- Bagaimana produksi beras sepanjang 2025?
- Mengapa bencana ekologis Sumatera tidak terlalu berdampak pada produksi beras 2025?
- Bagaimana El Nino bisa mengancam produksi beras 2026?
- Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencegah gagal panel akibat El Nino?
Bagaimana produksi beras sepanjang 2025?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, potensi produksi beras nasional pada 2025 sebesar 34,71 juta ton. Angka itu telah melampaui kebutuhan konsumsi beras nasional setahun yang sebanyak 31,19 juta ton. Masih ada surplus sebanyak 3,52 juta ton.
Dengan pencapaian tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia berhasil swasembada beras pada 2025. Panen raya diselenggarakan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026) siang.
Prabowo mengatakan, semula swasembada beras ditargetkan bisa terealisasi pada 2029 atau empat tahun. Namun, swasembada beras justru dapat direalisasikan lebih cepat, yakni pada 2025.
”Saya mencatat capaian ini sebagai kemenangan penting bagi bangsa Indonesia,” ujar Presiden.
Merujuk pada Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), swasembada pangan tercapai jika produksi dalam negeri suatu negara untuk komoditas tertentu mencapai 90 persen atau lebih dari kebutuhan nasional. Adapun sisanya, yakni 10 persen, dapat dipenuhi melalui impor.
Tahun 2025, potensi produksi beras melampaui kebutuhan nasional atau surplus. Berkat surplus itu, Bapanas menyebut, stok beras nasional pada awal 2026 bisa mencapai 12,53 juta ton.
Stok itu termasuk cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum bulog sebanyak 3,25 juta ton. Sisanya tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta hotel, restoran, dan katering.
Mengapa bencana ekologis Sumatera tidak terlalu berdampak pada produksi beras nasional 2025?
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, Senin (5/1/2026), menjelaskan, pada November 2025 proporsi lahan yang sedang ditanami padi (standing crop) di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebesar 34,63 persen.
Proporsi luas lahan November 2025 sedikit lebih kecil dibandingkan November 2024 yang sebesar 36,7 persen. Ini terjadi lantaran sejumlah daerah di tiga provinsi itu terdampak banjir. Pada November 2025 sebesar 11,43 persen lahan pertanian yang biasa ditanami padi di tiga provinsi tersebut berpotensi gagal panen.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa, Selasa (6/1/2026), berpendapat, luas panen padi dan produksi beras di Aceh, Sumut, dan Sumbar memang berpotensi turun. Namun, penurunannya diperkirakan tidak terlalu signifikan terhadap total produksi beras nasional pada 2025, bahkan pada 2026. Ini mengingat potensi produksi beras nasional, terutama sepanjang 2025, cukup tinggi, yakni 34,71 juta ton.
Meski begitu, sawah yang rusak akibat bencana tetap harus dipulihkan untuk menjaga ketahanan pangan di ketiga daerah itu. Diperkirakan perlu waktu enam bulan hingga setahun untuk memulihkan sawah yang rusak di sana.
Mengapa potensi El Nino dan serangan hama pada 2026 mesti diwaspadai?
El Nino merupakan fenomena iklim regional, yang dipicu oleh anomali suhu Samudra Pasifik tropis yang lebih panas dari kondisi normal. Akibatnya, terjadi perubahan pola angin dan pola hujan global. Di Indonesia, El Nino menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan.
Di sektor pertanian, dampak El Nino terhadap produksi beras nasional sudah terasa berkali-kali. Pada 1997/1998 dan 2023/2024, misalnya, El Nino yang membuat produksi padi Indonesia turun.
Produksi pada 1998 turun sebesar 3,6 persen dibandingkan panen tahun 1997 dan 6 persen dibandingkan dengan panen tahun 1996. Sementara itu, pada 2024 produksi beras nasional pada Januari-Desember sebesar 30,34 juta ton atau turun 760.000 ton (2,43 persen) dibandingkan dengan realisasi produksi beras tahun 2023 sebesar 31,1 juta ton.
Penurunan produksi beras terbesar terjadi pada Januari-April 2024, yakni sebesar 1,91 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023. Produksi beras pada periode itu turun lantaran terdampak fenomena El Nino yang menyebabkan musim tanam mundur sehingga berpengaruh ke luas panen padi.
Tahun 2026, Severe Weather Europe dan Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) memperkirakan, El Nino akan kembali datang pada Juli 2026 hingga Juli 2027. El Nino tersebut berpotensi menyebabkan kemarau panjang, seperti yang terjadi pada Juli 2023 hingga Mei 2024.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa, Selasa (6/1/2026), mengatakan, ada potensi gagal panen padi yang perlu diwaspadai akibat El Nino. Jika itu terjadi, produksi beras nasional 2026 dan 2027 bisa turun.
Berapa persen potensi penurunan produksi beras nasional pada 2026?
Selain El Nino, serangan hama dan penyakit padi juga berpotensi terjadi. Ini mengingat produksi padi dalam beberapa tahun terakhir dipacu sepanjang tahun tanpa jeda atau sela tanam.
Jika dihitung dampak bencana di Sumatera, potensi El Nino, dan serangan hama-penyakit, Dwi Andreas memperkirakan produksi beras nasional pada 2026 turun sekitar 5 persen atau 1,73 juta ton dibandingkan produksi beras nasional pada 2025 yang diperkirakan sebanyak 34,71 juta ton.
Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencegah gagal panel akibat El Nino?
Menurut Dwi Andreas, sejumlah langkah perlu diambil pemerintah untuk mengantisipasi gagal panen akibat El Nino. Pertama, membangun jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier di sejumlah daerah yang memiliki waduk dan bendungan baru. Selain itu, memperbaiki jaringan irigasi yang sudah ada serta mengalami kerusakan atau tersedimentasi.
Kedua, menerapkan sistem pengelolaan air yang lebih efisien, terutama di daerah-daerah yang memiliki jaringan irigasi. Metode intermittent rice cultivation atau penanaman padi berselang bisa menjadi salah satu opsi.
Metode itu merujuk pada praktik pengelolaan irigasi di mana air tidak terus-menerus menggenangi sawah, tetapi diterapkan secara berselang-seling antara kondisi tergenang dan kering.
Ketiga, gulirkan pompanisasi di sawah-sawah yang dekat dengan sumber-sumber air, terutama di daerah aliran sungai. Untuk areal persawahan tadah hujan, pembangunan sumur-sumur dalam atau air tanah bisa menjadi solusinya.
Keempat, terapkan kembali pola tanam padi berjeda untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit, serta menjaga kesuburan tanah.
Kelima, perbanyak pengembangan dan penanaman varietas padi yang tahan terhadap perubahan iklim, termasuk padi yang tidak memerlukan banyak asupan air.
- Bagaimana produksi beras sepanjang 2025?
- Mengapa bencana ekologis Sumatera tidak terlalu berdampak pada produksi beras 2025?
- Bagaimana El Nino bisa mengancam produksi beras 2026?
- Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencegah gagal panel akibat El Nino?
Bagaimana produksi beras sepanjang 2025?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, potensi produksi beras nasional pada 2025 sebesar 34,71 juta ton. Angka itu telah melampaui kebutuhan konsumsi beras nasional setahun yang sebanyak 31,19 juta ton. Masih ada surplus sebanyak 3,52 juta ton.
Dengan pencapaian tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia berhasil swasembada beras pada 2025. Panen raya diselenggarakan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026) siang.
Prabowo mengatakan, semula swasembada beras ditargetkan bisa terealisasi pada 2029 atau empat tahun. Namun, swasembada beras justru dapat direalisasikan lebih cepat, yakni pada 2025.
”Saya mencatat capaian ini sebagai kemenangan penting bagi bangsa Indonesia,” ujar Presiden.
Merujuk pada Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), swasembada pangan tercapai jika produksi dalam negeri suatu negara untuk komoditas tertentu mencapai 90 persen atau lebih dari kebutuhan nasional. Adapun sisanya, yakni 10 persen, dapat dipenuhi melalui impor.
Tahun 2025, potensi produksi beras melampaui kebutuhan nasional atau surplus. Berkat surplus itu, Bapanas menyebut, stok beras nasional pada awal 2026 bisa mencapai 12,53 juta ton.
Stok itu termasuk cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum bulog sebanyak 3,25 juta ton. Sisanya tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta hotel, restoran, dan katering.
Mengapa bencana ekologis Sumatera tidak terlalu berdampak pada produksi beras nasional 2025?
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, Senin (5/1/2026), menjelaskan, pada November 2025 proporsi lahan yang sedang ditanami padi (standing crop) di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebesar 34,63 persen.
