Volatilitas pasar beberapa waktu terakhir membuat investor harus mengevaluasi strategi investasi saham di masa depan.
08 Mei 2025 14:35 WIB · Ekonomi
Setiap Mei, adagium klasik di pasar modal, yakni ”sell in May and go away”, kembali berdengung. Artinya, investor melepas kepemilikan aset saham pada Mei, kemudian kembali beli pada November di tahun yang sama.
Adagium ini berakar dari pepatah kuno Inggris, ”sell in May and go away, and come back on St. Leger's Day” yang populer di kalangan pedagang, bangsawan, dan bankir London di Inggris.
Mereka memiliki tradisi meninggalkan kota selama musim panas dan baru kembali pada September untuk menghadiri acara pacuan kuda bergengsi, St. Leger's Day, di Doncaster, South Yorkshire.
Tradisi itu dalam waktu cukup lama membentuk kecenderungan kinerja pasar saham yang relatif lebih lesu selama periode Mei hingga Oktober. Periode ini secara tradisional dianggap kurang menggairahkan dibandingkan dengan periode November-April.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/29/88b0642d405f03de37c216947b3c39a2-12.jpg)
Head of IPOT Fund, Dody Mardiansyah, berpendapat, lanskap pasar global saat ini menampilkan karakteristik yang lebih dinamis dari sekadar adagium tersebut. Ini karena kondisi pasar keuangan tengah mengalami volatilitas tinggi akibat dari serangkaian faktor ekonomi dan geopolitik yang kompleks.
”Ketidakpastian ekonomi global yang meliputi perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara dan ancaman resesi, kebijakan moneter yang dinamis dari bank-bank sentral di seluruh dunia serta tensi geopolitik yang terus membara, semuanya berkontribusi pada kegelisahan pasar,” ujarnya dalam keterangan analisisnya, Jumat (2/5/2025).
Oleh karena itu, Dody mengingatkan agar investor perlu menimbang strategi ”sell in May and go away”. Investor perlu pendekatan yang jauh lebih hati-hati. Investor perlu menginterpretasikan dan mengaplikasikan strategi tidak secara dogmatis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/08/4409f34781924129f1c73b040f26b03b-Screenshot_20250508_120927_RTI_Business.jpg)
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam analisis pasarnya, mengatakan, Mei menyediakan probabilitas kenaikan harga saham paling kecil (sekitar 20 persen) dibanding 11 bulan lainnya. Pola ini setidaknya berlangsung selama lima tahun terakhir.
Sebaliknya, April mencatatkan 80 persen kenaikan harga tertinggi atau winning rate sejak 2021. Ini ditunjukkan dengan meroketnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 9,3 persen per April 2025.
Kenaikan indeks komposit saham pada April 2025 terjadi setelah terjadinya pola bearish atau koreksi saham dari level 7.200 di awal 2025 ke 5.900 pada awal April 2025 (minus 18 persen).
”Dalam mengantisipasi jargon musiman 'sell in May and go away', kita perlu analisis terlebih dahulu hal-hal penting yang akan datang bulan ini (Mei),” kata Liza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/10/6dccfb94-be56-485d-b886-e9436fc395ec_jpg.jpg)
Agenda penting global yang akan diantisipasi investor, antara lain, pengumuman data indikator ekonomi global berupa suku bunga acuan di Amerika Serikat. The Fed sedianya akan memutuskannya pada pertemuan FOMC di 8 Mei 2025.
Kemudian, pada 10 Mei 2025 akan ada pengumuman laporan neraca perdagangan China. Pada saat yang sama, akan ada laporan pertumbuhan pendapatan domestik bruto triwulan I-2025 di banyak negara. Di antaranya adalah Jepang, Inggris, dan Jerman.
Di Indonesia, investor juga akan mencermati sederet indikator data ekonomi makro penting. Semua faktor ini ikut memengaruhi pergerakan harga-harga saham.
Sejumlah indikator ekonomi makro penting sudah diumumkan. Terakhir adalah pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan I-2025 yang mencatatkan perlambatan ketimbang periode sama pada 2024.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/06/94f18f72-6c7c-4f44-9f4d-219df0b3b0ec_jpg.jpg)
Agenda nasional lain yang akan dicermati investor adalah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 Mei 2025. Hasil rapat ini akan mengumumkan arah kebijakan suku bunga yang kini masih sebesar 5,75 persen.
Sejauh ini, sejumlah indikator ekonomi makro yang telah diumumkan menunjukkan pelemahan. Namun, IHSG justru menghijau dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini, menurut Liza, antara lain, karena pelemahan IHSG sejak awal tahun telah membuat harga banyak saham begitu murah.
Pelaku pasar juga cenderung telah bisa menebak perkembangan ekonomi dalam negeri, berkaca dari kontraksi PDB Amerika Serikat yang dirilis pekan sebelumnya. PDB AS untuk pertama kalinya berkontraksi sejak 2022 akibat kebijakan agresif tarif impor dan pelemahan konsumsi.
Sementara itu, ekonomi Indonesia diprediksi hanya terdampak moderat jika perang tarif berkepanjangan. Bank Indonesia berpotensi memangkas suku bunga hingga 50 basis poin di paruh kedua 2025 apabila The Fed memangkas suku bunga acuan pada Juni atau Juli 2025.
Konsumsi rumah tangga domestik diperkirakan masih terus melemah di bawah 4,9 persen secara tahunan akibat masyarakat yang cenderung menahan pembelian. Pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang diperkirakan melemah lebih dalam bisa menjadi katalis negatif bagi pasar saham ke depan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/07/a87dd484-9caf-4472-a433-fc892f68058b_png.png)
Meski ada potensi pelemahan pasar setelah Mei 2025, Dody menyarankan investor menerapkan manajemen risiko yang disiplin dalam kondisi pasar yang bergejolak. Diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko dan alokasi aset yang sesuai dengan profil risiko masing-masing investor bisa menjadi strateginya.
”Keputusan investasi yang ideal bisa difokuskan dengan tujuan keuangan pribadi, profil risiko pribadi, pemahaman mendalam baik mengenai pasar, maupun mengenai keputusan yang akan ditentukan. Mengandalkan adagium pasar semata tanpa mempertimbangkan konteks dan kondisi pasar terkini dapat berpotensi merugikan,” ujar Dody.
Mengandalkan adagium pasar semata tanpa mempertimbangkan konteks dan kondisi pasar terkini dapat berpotensi merugikan.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, memarkirkan dana di Rekening Dana Nasabah (RDN) atau deposito mungkin tampak sebagai pilihan aman baik bagi investor maupun pedagang.
Meski demikian, perlu diingat, Dody menambahkan, dana yang mengendap di RDN umumnya hanya menghasilkan bunga yang relatif kecil. Dengan demikian, potensi pertumbuhannya menjadi terbatas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/31/3fb6ea67-e009-4e66-8368-f37cd415b724.jpg)
Sementara deposito menawarkan tingkat pengembalian yang lebih menarik, berkisar 3-4 persen per tahun. Akan tetapi, setelah dipotong pajak sebesar 20 persen dan adanya penalti untuk pencairan dana sebelum jatuh tempo, imbal hasil bersihnya menjadi kurang optimal dan likuiditasnya pun terbatas.
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), ia melanjutkan, bisa menjadi opsi yang dapat dipertimbangkan. RDPU menawarkan fleksibilitas dan likuiditas yang tinggi karena investor dapat mencairkan dana kapan saja tanpa dikenai penalti. Selain itu, potensi imbal hasil RDPU juga cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan RDN ataupun deposito.
Akhirnya, apa pun kemampuan dan kebutuhan investasi Anda, membaca berbagai faktor pergerakan harga pasar pada setiap instrumen investasi penting untuk memaksimalkan keuntungan Mei ini. Masih mau ”sell in May and go away”?
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto