Mereka yang memiliki kekuatan tidak menggunakannya untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Mereka cenderung memilih menggunakannya untuk kepentingan sendiri.
23 Nov 2024 07:07 WIB · Editorial
Situasi dunia bak telur di ujung tanduk. Keputusan sejumlah pemimpin negara adidaya menempatkan dunia kian dekat pada bahaya.
Eskalasi perang di Ukraina terus meningkat, bahkan membuka peluang terjadinya konflik nuklir menyusul penggunaan rudal balistik antarbenua (ICBM) oleh Rusia. Langkah itu dipicu kebijakan Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh yang dikirim Washington untuk menyerang wilayah Rusia.
Langkah Biden dipantik pengerahan 10.000 tentara Korea Utara oleh Rusia ke palagan Ukraina. Barat dan AS melihat keterlibatan Pyongyang adalah eskalasi signifikan yang perlu ditanggapi serius. Akan tetapi, seperti yang dunia saksikan, eskalasi itu memicu eskalasi baru yang bisa tak terkendali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/f5ccf4486762636cfb6cf747e40acc82-UKRAINE_RUSSIA_CONFLICT_WAR_125433695.jpg)
Kali ini ICBM yang ditembakkan Rusia masih menggotong hulu ledak konvensional. Namun, dengan situasi yang kian panas, siapa dapat menjamin Rusia tetap memilih tidak menggunakan hulu ledak nuklir? Yang pasti, Presiden Rusia Vladimir Putin telah ”menurunkan” batasan penggunaan kekuatan nuklir Rusia.
Dalam konflik lain, veto Washington atas usulan resolusi gencatan senjata tanpa syarat juga membuat perang di Gaza dan Lebanon tetap berkobar. Veto itu mengecewakan banyak pihak, salah satunya Perancis yang melihatnya sebagai pengabaian pada kehancuran Gaza dan penduduknya.
Di sisi lain, kelompok negara adidaya pendukung Israel kerap mengarahkan tudingan kepada Hamas sebagai penyebab utama konflik di kawasan itu. Mereka mengabaikan pendudukan Israel di wilayah yang telah ditetapkan menjadi hak Palestina. Pengabaian beragam resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa oleh Israel tidak menggerakkan mereka untuk berpihak kepada penderitaan rakyat Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/08/8796c3fde4c9a46325408fd897e64ed6-000_36LP89W.jpg)
Selain di Timur Tengah, situasi serupa terjadi di Asia, khususnya di kawasan Laut China Selatan. Kekuatan-kekuatan hegemoni, diakui atau tidak, selalu berupaya mendiktekan kemauan mereka tanpa memedulikan ketentuan yang telah disepakati bersama.
Di hadapan kekuatan-kekuatan utama dunia itu, PBB seolah tidak mampu berbuat banyak. Kondisi seperti inilah yang membuat impunitas makin meluas. Ketidakpastian pun menguat lantaran tidak ada entitas yang bisa menegakkan aturan. Sementara itu, mereka yang memiliki kekuatan tidak menggunakannya untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Mereka cenderung memilih menggunakannya untuk kepentingan sendiri atau bersama-sama dengan sekutu mereka.
Oleh karena itu, baik jika mencecapi kembali apa yang dikatakan Paus Fransiskus bahwa perang adalah kekalahan. Kekalahan karena manusia ditundukkan oleh egonya dan menempatkan masa depan dunia dalam bahaya, membuat nyawa warga hanya menjadi deretan angka belaka.
Mungkin pada kenaifan, dunia dapat berharap menyudahi kekalahan manusia dan memutus mata rantai kekerasan.
Penulis:
RedaksiEditor:
Adi Prinantyo, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra