Ada Apa dengan Iga Swiatek?

Petenis putri Iga Swiatek terpuruk di lapangan tanah liat yang selama ini menjadi zona nyamannya. Swiatek bergelut dengan masalah mental.

11 Mei 2025 16:04 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Empat jam setelah kalah dari Danielle Collins pada babak ketiga turnamen tenis WTA 1000 Roma, Iga Swiatek masuk ke ruang konferensi pers dengan mata merah. Menjadi momen yang tak biasa ketika petenis menghadiri konferensi pers dengan jeda waktu selama itu setelah menyelesaikan pertandingan.

Di antara jawaban yang disampaikan kepada wartawan adalah ungkapan rasa pesimistis menjelang Grand Slam Perancis Terbuka di Roland Garros, Paris, 25 Mei-8 Juni. ”Sudah tentu, saya bodoh jika berharap terlalu banyak karena pada saat ini tidak bisa bermain dengan benar,” kata Swiatek.

Petenis putri Polandia itu mengatakan hal tersebut setelah dikalahkan Collins dengan skor 1-6, 5-7, di lapangan tanah liat Foro Italico, Roma, Italia, Sabtu (10/5/2025). Swiatek menjadi unggulan kedua, di bawah Aryna Sabalenka, dalam turnamen tersebut dan berstatus sebagai juara bertahan.

Kekalahan dari Collins menjadi yang kesembilan dari 36 pertandingan Swiatek pada 2025. Di lapangan tanah liat, Swiatek hanya enam kali menang dari sembilan pertandingan. Catatan itu tak menghasilkan gelar juara dalam level apa pun, bahkan Swiatek tak mencapai final dalam delapan turnamen.

Perjalanan sebelum Perancis Terbuka 2025 ini berbeda dengan setahun sebelumnya pada periode yang sama. Dia melesat melewati para kompetitor dengan 37 kali menang dan hanya empat kali kalah. Catatan itu menghasilkan empat gelar juara dari turnamen WTA 1000, yaitu di Doha, Indian Wells, Madrid, dan Roma. Gelar beruntun di Madrid dan Roma diteruskan dengan juara Perancis Terbuka untuk keempat kali setelah 2020, 2022, dan 2023. Swiatek pun menjadi petenis putri terbaik di lapangan tanah liat sejak 2022.

Quote

Saya pikir, saya tidak hadir untuk bertarung dan berjuang. Saya terlalu fokus pada kesalahan, padahal, itu adalah kesalahan.

Musim kompetisi 2025 berbeda bagi petenis berusia 23 tahun tersebut. Hasil terbaiknya adalah semifinal di arena Grand Slam Australia Terbuka, WTA Doha, Indian Wells, dan Madrid.

Poland's Iga Swiatek plays a backhand return to US' Danielle Collins during their women's singles match of the WTA Rome Open tennis tournament at Foro Italico in Rome on May 10, 2025. (Photo by MARCO BERTORELLO / AFP)

Media di Polandia menulis, Swiatek mengalami masa sulit sebelum bertanding di Madrid, 22 April-4 Mei, karena kakeknya meninggal. Swiatek sangat dekat dan menghormati sosok yang begitu percaya pada kemampuannya  itu. Swiatek, bahkan, mendedikasikan kemenangan pada babak keempat Australia Terbuka, Januari, untuk kakeknya.

Kehilangan sosok yang disayanginya itu bisa jadi mengganggu mental Swiatek. Seperti dikatakannya seusai dikalahkan Collins di Roma, petenis berusia 23 tahun tersebut merasa jiwanya tak berada di lapangan meski secara fisik berada di sana.

”Saya pikir, saya tidak hadir untuk bertarung dan berjuang. Saya terlalu fokus pada kesalahan, padahal itu adalah kesalahan,” katanya dalam laman tennis.com.

Tekanan pada mental itu tak hanya menyebabkan kekalahan cepat di Roma. Pada beberapa turnamen di tahun ini, Swiatek berulang kali emosi dan melampiaskannya dengan marah kepada anggota tim atau membanting raket. Padahal, petenis yang bersaing di arena profesional sejak 2016 tersebut adalah atlet yang sebelumnya dikenal karena kesabaran dan kedewasaannya.

Swiatek bekerja sama dengan psikolog olahraga, Daria Abramowicz, sejak berusia 17 tahun karena paham tentang pentingnya kesehatan mental. Dia pun menerapkan pendekatan psikologi dalam menghadapi ketatnya persaingan tenis profesional.

Salah satu yang dilakukan adalah mencatat apa yang harus dilakukan saat melawan petenis tertentu, lalu membaca catatan dalam bukunya di sela pertandingan. Terkadang, Swiatek langsung menuliskan apa yang di benaknya pada jeda di antara set.

Reaksi petenis Polandia, Iga Swiatek, saat melawan petenis AS Danielle Collins pada babak ketiga pertandingan WTA 1000 Roma di Foro Italico, Roma, Sabtu (10/5/2025).

Merasa tertekan

Meski memiliki tim pendukung kelas elite dan berada di atas petenis lain pada periode 2022-2024, bukan berarti Swiatek menjalani setiap langkah dengan mulus. Dia merasa tertekan ketika menjadi petenis nomor satu dunia yang pertama kali ditempati pada 4 April 2022 hingga 10 September 2023.

Swiatek, bahkan, meminta nasihat Roger Federer untuk mengatasi tekanan tersebut saat mereka bertemu di New York, sebelum Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2023. ”Dalam posisi sebagai petenis nomor satu dunia, saya selalu merasa dikejar orang lain. Saya berdiskusi dengan Roger agar bisa lebih menikmati posisi saya. Dia mengatakan, saya hanya harus fokus pada turnamen, bukan pada peringkat,” katanya, saat itu.

Setelah AS Terbuka 2023, Swiatek akhirnya kehilangan posisi puncak peringkat dunia karena gagal mempertahankan gelar juara (tersingkir pada babak keempat), tetapi selang delapan pekan kemudian, dia kembali ke peringkat teratas menggantikan Sabalenka. Empat gelar juara dari WTA 1000 dan dari Perancis Terbuka membuat Swiatek bertahan di puncak peringkat hingga 20 Oktober 2024.

Namun, kemenangan atas Jasmine Paolini di final Perancis Terbuka 2024 ternyata menjadi final terakhir Swiatek hingga menjelang turnamen itu digelar pada tahun berikutnya. Sejak momen di Roland Garros 2024, Swiatek mengalami serangkaian kekalahan yang berpengaruh pada mentalnya, yaitu kekalahan pada babak ketiga Wimbledon, semifinal Olimpiade Paris 2024, semifinal WTA Cincinnati, perempat final AS Terbuka, dan penyisihan grup Final WTA.

Menjelang akhir tahun, dia menjalani skorsing selama satu bulan karena doping. Swiatek pun menerima kritik dari penggemar tenis dan sesama petenis. Bagi sebagian orang, Swiatek berubah dari ”anak manis” menjadi ”bad girl”.

Melihat kembali perjalanan Swiatek dalam setahun terakhir, kombinasi dari berbagai situasi membuat mentalnya rapuh. Padahal, faktor inilah yang menjadi pembeda nyata antara petenis yang bisa konsisten bersaing di level atas dan yang sekadar ”hit and run”.

Petenis Polandia Iga Swiatek memukul bola ke arah petenis AS Danielle Collins pada babak ketiga pertandingan WTA 1000 Roma di Foro Italico, Roma, Sabtu (10/5/2025).

Rangkaian situasi tersebut, yang terakhir membuat Swiatek tersingkir pada babak ketiga WTA Roma, membuatnya akan terlempar dari peringkat tiga besar dunia untuk pertama kali sejak Maret 2022. Akibatnya, di Perancis Terbuka, Swiatek bisa saja bertemu Sabalenka lebih cepat dari final, babak yang memungkinkan mereka bertemu sebagai dua unggulan teratas dalam setahun terakhir.

”Saya sudah berbicara dengan tim dan kami akan mencoba mengubah beberapa faktor kunci dengan target pola pikir saya. Saya pun harus menemukan diri saya kembali. Kami tidak ingin menunggu terlalu lama karena sudah jelas saya tidak bisa bermain dengan benar,” kata Swiatek. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati