BerandaInternasional”Ramalan” dan Inspirasi S...

”Ramalan” dan Inspirasi Serangan Pearl Harbor

Jauh sebelum Jepang menyerang Pearl Harbor, sudah terjadi serangkaian peristiwa yang seolah meramalkan dan menjadi inspirasi bagi serangan Jepang, di antaranya terbitnya buku fiksi ”1931, The Great Pacific War”.

14 Des 2021 08:58 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

 Asap mengepul dari bangkai kapal perang AS, USS Arizona, di Pearl Harbor, Hawaii, Rabu, 7 Desember 1941, setelah terkena serangan pesawat Jepang. Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut AS di Pearl Harbor 80 tahun lalu yang memicu Perang Pasifik dan memicu AS terlibat di Perang Dunia II.

Perang Pasifik pecah dengan serangan pesawat pengebom dan pemburu Jepang ke Pangkalan Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, Minggu pagi 7 Desember 1941. Jauh sebelum Jepang menyerang Pearl Harbor, sudah terjadi serangkaian peristiwa yang seolah meramalkan dan menjadi inspirasi bagi serangan Jepang, yakni terbitnya buku fiksi 1931, The Great Pacific War karya Hector C Bywater tahun 1925 dan latihan perang di Pearl Harbor oleh beberapa perencana perang Amerika Serikat pada 1932, serta keberhasilan serangan pesawat torpedo Inggris ke pangkalan AL Italia di Taranto pada 1940.

Bahkan, konon lagu ”Di Timur Matahari” karya WR Supratman yang diciptakan tahun 1931 terinspirasi dari kebangkitan Jepang yang diharapkan memicu pergerakan pemuda Indonesia.

Adapun buku 1931, The Great Pacific War menceritakan perang imajiner antara Amerika Serikat dan Jepang. Buku sebelumnya yang ditulis Hector C Bywater adalah Sea Power in The Pacific. Buku tersebut juga membahas tentang strategi yang dihadapi Amerika Serikat ketika pecah perang menghadapi Jepang.

Pada bab I, Bywater menyebutkan hal-hal yang menjadi penyebab perang Jepang-Amerika Serikat dari persoalan agresi Jepang di China hingga Pemerintah Jepang memilih memerangi Amerika Serikat untuk mengalihkan persoalan domestik.

Lebih jauh di bab II, Bywater menuliskan peliknya diplomasi Amerika Serikat-Jepang di awal tahun 1931, keberadaan Armada Asia Angkatan Laut Amerika Serikat yang berpangkalan di Manila, Filipina, kapal Jepang meledak di terusan Panama, dan kemungkinan perang kapal selam terhadap kapal dagang.

Bywater dalam bab III menuliskan, Armada Asia Angkatan Laut Amerika Serikat di Manila adalah sasaran pertama serangan Jepang. Sebagian besar kapal perang Amerika Serikat hancur dan Jepang bersiap menginvasi Filipina.

Pada bab selanjutnya, Bywater menceritakan detail pertempuran Amerika Serikat-Jepang di Filipina dan Guam. Barulah pada Bab VIII, Bywater menyinggung tentang perang Amerika Serikat-Jepang di Kepulauan Hawaii.

 Kapal Angkatan Laut AS, USS Shaw, meledak setelah terkena bom dari pesawat Jepang di Pearl Harbor, Hawaii, AS, 7 Desember 1941.

Duta Besar Amerika Serikat di Tokyo, Jepang, Joseph Grew (bertugas tahun 1932-1934) dalam buku The Rising Sun, seri World War II terbitan Time Life, mengatakan, Jepang saat itu sudah merancang penguasaan seluruh Asia Timur dalam Pax Japonica, damai di bawah naungan Jepang. Langkah berikutnya adalah kendali politik Jepang secara menyeluruh terhadap Asia Timur.

Penulis Blake Stilwell dalam laman Military.com menulis tentang ”Pelaut Amerika Menunjukkan Jepang Bagaimana Cara Menyerang Pearl Harbor”. Stilwell menuliskan tentang latihan perang pada Februari 1932 yang dilakukan Laksamana Muda Harry Yarnell yang mengadakan simulasi serangan pesawat udara yang diluncurkan dari kapal induk. Gagasan itu tidak populer masa tersebut karena para perencana angkatan laut dunia masih berpandangan kekuatan laut adalah pertempuran antarkapal perang (battleship).

Harry Yarnell memilih simulasi serangan pada Minggu pagi benar di Februari  1942 dengan serangan dadakan. Yarnell hanya menggunakan dua kapal induk dan beberapa kapal perusak (destroyer) sebagai pengawal. Dia meluncurkan 152 pesawat terbang pada dini hari mendekati Pulau Oahu di Kepulauan Hawaii.

Dengan cerdik, 152 pesawat tersebut ”menyerang” Pearl Harbor dari arah pegunungan Koolau, yakni arah matahari terbit sehingga siluet pesawat penyerang tidak kelihatan dari pertahanan darat karena diterangi cahaya matahari.

Pangkalan Pearl Harbor pun ”porak poranda” dipenuhi sisa suar (flare) dan tepung sebagai pengganti senjata yang digunakan pesawat penyerang. Untuk pertama kalinya, pihak pangkalan Pearl Harbor kalah dalam latihan perang!

Latihan berikutnya dilakukan tahun 1938, Laksamana Ernest King ganti memimpin serangan dengan sebuah kapal induk dan pesawat menyerang dari pegunungan Koolau. Hasilnya sama!

Lagi-lagi, pertahanan Pearl Harbor porak-poranda dalam latihan perang tersebut. Pihak Jepang mencermati latihan perang di tahun 1932 dan pengembangan armada kapal induk. Kelak, dengan kekuatan kapal induknya, Jepang bisa menyerang serempak dari Malaya, Filipina, Guam, Pulau Wake hingga Hawaii pada akhir 1941.

Serangan Jepang ke Pearl Harbor kurang lebih meniru serangan Yarnell dalam simulasi perang. Hanya saja Jepang mengerahkan enam kapal induk dan 353 pesawat pengebom dan pemburu dengan hasil yang gemilang.

 Sebuah kapal Angkatan Laut AS tampak terbakar terkena serangan pesawat tempur Jepang di Pearl Harbor, Hawaii, AS, 7 Desember 1941.

Serangan pesawat torpedo Inggris

Salah seorang pendiri Kompas, PK Ojong, dalam bukunya Perang Pasifik, menuliskan tentang serangan pesawat torpedo biplane Fairey Swordfish Royal Navy Inggris terhadap pangkalan armada Regia Marina, Angkatan Laut Italia, di Taranto, tenggara Italia. Serangan pesawat dari kapal induk terhadap pangkalan angkatan laut yang pertama kali dilakukan dalam sejarah itu meraih sukses besar.

Dari 21 pesawat torpedo Inggris, satu kapal perang (battleship) Italia ditenggelamkan dan dua kapal perang rusak berat, dua kapal penjelajah dirusak, dan dua pesawat Italia dihancurkan. Pihak Inggris hanya kehilangan dua pesawat Swordfish dalam serangan malam hari pada 11 November 1940.

Perencana serangan Jepang ke Pearl Harbor, Laksamana Isoroku Yamamoto, yang juga mantan Atase Pertahanan Jepang di Washington DC, dengan cermat mempelajari serangan Inggris terhadap Italia dan latihan serangan udara terhadap pangkalan angkatan laut yang pernah dilakukan Amerika Serikat di Pearl Harbor.

Yamamoto dalam buku The Rising Suns seri World War II terbitan Time Life mengatakan, dirinya dapat melawan Amerika Serikat dan Inggris dalam enam bulan sampai 12 bulan perang. Jika perang berkepanjangan lebih dari satu tahun, dirinya tidak memiliki harapan untuk memenangi perang. Pasalnya, Yamamoto mengetahui kemampuan kapasitas industri Jepang dan Amerika Serikat. Amerika Serikat memiliki ”napas” yang lebih panjang dalam menyediakan logistik perang.

Walaupun sasaran utama serangan Jepang di Pasifik adalah menguasai kekayaan alam di Hindia Belanda (kini Republik Indonesia), benteng pertahanan terkuat di kawasan Pasifik harus dilumpuhkan terlebih dahulu. Benteng itu adalah pertahanan Amerika Serikat dan Inggris di Hawaii, Filipina, Hong Hong, Malaya-Singapura (Singapura dijuluki sebagai Gibraltar Timur atau Benteng yang Tak Dapat Ditembus alias Impregnable Fortress).

Sejarah membuktikan, kurang dari dua bulan setelah Pearl Harbor diserbu balantentara Jepang, pasukan pendarat Jepang sudah mendarat di Pulau Tarakan, Kalimantan Utara, 10 Januari 1942 tengah malam, dan menjejakkan kaki pada 11 Januari 1942 dini hari di pulau pusat penghasil minyak utama di Nusantara itu.

 Empat pesawat ”biplane” melakukan manuver terbang dalam acara peringatan 80 tahun serangan Jepang atas Pearl Harbor, 7 desember 2021.

Selang beberapa jam kemudian, tentara Jepang melakukan operasi penerjunan (lintas udara) pertama kali dalam Perang Pasifik di Kema, dekat Kota Manado di Sulawesi Utara. Kelak pasukan para Jepang juga diterjunkan dalam perebutan sumber minyak dan pangkalan udara di Palembang, Sumatera Selatan, dan terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan sekutu.

Berawal dari serangan ke Pearl Harbor, Hawaii, pasukan Jepang terus bergerak ke sasaran akhir kepulauan Nusantara yang kaya sumber daya alam yang penting bagi kelangsungan industri dan ekonomi Jepang.

Konflik tersebut sebetulnya diawali dengan agresi Jepang di China pada Juli 1937 dalam insiden Jembatan Marcopolo serta kekalahan Jepang saat melawan Uni Soviet di perbatasan Manchukuo dengan Mongolia pada September 1939. Kekalahan Jepang dari Uni Soviet tersebut yang membuat Jepang mengalihkan sasaran ke Asia Tenggara, terutama untuk menduduki Zamrud Khatulistiwa alias Gordeel van Smaragd, Indonesia....


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

prasetyoeko