Aceh Tamiang Masih Memilukan, Hunian Sementara Mendesak

Lumpur material bencana dan puing-puing masih tutupi jalan.  Anak-anak terjangkit sakit kulit dan diare. Warga ramai-ramai minta bantuan di tepi jalan.

12 Des 2025 15:26 WIB · Lingkungan

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Oleh Adrian Fajriansyah

Ribuan warga Aceh Tamiang yang kehilangan rumah akibat bencana ekologis sangat berharap pemerintah segera menyediakan hunian sementara atau huntara. Keberadaan huntara akan meningkatkan kualitas hidup warga di tengah keterpurukan dan kebutuhan pemulihan warga.

Saat memasuki kawasan Aceh Tamiang, Kamis (11/12/2025), Kompas mendapati pemandangan memilukan hati tampak di sepanjang jalan. Lumpur sisa material bencana masih menutupi jalan, puing bangunan terserak di mana-mana, anak-anak terjangkit sakit kulit dan diare, banyak warga meminta bantuan di tepi jalan, hingga gubuk-gubuk terpal dibangun darurat di tepi jalan dan di bawah jembatan.

Di kanan dan kiri jalan, puluhan hingga ratusan rumah ataupun kedai usaha porak-poranda. Sebagian rumah mereka masih dipenuhi lumpur, ada pula yang ambruk sebagian hingga total. Debu pekat pun beterbangan di sepanjang jalan. Debunya menyesakkan napas meskipun masker telah dipasang. Saat melintas, tubuh berselimut debu.

Sebagian warga masih terus berusaha menyelamatkan harta benda yang telah dipenuhi lumpur. Mulai dari pakaian, kasur, elektronik, hingga kendaraan. Tak sedikit yang duduk-duduk termenung melihat harta benda yang tak lagi bersisa.

Sebelum memasuki ibu kota Aceh Tamiang, Kuala Simpang, terlihat anak-anak dan orang dewasa berdiri di pinggir jalan. Mereka menengadahkan tangan meminta sumbangan kepada pengendara yang melintas. ”Om, minta bantuannya, Om,” ujar mereka.

Lumpur sisa material bencana memenuhi sepanjang jalan di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).

Suasana kian memilukan terlihat di pusat kota Kuala Simpang. Hampir semua sudut kota itu masih dipenuhi lumpur. Ada lumpur yang sudah mengering sehingga menimbulkan debu pekat di sebagian besar jalanan. Ada lumpur yang masih basah sehingga menyebabkan jalanan becek dan licin. Sesekali, tercium pula aroma tidak sedap, semacam bau dari bangkai yang mulai membusuk.

Beberapa toko bangunan selamat dari bencana, tetapi toko-toko itu tutup. Nyaris tiada kehidupan di pusat niaga atau pasar. Ada toko yang dibuka, tetapi pemiliknya sibuk membersihkan lumpur yang masuk.

Beranjak menyeberang Jembatan Kuala Simpang, jejak kedahsyatan bencana tampak jelas di sepanjang tepian Sungai Tamiang. Hampir semua bangunan di sana rata dengan tanah karena disapu banjir bandang tempo hari. Batang-batang pohon berukuran besar yang terbawa banjir pun berserakan.

Keadaan meremukkan hati terasa saat menyusuri jalanan di tepian sungai tersebut. Jalanan menyempit karena dipenuhi sisa material bencana dan perabotan rumah yang rusak.

Debu pekat menyesakkan dada efek lumpur sisa material bencana yang mengering di sepanjang jalan di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Debu pekat menyesakkan dada efek lumpur sisa material bencana yang mengering di sepanjang jalan di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Lumpur sisa material bencana memenuhi sepanjang jalan di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Potret kehidupan di tepian Sungai Tamiang yang terdampak bencana paling parah di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).

Banyak warga mendirikan tenda atau gubuk untuk mereka berlindung dari sengatan matahari ataupun hujan. Untuk menandai kehidupan di tenda atau gubuk tersebut, mereka menyalakan api unggun dari kayu sisa material bencana yang menghantam permukiman.

Anak-anak tampak tetap riang meski bermain di antara puing bekas rumahnya. Sebaliknya, orang-orang lebih dewasa sibuk memilih pakaian bekas yang disumbangkan oleh donatur. Sebagian lagi ikut antrean panjang saat datang sukarelawan yang membawa bantuan makanan, air bersih, obat-obatan, ataupun layanan medis.

Pemandangan itu mengingatkan pada suasana di medan perang seperti yang ditampilkan dalam foto ataupun video dokumenter. Kondisi kota menjadi mencekam layaknya kota mati. Orang-orang mencoba bertahan hidup seadanya di tengah permukiman yang sudah luluh lantak.

Salah seorang warga terdampak asal Kampung Kota Lintang Bawah, Kiki Lestari (28), mengatakan, bantuan makanan, air bersih, obat-obatan, dan layanan medis mulai berdatangan. Silih berganti, donatur atau sukarelawan membawa segenap bantuan itu ke kampung-kampung terdampak.

Kiki Lestari menunjukkan jejak penyakit kulit yang dialami anak ketiganya selama dampak bencana terjadi di kampungnya di Kampung Kota Lintang Bawah di tepian Sungai Tamiang, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).

Anak ketiga Kiki yang baru berusia setahun menerima pengobatan penyakit kulit yang dialami selama bencana. ”Anak saya kena gatal-gatal sejak awal bencana. Hari ini, ada tim medis datang mengobati anak saya. Mereka beri salep dan antibiotik,” ujarnya.

Kini, menurut Kiki, yang mereka sangat butuhkan adalah hunian sementara yang layak. Sebab, tinggal di tenda atau gubuk yang dibuat sendiri oleh warga sangat tidak nyaman. Mayoritas tenda yang dibuat dari terpal plastik tidak ada dinding penutup dan berdiri langsung di atas tanah. Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di gubuk yang terbuat dari kayu sisa material bencana.

Akibatnya, warga tidak bisa menghindari debu yang menyesakkan saat istirahat. Saat cuaca tidak hujan, tenda atau gubuk pun tidak bisa menjadi tempat berlindung dari serangan kerumunan nyamuk. Sebaliknya, ketika hujan, cipratan air dengan mudahnya masuk ke tenda atau gubuk sehingga membuat penghuninya kebasahan.

”Kami semua belum bisa beristirahat dengan normal hingga sekarang. Sebab, kalau tidak digigit nyamuk, kami tidur dengan kondisi basah. Kasihan anak-anak kecil, terutama yang masih bayi, dan orang lanjut usia, mereka sangat menderita dengan kondisi ini. Bahkan, banyak anak-anak dan orang lanjut usia yang mulai batuk-batuk, demam, flu, dan terkena penyakit kulit,” tutur Kiki.

Warga terdampak mendirikan tenda dan gubuk seadanya untuk hunian darurat di sepanjang tepian Sungai Tamiang yang terdampak bencana paling parah di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Kondisi tepian Sungai Tamiang di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Hunian darurat di tepian Sungai Tamiang di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Warga terdampak mendirikan tenda dan gubuk seadanya untuk hunian darurat di sepanjang tepian Sungai Tamiang yang terdampak bencana paling parah di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Debu pekat menyesakkan dada efek lumpur sisa material bencana yang mengering di sepanjang jalan di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).
Hunian darurat di tepian Sungai Tamiang di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).

Kiki berharap pemerintah segera mendirikan hunian sementara yang layak agar warga terdampak bisa kembali istirahat dengan baik. Hunian sementara yang dimaksud berupa tenda, tetapi memiliki dinding penutup sehingga bisa melindungi dari serangan nyamuk dan tempias air hujan.

Warga juga berharap ada bantuan perlengkapan tidur, seperti kasur, bantal, selimut, dan kelambu. ”Selama terdampak bencana, kami tidur tanpa alas dan tanpa batal, sedangkan selimut menggunakan kain seadanya,” ucapnya.

Warga Kampung Kota Lintang Bawah lainnya, Iskandar (59), menyampaikan, hunian sementara tidak hanya membuat korban bisa beristirahat dengan lebih baik. Kehadiran hunian sementara pun memungkinkan warga kembali berkumpul dengan keluarga ataupun kerabat. Secara psikologis, itu sangat penting untuk saling menguatkan guna menuju pemulihan aktivitas.

”Sekarang, karena perlengkapan untuk membuat tenda dan gubuk sangat terbatas, banyak keluarga yang tidak bisa berkumpul atau istirahat bersama. Bapak-bapak harus mengalah tidur di luar. Dalam suasana seperti ini, bisa berkumpul dengan keluarga dalam satu hunian sangat penting. Kami merasa lebih aman dan nyaman kalau bisa kembali berkumpul dalam satu naungan,” kata Iskandar.

Anak-anak meminta sumbangan di sepanjang jalan menuju pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).

Berdasarkan Laporan Pantauan Data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Pos Komando Terpadu Pemerintah Aceh hingga Kamis pukul 20.00 WIB, Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah dari total 18 kabupaten/kota yang terdampak bencana di Aceh. Tercatat bencana di Aceh Tamiang menyebabkan 28 jiwa meninggal dan 18 orang luka berat.

Selain itu, 209.460 jiwa atau 59.220 keluarga harus mengungsi dari total 298.839 jiwa atau 75.506 keluarga yang terdampak bencana di 216 kampung dari 12 kecamatan di Aceh Tamiang. Para pengungsi tidak bisa kembali ke rumah karena kondisi rumah yang porak-poranda. Terdata ada 2.811 rumah warga yang rusak ringan hingga berat di sana.

Quote

Selama terdampak bencana, kami tidur tanpa alas dan tanpa batal, sedangkan selimut menggunakan kain seadanya.

Sukarelawan dari Yayasan Darah untuk Aceh, Nurjanah Husein, juga menyoroti kondisi tempat tinggal warga terdampak saat ini. Nurjanah aktif mendirikan dapur umum di Kota Langsa dan menyalurkan makanan ke kampung-kampung terdampak setiap hari dalam lebih kurang 10 hari terakhir.

Hunian sementara memang menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak untuk warga. Tujuannya, agar mereka bisa mendapatkan kualitas hidup lebih baik dan bisa menata diri untuk mulai memulihkan aktivitasnya.

Yang tidak kalah penting, pemerintah pun harus segera membersihkan sisa material bencana yang masih berserakan di jalanan, terutama sisa lumpur. Hingga kini, sisa lumpur telah memicu debu pekat saat cuaca kering dan jalanan becek ketika turun hujan. Hal itu sangat berdampak terhadap kesehatan dan mobilitas warga.

”Debu itu sangat berbahaya karena begitu pekat. Kami baru sebentar berada di sana saja bisa langsung sesak napas walau sudah memakai masker tebal,” ujarnya. Jika terus berlanjut, kondisi itu akan berefek buruk untuk kesehatan para korban, khususnya anak-anak dan orang lanjut usia.

Tanggap darurat

Pemerintah Aceh menyadari bahwa belum sepenuhnya dampak bencana tertangani, termasuk penyediaan hunian sementara untuk warga terdampak. Atas dasar itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem pada Rabu (10/12/2025) malam mengumumkan, pihaknya memperpanjang status tanggap darurat bencana Aceh.

Tumpukan batang-batang kayu yang terbawa material bencana yang mengering di sepanjang jalan di pusat kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025).

Perpanjangan status itu ditetapkan selama 14 hari, terhitung mulai 12 Desember hingga 25 Desember 2025. Mualem mengatakan, langkah perpanjangan status itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi di lapangan. Saat ini, dampak bencana masih memerlukan penanganan terpadu lintas sektor untuk evakuasi warga, distribusi logistik, hingga perbaikan kerusakan jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya.

Mualem menuturkan, keputusan perpanjangan status itu sekaligus memastikan semua perangkat pemerintah tetap siaga dan fokus pada upaya penanganan dampak bencana hingga kondisi kembali stabil. Selama masa perpanjangan status tersebut, Pemerintah Aceh akan terus mengevaluasi hasil penanganan yang dilakukan.

”Durasi status tanggap darurat yang ditetapkan selama 14 hari tersebut masih bersifat fleksibel. Pemerintah Aceh dapat memperpanjang atau memperpendek masa tanggap darurat sesuai kebutuhan dan perkembangan situasi di lapangan,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau kerusakan sejumlah infrastruktur vital di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Desa itu menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak bencana.

AHY mengatakan, pemerintah pusat berkomitmen mempercepat pembersihan jalur transportasi dan kelancaran distribusi logistik di Aceh Tamiang. ”Kami sudah meminta kepada kepala balai agar segera mengerahkan alat-alat berat untuk membersihkan jalan dan membuka kembali akses jalan maupun jembatan yang putus,” kata AHY.

Dengan dampak bencana yang begitu parah, pemulihan di Aceh Tamiang harus segera dilakukan dan menjadi prioritas utama. Setidaknya, hal itu harus dimulai dari penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak. Jangan biarkan warga terlalu lama merasakan tinggal di tenda dan gubuk derita.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti