Akses darat yang lumpuh membuat distribusi bantuan terhambat. Sampai Kamis (27/11/2025) pukul 16.00 WIB, 119.988 warga di 16 kota/kabupaten di Aceh terdampak.
27 Nov 2025 18:35 WIB · Lingkungan
Dokumentasi Pemprov Aceh
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem resmi menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi 2025 menyusul banjir dan longsor besar yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh. Akses transportasi darat yang lumpuh membuat distribusi bantuan ke daerah yang dilanda bencana terhambat.
Penetapan status darurat bencana itu disampaikan dalam rapat paripurna pengesahan Rancangan Qanun APBA 2026 di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Kamis (27/11/2025).
”Saya Gubernur Aceh menetapkan Keputusan Gubernur Aceh tentang Penetapan Status Keadaan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Aceh tahun 2025. Penetapan tanggap darurat bencana tersebut akan berlangsung selama 14 hari, sejak tanggal 28 November hingga 11 Desember 2025,” kata Mualem dalam konferensi pers di Aceh.
Menurut Mualem, pemerintah Aceh telah menyalurkan bantuan darurat ke sejumlah kabupaten/kota yang dilanda bencana banjir dan longsor. Namun, dia mengakui akses transportasi lumpuh, termasuk putusnya jembatan di jalur nasional Banda Aceh-Medan. Situasi itu membuat distribusi bantuan dan mobilisasi petugas ke lokasi bencana terhambat.
”Kami tangani semaksimal mungkin, apa yang dibutuhkan masyarakat sudah kami layani, sembako dan lain-lain buat sementara ini. Kami kewalahan juga karena beberapa jembatan terputus, seperti di wilayah tengah dan timur karena transportasi tidak ada,” kata Mualem saat wawancara dengan media di Aceh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/7cebbc806f1ef53baabe72395456bdbe-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_14.41.12.jpeg)
Menurut dia, penetapan status darurat diharapkan mempercepat mobilisasi logistik, evakuasi, dan dukungan lintas lembaga untuk menangani bencana yang kini meluas di berbagai daerah di Aceh. Dia juga telah meminta Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menyediakan helikopter untuk mempercepat distribusi bantuan ke wilayah yang terkena bencana dan daerah yang terisolasi.
Bencana melanda hampir seluruh wilayah Aceh sepekan terakhir. Daerah yang terkena bencana meliputi wilayah pesisir pantai timur, pantai utara, hingga dataran tinggi Gayo. Puluhan ribu warga terdampak, desa-desa terisolasi, dan infrastruktur vital rusak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) per 27 November 2025 pukul 16.00 WIB, jumlah warga yang terdampak bencana banjir dan longsor tercatat 119.988 orang, sebanyak 20.759 orang di antaranya mengungsi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/76a80a5081d798cdd7ebb81751eea820-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_17.56.43.jpeg)
Data itu dihimpun dari 16 kabupaten/kota yang dilanda bencana di Aceh, yaitu Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan. Di Kabupaten Bener Meriah, satu orang dinyatakan hilang terseret arus ketika banjir bandang terjadi di wilayah Kecamatan Wih Pesam.
Sementara itu, Komandan Resor Militer 011/Lilawangsa Kolonel Infanteri Ali Imran mengatakan, dari laporan petugas di lapangan, sejumlah daerah di Aceh masih terendam banjir dan tertimbun longsor. Tim gabungan yang berupaya menyelamatkan dan mengevakuasi warga membutuhkan alat berat untuk membuka jalur yang masih terisolasi.
”Masih banyak (warga) yang terjebak di atap rumah. Bahkan, ada jenazah yang belum bisa dievakuasi,” kata Ali saat dihubungi dari Bandar Lampung, Kamis (27/11/2025).
Sampai saat ini, semua prajurit TNI di Aceh masih berupaya mengevakuasi dan menyelamatkan warga menggunakan perahu karet dan peralatan yang ada di lokasi. Kendati dalam kondisi terbatas, aparat terus berupaya menyelamatkan para korban banjir.
Menurut Ali, para korban bencana banjir dan longsor di Aceh sangat membutuhkan bantuan makanan siap saji dan pakaian. Selain itu, tim penyelamat di lapangan juga masih membutuhkan bantuan perahu untuk mengevakuasi warga. Dia berharap, helikopter yang membawa bantuan makanan dan obat-obatan bisa segera didatangkan ke sejumlah titik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/8aaebd9dfdf0206a4da8e0202bd77d53-WhatsApp_Image_2025_11_26_at_19.09.52.jpeg)
Adapun Danramil 19/Sawang Kodim 0103/Aceh Utara Kapten Infanteri Syamsul Hamdani mengatakan, pihaknya mengevakuasi sekitar 100 warga yang terjebak banjir di dalam rumah di Desa Punteut dan Desa Meunasah Pulo, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Walaupun air berangsur surut, penyelamatan berlangsung dramatis karena derasnya arus banjir sehingga petugas harus berhati-hati. ”Saat ini kami masih standby di Banda Baro. Kami belum bisa kembali karena jembatan di Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, belum bisa dilalui. Air deras dengan ketinggian 70 sentimeter,” katanya.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar