menjaga rantai pasok dan industri global tetap stabil. "Serta menjadi keterbukaan dan kerja sama," ujarnya.
China akan bekerja sama dengan Malaysia dan anggota lain ASEAN melawan upaya pelemahan sistem global. Kerja sama juga untuk menolak proteksionisme dan unilateralisme. ”Demi menjaga perdamaian dan pembangunan,” lanjutnya.
Konferensi Bandung 1955 adalah momen penting dalam kerja sama internasional
Ajakan disampaikan di tengah bayang-bayang perang dagang baru. Perang dagang itu dipicu keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan tarif bea masuk impor (BMI). China kena 145 persen, Malaysia 24 persen.
Xi menyebut, tidak akan ada pemenang dalam perang dagang. Meski demikian, China balik mengenakan BMI 125 persen pada semua impor dari AS.
Serial Artikel
Perang Dagang AS-China Makin Sengit, Negara-negara Mitra Tertekan
China berjanji membuka akses pasar seluas mungkin. Sementara Vietnam menuruti perintah AS menyelidiki komoditas ekspor mereka agar bersih dari barang China.
Heng menulis, lawatan Xi ke Asia Tenggara bertepatan dengan bayangan guncangan tatanan global. Di sisi lain, China dan para mitranya punya modal panjang kerja sama.
Deklarasi Bandung adalah warisan lama yang terus bertahan. Sementara Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) salah satu wujud kerja sama terbaru China dan mitranya.
"Konferensi Bandung 1955 adalah momen penting dalam kerja sama internasional, membawa bangsa-bangsa Asia Afrika mendorong kerja sama ekonomi dan kebudayaan serta menentang penjajahan," tulisnya.
Di Konferensi Bandung, lanjut Heng, Perdana Menteri China Zhou Enlai melontarkan kalimat terkenal. Sembari mengakui ada perbedaan, bangsa-bangsa Asia Afrika perlu mencari kesamaan di antara mereka. "Prinsip ini adalah landasan bagi hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati di antara negara merdeka," kata Heng.
Prinsip itu menjadi semakin relevan di masa sekarang. Kini, dunia dilanda peningkatan ketegangan, nasionalisme ekonomi, dan polarisasi ideologi. "Menggelorakan lagi Semangat Bandung untuk mendorong era baru kerja sama Selatan-Selatan dapat membantu mendorong pembangunan suatu komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," lanjut Heng.
Serial Artikel
Kenangan Asia Afrika
Meski peran Presiden Soekarno sering dibicarakan, Ali Sastroamidjojo telah berjasa menggagas, merintis, dan mengorganisasi Konferensi Asia Afrika. Ia seorang visioner dan diplomat ulung yang dimatangkan pengalaman.
Indonesia menjadi tuan rumah KAA pada April 1955. Pada 2025, pemerintah RI tidak menggelar peringatan konferensi itu. Meski demikian, sejumlah pihak tetap membuat peringatan.
Salah satunya digelar Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bersama Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. FPCI-Kedubes Jerman menggelar Global History and Politics Dialogue di Bandung.
Pendiri FPCI, Dino Patti Djalal, mengatakan nilai-nilai yang dirumuskan dalam KAA 1955 tetap relevan digaungkan. Pelanggaran berbagai tatanan global jadi alasan relevansi itu.
Dino mengajak untuk meninjau lagi ke-10 prinsip Deklarasi Bandung. Prinsip-prinsip itu antara lain kedaulatan dan keutuhan wilayah negara harus dihormati, kesamaan di antara bangsa-bangsa, keadilan dan kerja sama, dan tidak ikut campur.
Nilai-nilai itu menyemangati beberapa piagam di sejumlah kawasan, antara lain ASEAN Charter, ASEAN Declaration, dan juga Piagam Afrika.
Namun, menurut Dino, sekarang ini banyak prinsip Bandung atau Dasasila Bandung itu yang terlanggar dalam dunia internasional. ”Prinsip mengenai equality; prinsip non-interference, jadi jangan ikut-ikut campur urusan kita, urusan dari masing-masing; kalau ada masalah itu dengan peaceful solution, tidak melakukan agresi, itu yang benar-benar dilanggar,” kata Dino.
Pelanggaran-pelanggaran itu, menurut Dino, banyak dilakukan sejumlah negara di dunia. Ia mencontohkan pelanggaran itu antara lain tindakan Amerika Serikat yang mengklaim wilayah Greenland, Denmark. Lalu, AS juga menginginkan Kanada menjadi negara bagian AS ke-51.
Serial Artikel
Indonesia Galang Dukungan Asia dan Afrika Hentikan Perang di Palestina
Isu Palestina mendapat perhatian dalam Sesi Tahunan Ke-61 AALCO di Bali. Indonesia menggalang dukungan dari Asia dan Afrika untuk mendesak penghentian perang di Palestina.
Pelanggaran-pelanggaran dalam konteks internasional saat ini, lanjut Dino, menunjukkan pentingnya mengingat lagi Dasasila Bandung. ”Kita perlu menerapkannya, memeloporinya kembali, dan menghidupkannya kembali dalam dunia internasional, dalam sistem internasional,” ujar Dino.
Memang, menurut Dino, saat ini tatanan dunia sedang berubah dan masuk ke dalam transisi. Pada tahun 1960 saat Perang Dingin selesai, dunia berubah dan sistem juga berubah.
Saat ini, perubahan yang terjadi juga sama. Saat ini terjadi perubahan sistemis secara struktural, kekuasaan, dan sebagainya.
Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini dianggap sudah tidak lagi bisa berfungsi dengan baik. ”Kita lihat ya, PBB efektif atau tidak di Gaza? Tidak. PBB efektif atau tidak di Ukraina? Tidak,” jelasnya.
Itu sebabnya, menurut Dino, untuk menjaga dan menegakkan kembali Dasasila Bandung, negara-negara di selatan atau Global South juga perlu berdialog dengan negara-negara di utara atau Global North seperti Jerman. Negara-negara itu perlu memikirkan world order atau tatanan dunia baru yang mau dibangun bersama.
”Global South dan Global North itu sama-sama mencoba memikirkan wujud dari dunia baru, rules of the game-nya, itu seperti apa. Karena ada perbedaan nuansa antara apa yang diinginkan Global South danGlobal North,” kata Dino
Duta Besar Republik Jerman untuk Indonesia, Ina Lepel, dalam acara pembukaan juga menyatakan perlunya dialog dan kerja sama antara negara-negara Selatan dengan Jerman dan Eropa. Kerja sama ini sebagai peluang untuk saling mengembangkan, meningkatkan kapasitas pembelajaran, serta memastikan kerja sama dan investasi.
Dalam pembukaan, Wali Kota Bandung M Farhan menyatakan tidak akan ada perayaan terkait 70 tahun KAA. Akan tetapi, akan ada perjalanan sejarah atau napak tilas ke Bandung yang melibatkan 15 duta besar aktif dari negara-negara Afrika di Jakarta.