Proporsi luas lahan November 2025 sedikit lebih kecil dibandingkan November 2024 yang sebesar 36,7 persen. Ini terjadi lantaran sejumlah daerah di tiga provinsi itu terdampak banjir. Pada November 2025 sebesar 11,43 persen lahan pertanian yang biasa ditanami padi di tiga provinsi tersebut berpotensi gagal panen.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa, Selasa (6/1/2026), berpendapat, luas panen padi dan produksi beras di Aceh, Sumut, dan Sumbar memang berpotensi turun. Namun, penurunannya diperkirakan tidak terlalu signifikan terhadap total produksi beras nasional pada 2025, bahkan pada 2026. Ini mengingat potensi produksi beras nasional, terutama sepanjang 2025, cukup tinggi, yakni 34,71 juta ton.
Meski begitu, sawah yang rusak akibat bencana tetap harus dipulihkan untuk menjaga ketahanan pangan di ketiga daerah itu. Diperkirakan perlu waktu enam bulan hingga setahun untuk memulihkan sawah yang rusak di sana.
Mengapa potensi El Nino dan serangan hama pada 2026 mesti diwaspadai?
El Nino merupakan fenomena iklim regional, yang dipicu oleh anomali suhu Samudra Pasifik tropis yang lebih panas dari kondisi normal. Akibatnya, terjadi perubahan pola angin dan pola hujan global. Di Indonesia, El Nino menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan.
Di sektor pertanian, dampak El Nino terhadap produksi beras nasional sudah terasa berkali-kali. Pada 1997/1998 dan 2023/2024, misalnya, El Nino yang membuat produksi padi Indonesia turun.
Produksi pada 1998 turun sebesar 3,6 persen dibandingkan panen tahun 1997 dan 6 persen dibandingkan dengan panen tahun 1996. Sementara itu, pada 2024 produksi beras nasional pada Januari-Desember sebesar 30,34 juta ton atau turun 760.000 ton (2,43 persen) dibandingkan dengan realisasi produksi beras tahun 2023 sebesar 31,1 juta ton.
Penurunan produksi beras terbesar terjadi pada Januari-April 2024, yakni sebesar 1,91 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023. Produksi beras pada periode itu turun lantaran terdampak fenomena El Nino yang menyebabkan musim tanam mundur sehingga berpengaruh ke luas panen padi.
Tahun 2026, Severe Weather Europe dan Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) memperkirakan, El Nino akan kembali datang pada Juli 2026 hingga Juli 2027. El Nino tersebut berpotensi menyebabkan kemarau panjang, seperti yang terjadi pada Juli 2023 hingga Mei 2024.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa, Selasa (6/1/2026), mengatakan, ada potensi gagal panen padi yang perlu diwaspadai akibat El Nino. Jika itu terjadi, produksi beras nasional 2026 dan 2027 bisa turun.
Berapa persen potensi penurunan produksi beras nasional pada 2026?
Selain El Nino, serangan hama dan penyakit padi juga berpotensi terjadi. Ini mengingat produksi padi dalam beberapa tahun terakhir dipacu sepanjang tahun tanpa jeda atau sela tanam.
Jika dihitung dampak bencana di Sumatera, potensi El Nino, dan serangan hama-penyakit, Dwi Andreas memperkirakan produksi beras nasional pada 2026 turun sekitar 5 persen atau 1,73 juta ton dibandingkan produksi beras nasional pada 2025 yang diperkirakan sebanyak 34,71 juta ton.
Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk mencegah gagal panel akibat El Nino?
Menurut Dwi Andreas, sejumlah langkah perlu diambil pemerintah untuk mengantisipasi gagal panen akibat El Nino. Pertama, membangun jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier di sejumlah daerah yang memiliki waduk dan bendungan baru. Selain itu, memperbaiki jaringan irigasi yang sudah ada serta mengalami kerusakan atau tersedimentasi.
Kedua, menerapkan sistem pengelolaan air yang lebih efisien, terutama di daerah-daerah yang memiliki jaringan irigasi. Metode intermittent rice cultivation atau penanaman padi berselang bisa menjadi salah satu opsi.
Metode itu merujuk pada praktik pengelolaan irigasi di mana air tidak terus-menerus menggenangi sawah, tetapi diterapkan secara berselang-seling antara kondisi tergenang dan kering.
Ketiga, gulirkan pompanisasi di sawah-sawah yang dekat dengan sumber-sumber air, terutama di daerah aliran sungai. Untuk areal persawahan tadah hujan, pembangunan sumur-sumur dalam atau air tanah bisa menjadi solusinya.
Keempat, terapkan kembali pola tanam padi berjeda untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit, serta menjaga kesuburan tanah.
Kelima, perbanyak pengembangan dan penanaman varietas padi yang tahan terhadap perubahan iklim, termasuk padi yang tidak memerlukan banyak asupan air.