75 Tahun Swedia-Indonesia, Merajut Relasi lewat Pengembangan Diri

Kerja sama bidang pendidikan memberikan bobot baru dalam kerja sama bilateral Swedia dan Indonesia

15 Apr 2025 17:33 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Pendidikan menjadi jangkar bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas diri dan kesejahteraan. Dalam relasi bilateral, Swedia dan Indonesia melihatnya sebagai peluang untuk maju bersama, sekaligus memperkuat hubungan kedua negara.

Setidaknya itulah yang tertangkap dari JOIN SWEDEN-Study & Career Fair pada Sabtu (12/4/2025). Acara yang digelar Kedutaan Besar Swedia di Jakarta bersama Swedish Institute itu adalah bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Swedia-Indonesia.

Pameran tersebut dihadiri oleh banyak siswa asal Indonesia serta mereka yang mencari tahu tentang peluang karier di perusahaan-perusahaan Swedia. Mereka memenuhi ruangan pameran dan sibuk bertanya segala hal tentang peluang belajar atau bekerja di salah satu negara Skandinavia itu.

”Antusiasme para mahasiswa Indonesia untuk hadir dalam acara ini luar biasa,” jelas Duta Besar Swedia untuk Indonesia Timor Leste, ASEAN, dan Papua Niugini Daniel Blockert.

Terjadi lonjakan signifikan peminat tahun ini. Setidaknya 2.000 orang menghadiri acara ini atau naik 73 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Sementara jumlah perguruan tinggi Swedia yang hadir juga meningkat. Ada enam kampus yang berpartisipasi, di antaranya KTH Royal Institute of Technology, Lund University, dan Stockholm University. Untuk perusahaan hadir antara lain Ericsson, Scania, dan Volvo.

Pengunjung memadati JOIN SWEDEN - Study & Career Fair, Sabtu (12/4/2025) di Jakarta. Acara itu merupakan bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Swedia - Indonesia.

Menurut Daniel, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya minat. ”Pendanaan (beasiswa) salah satunya,” kata Daniel.

Pemerintah Swedia, dijelaskan Daniel, menyediakan sejumlah beasiswa yang lebih banyak dari sebelumnya. Untuk program belajar, selain program reguler, Swedish Institute juga menyediakan program khusus untuk perempuan.

”Banyak mahasiswa mungkin tidak begitu ingin pergi ke AS lagi karena banyak hal yang terjadi. Beberapa universitas di seluruh dunia menjadi sangat mahal. Sementara (universitas) di Swedia tidak terlalu mahal. Jadi, ada banyak peluang,” kata Daniel.

Selain itu, Daniel juga menyebutkan tentang adanya ikatan kuat di kalangan mahasiswa atau alumni Indonesia di Swedia. ”Mereka sangat aktif,” jelas Daniel.

”Saya pikir mereka menyebarkan cerita dan pengalaman baik bahwa mereka senang belajar di Swedia, bahwa mereka mendapat pekerjaan bagus di Swedia. Atau, ketika mereka kembali ke Indonesia atau bekerja untuk perusahaan Swedia di luar negeri. Jadi ini efek bola salju,” tambah Daniel.

Banyaknya testimoni positif tentang mahasiswa asal Indonesia di Swedia, menurut Daniel, juga menjadi daya tarik. Saat ini semakin banyak kampus dan universitas terbaik Swedia menerima mahasiswa Indonesia. ”Saya pikir populasi mahasiswa Indonesia di Swedia terus meningkat,” ujarnya.

Mantan Duta Besar RI untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia Kamapradipta Isnomo dalam acara JOIN SWEDEN - Study & Career Fair bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Swedia - Indonesia, Sabtu (12/4/2025) di Jakarta.

Mantan Duta Besar RI untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia Kamapradipta Isnomo yang hadir di acara itu juga menyampaikan tentang lonjakan jumlah mahasiswa Indonesia di Swedia. ”Waktu saya awal bertugas di Swedia pada 2020, ada 200–300 mahasiswa Indonesia. Sekarang mungkin hampir 600,” kata Kamapradipta.

Menurut Kamapradipta, ada sejumlah faktor yang mendorong banyak mahasiswa Indonesia memilih belajar di Swedia. Swedia dikenal dengan kualitas pendidikannya yang bagus. Swedia juga menerapkan keseimbangan antara aktivitas belajar dan kehidupan, sama seperti keseimbangan antara kehidupan dan bekerja.

Selain itu, Kamapradipta berpandangan, Swedia memiliki keunggulan kompetitif di bidang teknologi dan inovasi. Merujuk laporan World Intellectual Property Organization terkait dengan Global Innovation Index (GII) 2024, Swedia berada di peringkat ke-2 dunia setelah Swiss dan sebelum AS dalam dua tahun berturut-turut. Sementara di Uni Eropa, Swedia memegang keunggulan ini dalam empat tahun berturut-turut.

Karena itu, ia kemudian melihat sebagian besar mahasiswa Indonesia mengambil jurusan teknik manakala belajar ke Swedia. Selain itu, mereka juga mempelajari bidang manajamen industri, kedokteran, dan ilmu hayati.

Daniel pun memperhatikan, banyak mahasiswa Indonesia yang tertarik mempelajari bidang teknologi.

Muhammad Hilmi (28), mahasiswa Indonesia yang sudah diterima untuk program master di Universitas Lund tahun ajaran 2025, juga tertarik untuk mengembangkan pengetahuannya di bidang teknik. ”Sesuai bidang saya waktu S-1 di Fakultas Teknik Elektro ITB,” ujarnya di acara JOIN SWEDEN itu.

Setelah lulus, ia kemudian bekerja untuk perusahaan telekomunikasi Swedia, Ericsson Indonesia, di bidang service delivery. ”Nanti di Universitas Lund saya akan mempelajari teknologi untuk wireless communication,” jelas Hilmi.

Ia pun antusias untuk segera berangkat ke Lund. Hilmi merasa beruntung karena bisa belajar sambil membawa istri dan anaknya. ”Saya tertarik sekali dengan budaya work-life balanced di sana,” kata Hilmi.

Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Timor Leste, ASEAN, dan Papua Niugini Daniel Blockert (ketiga kiri) tengah berbincang dengan pengunjung JOIN SWEDEN - Study & Career Fair, Sabtu (12/4/2025) di Jakarta. Acara itu merupakan bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Swedia - Indonesia.

Berkembang bersama

Daniel menambahkan, selain menyediakan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia ke Swedia, Pemerintah Swedia juga berupaya membangun kapasitas manusia secara dua arah. Sejumlah universitas terbaik Swedia bekerja sama dengan kampus-kampus terbaik di Bogor, Yogyakarta, dan Surabaya.

Menurut Kamapradipta, kerja sama antarkampus itu misalnya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dengan Karolinska Institute. Kerja sama ditekankan pada transfer penelitian tentang onkologi dan kematian ibu. Mahasiswa program doktoral dari dua kampus itu bisa saling mengirim peneliti.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia yang baru saja dilantik, Yayan Ganda Hayat Mulyana, dalam kesempatan itu juga mengatakan, secara strategis, pameran pendidikan dan karier memberikan bobot baru dalam hubungan bilateral Swedia dan Indonesia. Bobot baru itu terutama pada kerja sama di bidang pendidikan dan hubungan antarwarga (people to people).

”(Kerja sama di dua layer) ini merupakan lapisan kerja sama yang sangat esensial karena itu adalah inti dari persahabatan antardua negara,” jelas Yayan.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Swedia dan Republik Latvia Yayan Ganda Hayat Mulyana dalam acara JOIN SWEDEN - Study & Career Fair, bagian dari perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Swedia - Indonesia, Sabtu (12/4/2025) di Jakarta

Pameran pendidikan, menurut Yayan, memunculkan kesadaran publik Indonesia akan adanya potensi pendidikan tinggi di Swedia. Juga akan membuka peluang secara lebih detail bagi calon mahasiswa untuk mengetahui potensi setiap kampus.

Namun, menurut Yayan, ada hal penting lainnya, yaitu peluang yang sangat besar untuk kerja sama antarkampus. ”Dan inter-university cooperation ini juga menjadi pilar yang sangat esensial dalam hubungan antara Swedia dan Indonesia,” jelas Yayan.

Kerja sama antarkampus ini kaitannya dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia. Indonesia sangat membutuhkan SDM yang sangat kuat. Dengan pendidikan di Swedia yang berkualitas, kerja sama antarkampus akan membantu meningkatkan kualitas SDM.

Yayan mencontohkan industri pertahanan di Swedia. Industri pertahanan di Swedia sangat terkait erat dengan ekosistem pendidikan tinggi yang menghasilkan insinyur dan teknisi andal.

”Kita memerlukan SDM semacam itu tidak hanya untuk industri pertahanan, tetapi juga untuk sustainable development, green transition, dan sebagainya,” pungkas Yayan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar