BerandaHiburan”About Family”, Merefleks...

”About Family”, Merefleksikan Arti Keluarga Modern

Film besutan sutradara Yang Woo-seok menghadirkan drama komedi yang menyentuh di dunia sinema "slice of life" Korea.

11 Jan 2025 10:17 WIB · Hiburan

Oleh Dwi AS Setianingsih

Poster resmi film "About Family"

Dewasa ini, istilah childfree atau memilih untuk tidak punya keturunan bukan lagi hal asing. Sebagian orangtua pun takut anaknya akan memilih untuk childfree, seperti yang terjadi pada Ham Mu-Ok (Kim Yun-Seok). 

Pria pemilik restoran pangsit populer Pyungmanok itu khawatir garis keturunan keluarganya akan berhenti di puteranya, Ham Mun-Seok (Lee Seung-Gi) yang memilih jalan hidup sebagai seorang biksu. Walaupun kaya raya, Mu-Ok tidak puas dengan hidupnya yang belum memiliki cucu. 

Namun, suatu hari, dua kakak beradik, Min-Guk (Kim Si-Woo) dan Min Seon (Yoon Chae-Na) datang ke Pyungmanok dan mengaku sebagai anak Mun-Seok. Restoran pun gempar. Gawai jadul Mun-Seok langsung penuh panggilan telepon untuk segera datang ke rumah. 

Akan tetapi, benarkah dua anak kecil tersebut anak kandung Mun-Seok? 

Film besutan sutradara Yang Woo-Seok menghadirkan hal baru di dunia sinema slice of life Korea. Film slice of life yang identik dengan unsur drama diracik dengan lihai oleh Woo-Seok dengan memadukan unsur komedi ke dalam film. About Family berhasil mengeksplorasi konsep keluarga dengan mengombinasikan kejenakaan tokoh yang mendukung cerita mengharukan. 

Salah satu adegan film "About Family".

Sejak pembukaan cerita, penonton langsung dibuat tertawa oleh tingkah Mu-Ok yang gemar menggerutu dan pelit. Pria tua yang sehari-harinya menjual pangsit itu rutin mengadakan upacara doa kepada para leluhur dengan alasan untuk bertemu putranya, Mun-Seok. Sebagai seorang biksu yang cerdas, Mun-Seok dipercaya untuk melakukan tur agama memberikan ceramah kepada khalayak luas. Komedi juga ditambah dengan aksi In-Haeng (Park Soo-Young) sebagai teman sejawat Mun-Seok. 

Seiring berjalannya cerita, film berdurasi 1 jam 47 menit ini pun mengungkapkan hubungan rumit ayah anak itu. Mun-Seok yang merupakan lulusan kedokteran memiliki alasan jelas untuk menjadi seorang biksu. Sementara Mu-Ok tidak sepenuhnya memberikan restu pun langsung berbeda 180 derajat saat tahu bahwa ada kemungkinan garis keturunan keluarganya tidak putus. 

Tingkah Mu-Ok yang berubah menjadi kakek penyayang mengundang gelak tawa kencang dari bangku penonton. Dirinya yang pelit harus berhadapan dengan kepolosan anak-anak. Selain itu, About Family juga menawarkan sedikit romansa antara Mu-Ok dengan manajer Bang (Kim Sung-Ryung).

Salah satu adegan film "About Family"

Keluarga modern

Di era modern seperti sekarang, apa arti sesungguhnya menjadi sebuah keluarga? Apakah hanya untuk meneruskan garis keturunan dan beranak pinak? Atau memiliki seseorang yang ikhlas menerima kita apa adanya? Bagaimana ketika orangtua yang masih mempertahankan tradisi bertemu dengan anak yang terlalu modern? 

Semua pertanyaan tersebut bisa didapatkan jawabannya dalam film ini. Sutradara About Family, Yang Woo-Seok berpikir bahwa cerita drama komedi keluarga dibutuhkan untuk masyarakat saat ini. Menurutnya, konsep keluarga telah berubah secara drastis beberapa tahun ke belakang. 

”Aku merasa aku harus berbicara tentang keluarga. Ini adalah cerita tentang kisah yang sama dengan konsep yang berbeda, yang harus berubah dan hal-hal yang tidak boleh berubah di tengah berbagai perubahan,” ujar Woo-Seok, seperti dikutip dari Maeil Business Newspaper, Rabu (4/12/2024). 

Kehadiran anak kecil yang tiba-tiba itu memberikan tanda tanya besar bagi keluarga Ham Mu-Ok. Asal usulnya tidak ada yang tahu. Si anak laki-laki, Min-Guk berani berkata bahwa ayahnya Mun-Seok setelah mendapatkan namanya dari rumah sakit tempat ia dilahirkan. Mu-Ok yang kesepian boleh saja bahagia memiliki cucu, tapi bagaimana dengan perjalanan spiritual Mun-Seok seorang biksu? 

Salah satu adegan film "About Family".

Lebih jauh lagi, Woo-Seok menjelaskan, “Menurutku ini adalah kisah tentang bagaimana dia (Mu-Ok) yang pikirannya sangat tradisional harus membuka luas dan menerima arti keluarganya. Pada akhirnya, semua orang berkembang.”

Woo-Seok mampu membuat kisah keluarga yang biasa-biasa saja menjadi unik dengan kemunculan adegan-adegan yang tidak terduga. Hubungan chemistry kedua tokoh utama saling tarik menarik karena karakter Mu-Ok yang heboh dipadu dengan Mun-Seok yang tenang.

Cerita yang tertatih

Tampak Woo-Seok tidak main-main memilih musik sebagai elemen penting dari suatu cerita. Kisah yang menyentuh sangat didukung oleh latar musik yang bisa tiba-tiba menghadirkan suara biola menghibur atau musik klasik yang cepat. Pengambilan gambar banyak fokus pada setiap karakter. Namun, penonton tenang saja. Tidak akan bosan melihat area perkotaan, kamar, atau toko pangsit. Mata penonton juga akan dimanja oleh pemandangan pegunungan. Akan tetapi About Family juga memiliki kelemahan CGI (computer generated imagery) yang tidak terlihat natural. 

Secara sengaja, pola About Family terlihat jelas. Mulai dari adegan jenaka, lanjut ke adegan yang menyentuh, adegan lucu lagi, lalu tiba-tiba adegan yang filosofis seperti saat Mun-Seok dan In-Haeng berbincang tentang dunia biksu. Kemudian dari pola cerita tersebut, About Family juga masih memberikan beberapa adegan kilas balik untuk mendukung cerita masa sekarang. Maka tak heran jika tawa penonton bisa langsung tergantikan dengan air mata. Dari adegan kilas balik, penonton dapat dibuat tercengang menyaksikan fakta lucu dari kehidupan Mun-Seok sebelum menjadi biksu.

Meskipun terlihat lucu, kisah dalam film ini terasa sangat padat. Sang sutradara lewat karakter Mu-Ok telah berhasil menampilkan orangtua yang memiliki keinginan untuk meneruskan darah keluarga agar tidak berhenti begitu saja dan karakter Mun-Seok yang acuh tak acuh dengan garis keturunan. 

Salah satu adegan film "About Family".

Woo-Seok membutuhkan penghubung jalannya cerita mengenai luka dan pertumbuhan tiap-tiap karakter. Namun, kekurangannya tampak jelas saat cerita tentang keluarga itu harus menghadapi konflik yang menumpuk. Konflik tersebut memang mendukung cerita, tapi terasa tidak perlu-perlu amat. 

Mengikuti laju cerita yang cepat nan padat dengan pola yang solid, penonton dapat merasakan adegan yang patah dan terlampau dipaksakan untuk menghilangkan kisah sedih sementara waktu. Kamera berputar cepat dari adegan satu ke adegan berikutnya, tapi patahan itu terasa sangat jelas. Berbagai macam konflik yang ditambahkan itu terasa tidak memiliki peran signifikan dalam jalannya cerita.

Walaupun memiliki sejumlah kekurangan, About Family merupakan film yang hangat untuk membuka tahun 2025 bersama orang tercinta. Film ini diharapkan menimbulkan pertanyaan tentang arti keluarga dalam hati setiap penonton. 

Catatan: Artikel ini hasil kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, yakni Giofanny Sasmita, mahasiswi jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dwi AS Setianingsih
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto