Kolaborasi Indonesia dan Perancis kini sarat dengan landasan falsafah yang kritis dan berkesinambungan dengan menggali kekayaan komunitas satu sama lain.
11 Des 2024 18:31 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS – Kolaborasi Indonesia dan Perancis menyasar kerja sama yang berkelanjutan dan berkesinambungan di semua bidang. Hubungan antarmasyarakat adalah kuncinya. Sektor sastra dan filsafat; seni; dan sains menjadi medium kerja sama yang ditingkatkan intensitasnya.
”Di kalangan sastra dan filsafat Indonesia, ada ketertarikan organik di dalam komunitas itu akan filsafat Perancis. Falsafah bangsa Indonesia dipengaruhi berbagai macam masukan di dalam membangun pandangan kebangsaan, termasuk dari Perancis,” kata penulis Ayu Utami dalam diskusi memperingati 75 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Perancis di Jakarta, Rabu (11/12/2024).
Ia menjelaskan, minat bersama masyarakat Indonesia dan Perancis selalu berubah seiring dengan perkembangan zaman. Kini, masyarakat kedua negara menginginkan pembahasan pemikiran yang kritis dan berkesetaraan. Prinsip filsafatnya tidak lagi mengiblat pada suatu pandangan, melainkan berdialog dan bertukar pikiran serta pengalaman.
”Filsafat bukan hal yang statis. Filsafat Indonesia hanya bisa dikonstruksikan melalui dialog dengan dunia modern. Perancis sebagai mitra sejak sebelum zaman revolusi kemerdekaan adalah teman diskusi yang bersama-sama membawa filsafat ke dalam praktik dunia nyata,” kata Ayu.
Ia menjelaskan, di dalam perkembangan filsafat Barat, ilmu itu selalu sejalan dengan perkembangan politik dan teknologi. Hal-hal praktis itu di dalam penerapannya memiliki landasan falsafah yang kuat. Sebaliknya, di negara-negara Timur, filsafat murni sebagai pemikiran dan kebijaksanaan, jarang memiliki penerapan langsung di dalam politik, sains, dan teknologi. Kolaborasi pemikiran pada tataran filsafat ini diharapkan bisa membuka mata masyarakat kedua negara mengenai landasan falsafah yang mengikuti perkembangan zaman, baik dari segi pemikiran maupun praktik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/11/94ce1e84-564e-4537-a2a5-2d142a606d93_jpg.jpg)
Dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi, Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional Nugroho Dwi Hananto menjelaskan, kolaborasi dengan Perancis sudah berjalan lama. Bahkan, ahli kelautan ternama dari Perancis, Jacques Cousteau, sempat menggagas sejumlah penelitian bersama para pakar dari Indonesia.
Kini, salah satu proyek utama Indonesia-Perancis di sektor maritim adalah penelitian mengenai megathrust. Lempeng samudra yang bertemu dengan lempeng kerak bumi. Kedua negara sedang mengembangkan kapal berteknologi terbaru untuk memfasilitasi penelitian ini. Sensor di kapal ini akan lebih presisi dan bisa menjangkau kedalaman 40 kilometer.
Nugroho menerangkan, Indonesia baru meneliti 18 persen dari keseluruhan wilayah maritim negara. Itu pun baru di bidang pemetaan, belum penjelajahan yang berkedalaman. Dari segi teknologi, negara-negara maju telah memiliki struktur pendanaan dan sarana penelitian yang mapan.
”Kita bisa belajar dari Perancis mengenai pendekatan komprehensif di dalam suatu penelitian. Misalnya, di dalam pengembangan sensor megathrust itu kami juga harus memperhatikan dampak lingkungan dan masyarakatnya. Sensor tidak boleh mengganggu kehidupan biota laut, misalnya sonar paus dan lumba-lumba,” papar Nugroho.
Sementara itu, pemain film dan penari Asmara Abigail menceritakan pengalamannya bolak-balik membawa film Setan Jawa tur di Perancis pada periode 2016-2023. Film itu karya sutradara Garin Nugroho dengan konsep film bisu dan berwarna hitam putih. Suara di film tersebut diisi dengan orkestra gamelan yang digubah oleh maestro Rahayu Supanggah bersama Grandage dan Nederland Kamerorkest.
Di kalangan sastra dan filsafat Indonesia, ada ketertarikan organik di dalam komunitas itu akan filsafat Perancis.
Ia kagum dengan antusiasme pencinta film di Perancis yang selalu memadati bioskop setiap kali Setan Jawa diputar. Dari pengalaman itu, Asmara juga belajar mengenai kolaborasi Perancis-Indonesia sejak sebelum kemerdekaan tahun 1945. Ia berminat menggali lebih jauh mengenai Ratna Mahini, penari dan penyair dari Indonesia yang tinggal di Perancis dan menjalin hubungan dengan pewarta foto Henri Cartier-Bresson.
”Ratna Mahini membawa Henri Cartier-Bresson ke Indonesia. Foto liputan Cartier-Bresson menghiasi sampul majalah Life edisi 13 Februari 1950. Akan tetapi, kontribusi Ratna Mahini belum banyak diketahui masyarakat kita ataupun Perancis,” tutur Asmara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/11/13/20170911XAR04_1605224362.jpg)
Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Fabien Penone menjelaskan, sejarah hubungan Indonesia dengan Perancis sudah sangat lama dan kaya. Pelaut Perancis termasuk yang datang ke Aceh pada 1601 bersama kapal Belanda. Selain itu, pada 1687, dua pangeran dari Kerajaan Gowa diterima di istana Raja Perancis Louis XIV.
”Selama 150 tahun terakhir, banyak sekali pakar dari Perancis yang berminat meneliti Nusantara. Ada komponis Claude Debussy yang tertarik dengan gamelan, antropolog Denys Lombard, vulkanolog Haroun Tazieff, dan seniman Antonin Artaud,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/11/a80482e6-35da-4391-8442-aaae9080b1d4_jpg.jpg)
Bahkan, penyair paling terkenal di Perancis, Arthur Rimbaud (1854-1871), menjejak di Pulau Jawa pada 1876 bersama pasukan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Rimbaud kemudian menjadi desertir dan menghilang selama enam bulan sebelum ia muncul kembali di Perancis.
Dari Rimbaud pula logo 75 tahun Indonesia-Perancis terinspirasi. Logo dibuat oleh pemenang sayembara dengan menggabungkan gunungan wayang Jawa dan Menara Eiffel. Di sebelahnya ada kutipan dari puisi Rimbaud, Le Bateau Ivre: Jái vu des archipels sideraux! Terjemahan bahasa Indonesia-nya kurang lebih adalah ’saya telah melihat gugusan kepulauan dan bintang’. Syair itu bercerita mengenai gejolak kehidupan dengan menggunakan deskripsi alam yang kaya sebagai simbol.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo H