Studi teknis terkait penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) untuk proyek Abadi Masela dirampungkan.
27 Okt 2025 11:05 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA
Proyek Abadi Masela di laut lepas Maluku menyalakan kembali harapan yang sempat redup. Tak sekadar menghidupkan angan yang dulu hilang, tetapi juga menandai langkah besar Indonesia bagian timur dalam mewujudkan kemandirian energi. Lebih dari sekadar proyek kilang gas alam cair atau LNG, Abadi Masela menyertakan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon guna mendukung keberlanjutan.
Lapangan Abadi di Blok Masela sempat lama terkatung-katung, bahkan berganti kepemilikan. Saat ini, Inpex Masela Ltd, asal Jepang, ialah pemilik saham terbesar dengan 65 persen sekaligus bertindak sebagai operator. PT Pertamina (Persero) menguasasi 20 persen saham, sedangkan sisanya, 15 persen, dimiliki perusahaan migas asal Malaysia, Petronas, melalui Petronas Masela.
Pada Agustus 2025, Inpex resmi memulai tahapan front end engineering and design (FEED) untuk Abadi Masela, meliputi pembangunan kilang LNG darat, fasilitas produksi terapung (FPSO), koneksi sistem produksi bawah laut dan permukaan (SURF), dan gas export pipeline (GEP). Selain itu, juga terkait teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).
Terbaru, Inpex dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) dalam merampungkan serangkaian studi teknis terkait CCS. Pelaksanaan studi tersebut dalam rangka memastikan kesiapan subsurface (bawah permukaan) dalam implementasinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/03/23/Tanimbar-Selatan_88334749_1584976926.jpg)
Studi tersebut menjadi tahapan krusial guna memastikan rancangan teknis agar selaras dengan aspek lingkungan. ”Studi ini menjadi dasar penting dalam merancang teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang sesuai dengan kondisi geologi wilayah Maluku,” kata Deputi Eksploitasi SKK Migas Taufan Marhaendrajana dalam siaran pers pada Minggu (26/10/2025).
Menurut Executive Project Director Inpex Masela Jarrad Blinco, studi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan proyek LNG menuju realisasi. Lebih dari itu, implementasi CCS akan sejalan dengan transisi energi. ”Ini proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan CCS dan mendorong upaya dekarbonisasi Indonesia sambil tetap menyediakan energi bagi negara,” ucapnya.
Adapun studi CCS tersebut dimulai sejak 2022 melalui tinjauan subsurface komprehensif terkait kesiapan CCS serta estimasi kapasitas penyimpanan CO2. Sementara pada 2024 dan 2025, dilakukan studi lanjutan yang meliputi analisis laboratorium, pemodelan 3D geomekanika, serta simulasi 4D coupled flow-geomechanics.
Proyek Abadi Masela ialah Proyek Strategis Nasional (PSN). Sumur migas pada proyek itu terletak di Laut Arafura, dengan kedalaman laut 400-800 meter serta kedalaman sumur 4.000 meter. Adapun kilang LNG, meliputi dua train likuefaksi LNG, menurut rencana akan dibangun di darat, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar Maluku.
Kapasitas produksi diproyeksikan 1.600 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau setara 9,5 juta ton LNG per tahun. Di samping itu, akan dihasilkan juga 150 MMSCFD gas pipa serta 35.000 barel kondensat per hari. Produksi perdana proyek Abadi Masela ditargetkan terwujud pada 2029.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/27/8c25de55-a05b-4da0-9424-7ec037c6aead_png.png)
Ditemukan tahun 2000 oleh Inpex, Lapangan Abadi Masela selama ini menjadi harapan besar masa depan energi nasional. Pada 2011, Shell lalu masuk ke dalam proyek sehingga komposisi kepemilikan saham menjadi 65 persen Inpex dan 35 persen milik Shell.
Rencana pengembangan lapangan (POD) proyek Masela sebenarnya sudah rampung pada akhir 2015. Saat itu, investor mengajukan pengembangan kilang LNG di laut lepas (offshore). Namun, ada ketidakkompakan di tubuh pemerintah terkait mana yang lebih efisien apakah offshore atau onshore (darat). Akhirnya, Presiden memutuskan proyek dilaksanakan dengan skema di darat.
Setelah itu, proyek relatif tidak berjalan dan terkatung-katung, hingga Shell memutuskan untuk mundur pada 2020. Kejelasan proyek baru muncul kembali pada 2023 ketika Pertamina bersama Petronas membeli hak partisipasi Shell dengan nilai penjualan 650 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,8 triliun. Asa produksi migas dari Abadi Masela pun lantas kembali hidup.
Proyek Abadi Masela diharapkan turut menopang pemenuhan target kemandirian energi Indonesia, terutama dari gas bumi. Menurut data SKK Migas, per semester I-2025, total salur gas bumi mencapai 5.483 MMSCFD. Salah satu penopang utama produksi gas bumi nasional adalah Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat.
Kelak, saat sudah beroperasi, LNG Masela semakin meningkatkan produksi gas bumi, yang juga berasal dari Indonesia timur. Sebagai penjembatan dalam transisi energi, peran gas bumi akan semakin krusial, termasuk bagi industri. Termasuk di antaranya industri pupuk, yang menggunakan gas sebagai salah satu bahan baku utama. Kini, industri pupuk juga diarahkan ke Indonesia bagian timur.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, Sabtu (25/10/2025), menuturkan, potensi gas bumi Indonesia memang memiliki peluang lebih besar dikembangkan ketimbang minyak bumi. Di samping produksi serta cadangan yang masih terjaga, nantinya, proyek-proyek seperti Abadi Masela di Maluku pun berpeluang untuk turut menyokong kemandirian energi.
Namun, ketersediaan gas bumi yang akan meningkat juga mesti didukung ketersediaan infrastruktur yang semakin memadai. ”Sebab, gas bumi ini tidak bisa ditransportasikan melalui darat, laut, dan udara, tetapi harus dengan pipa, kecuali pada LNG. Dibutuhkan investasi agar bisa memenuhi kebutuhan ke industri-industri dengan optimal,” kata Fahmy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/fc937040039c2241c6a7d2dc0d083aef-20250611_162315.jpg)
Salah satu upaya dalam peningkatan produksi migas nasional ialah penerapan digitalisasi di sektor hulu migas. PT Pertamina (Persero), misalnya, menerapkan teknologi termutakhir di lapangan-lapangan migas yang mereka kelola. Begitu juga inisiatif dan intervensi terhadap sumur-sumur eksplorasi untuk meningkatkan optimalisasi cadangan migas.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, pada 2029, Pertamina bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas memiliki target untuk mencapai produksi minyak bumi hingga 1 juta barel per hari. Hingga saat ini, dari 120 cekungan yang ada di Indonesia, baru ada 65 cekungan eksplorasi dan 20 cekungan produksi yang telah dimanfaatkan.
Sejumlah potensi tersebut akan terus dioptimalkan. ”Saat ini, sebagian besar migas berasal dari Indonesia bagian timur dan sudah masuk ke deep water (laut dalam). Dengan demikian, dibutuhkan investasi, teknologi, ataupun kemitraan dengan perusahaan migas lainnya,” kata Simon, Selasa (21/10/2025).
Lapangan Abadi Masela dan berbagai potensi migas lain di Indonesia timur menjadi modal penting menuju kemandirian energi nasional. Ke depan, sektor energi akan memainkan peran yang semakin strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kontribusi produksi migas dari seluruh wilayah Indonesia akan menjadi salah satu penentu arah perekonomian nasional di masa depan.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto