Bursa kerja diharapkan dapat membantu menurunkan angka pengangguran sekaligus memberikan peluang yang lebih baik bagi generasi muda dan pekerja informal.
22 Mei 2025 18:13 WIB · Metro
Bursa kerja yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan menarik perhatian ribuan pencari kerja dari berbagai latar belakang. Dari siswa SMK yang baru akan lulus hingga kurir yang ingin mendapatkan pekerjaan lebih stabil datang membawa harapan akan masa depan yang lebih mapan.
Halaman Gedung Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) di Jakarta Selatan disulap menjadi arena bursa kerja pada Kamis (22/5/2025). Kali ini, Kemenaker menggelar Job Fair Nasional Seri 1 Tahun 2025 dengan mengusung tema ”Optimalisasi Talenta Unggul untuk Indonesia Emas 2045”.
Di salah satu sudut area, sebuah booth konsultasi karier tampak penuh sesak. Para konselor memberi arahan kepada peserta mengenai pilihan karier dan peluang pelatihan bersertifikat yang bisa diakses secara gratis. Bagi banyak peserta, informasi ini menjadi pembuka jalan di tengah ketidakpastian.
Riko Albar (18), warga Jakarta Selatan, berdiri di antara kerumunan dengan mengenakan seragam SMK-nya. Sepatu hitam mengilap menyempurnakan penampilannya.
Ia tidak datang sendiri. Beberapa temannya dari sekolah turut serta mengikuti bursa kerja. Riko saat ini duduk di kelas 12 SMK dengan jurusan desain grafis dan multimedia.
”Saya ingin punya pekerjaan setelah lulus sekolah tahun ini biar enggak bergantung terus ke orangtua,” ujarnya sambil menggenggam map berisi berkas lamaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/2870d6fba32bae177d60de3df1d61922-WhatsApp_Image_2025_05_22_at_17.14.44.jpeg)
Di dalam map tersebut terselip surat pengantar dari sekolah yang menyatakan statusnya sebagai siswa aktif dan surat lamaran kerja yang ditulis tangan.
Ia tahu persaingan akan ketat, terlebih banyak posisi di bursa kerja itu yang mensyaratkan calon pekerja yang berpengalaman atau ijazah minimal D-3. Namun, tekadnya tak surut.
Riko bahkan sempat mengikuti psikotes singkat di salah satu stan perusahaan. Meski awalnya gugup, ia mulai merasa percaya diri setelah berhasil menjawab beberapa pertanyaan dasar.
”Ternyata yang penting itu percaya sama diri sendiri. Soal lulus atau enggak, itu nanti,” ucapnya.
Tidak hanya siswa-siswi SMK, para kurir dan pengemudi ojek daring juga memadati area bursa kerja. Dengan mengenakan jaket khas warna oranye hingga hijau, mereka bergerak dari satu stan ke stan lain yang menawarkan berbagai kesempatan pekerjaan. Di tangan mereka, gawai tetap erat digenggam, tak lepas dari pantauan orderan yang terus berjalan.
Salah satunya adalah Andiansyah (32), yang datang ke bursa kerja dengan pengalaman lebih dari lima tahun menjadi kurir ekspedisi. Pandemi membuatnya kehilangan stabilitas kerja dan meskipun aktivitas pengiriman sempat meningkat, kini persaingan di sektor logistik semakin padat dan tidak menentu.
”Bukan berarti saya enggak bersyukur, tetapi penghasilan sekarang tidak cukup buat kebutuhan rumah,” kata ayah satu anak ini.
Andi ingin mencari pekerjaan yang menawarkan upah tetap dan jam kerja yang lebih pasti. Ia mengincar posisi di gudang atau administrasi logistik.
”Saya lulusan SMA, enggak banyak pilihan, tapi saya siap belajar,” ujar warga Jakarta Barat ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/3fb8f26b991e558be4edcbb2d8e25b96-WhatsApp_Image_2025_05_22_at_17.14.45.jpeg)
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi mengatakan, hingga bursa kerja resmi dibuka pada Kamis pagi, tercatat 2.881 pencari kerja hadir secara langsung di lokasi, dan akan terus bertambah. Sementara itu, lebih dari 4.200 peserta mengikuti kegiatan secara daring.
Job fair kali ini menghadirkan 112 booth perusahaan, terdiri dari berbagai sektor swasta, BUMN, dan mitra Kemenaker. Acara ini digelar selama dua hari, yakni pada 22-23 Mei 2025.
Secara rinci, terdapat 97 booth perusahaan dari berbagai sektor, empat booth job portal, tiga booth asosiasi pemagangan, empat booth pelatihan vokasi dan produktivitas, serta empat booth mitra kementerian atau lembaga lainnya. Selain itu, tersedia juga 14 booth yang diisi oleh wirausaha binaan Kementerian.
”Total lowongan pekerjaan yang kami sediakan mencapai 53.107, dengan rincian 18.478 lowongan kerja offline dan 34.629 online. Ada juga 135 lowongan yang diperuntukkan khusus bagi tenaga kerja disabilitas,” kata Cris.
Untuk mempermudah proses seleksi, Kemenaker juga menyediakan 24 booth walk-in interview di ruang serbaguna yang memungkinkan pelamar langsung diwawancara oleh perusahaan. Di lokasi yang sama, tersedia pula layanan job counselor untuk membantu pencari kerja menemukan posisi sesuai minat dan kompetensi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/36c45274be7c0d138fc9ee6b77f8a530-WhatsApp_Image_2025_05_22_at_17.15.11.jpeg)
Bursa kerja ini digelar untuk menekan angka pengangguran di Indonesia, termasuk di Jakarta sebagai lokasi pelaksanaannya. Di Jakarta sendiri, angka pengangguran terus mengalami peningkatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Ketenagakerjaan, jumlah pengangguran di DKI Jakarta meningkat dari 327.600 orang (6,03 persen) pada Februari 2024 menjadi 337.990 orang (6,18 persen) pada Februari 2025.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (DTKTE) DKI Jakarta Arif Syaripudin mengatakan, lonjakan pengangguran disebabkan oleh meningkatnya angkatan kerja menjadi 5,47 juta orang serta ketidaksesuaian keahlian pencari kerja dengan kebutuhan industri.
Menurut Arif, mayoritas lowongan kerja saat ini ditujukan bagi usia di bawah 30 tahun. Hal ini disebabkan perusahaan lebih memilih tenaga kerja muda karena dianggap lebih adaptif terhadap teknologi, mudah dilatih, dan memiliki masa kerja yang lebih panjang.
Sebagai solusi, Pemprov DKI Jakarta secara rutin menggelar job fair di tingkat kecamatan serta menyediakan pelatihan berbasis kompetensi di tujuh Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) dan dua pusat pelatihan khusus.
DTKTE juga mengoperasikan mobile training unit (MTU) yang menjangkau wilayah-wilayah kelurahan untuk memberikan pelatihan kerja secara langsung kepada masyarakat.
”Kami terus kembangkan MTU agar masyarakat di tingkat kelurahan bisa meningkatkan keterampilan kerja mereka,” ujar Arif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/d1dfeb20f54d36f80eddea991e720d16-WhatsApp_Image_2025_05_22_at_17.14.53.jpeg)
Selain pelatihan, upaya penciptaan lapangan kerja juga dilakukan melalui program Jakpreneur, yang fokus pada pengembangan wirausaha mandiri. Program ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi ketergantungan pada sektor formal.
”Melalui Jakpreneur, kami ingin tumbuhkan wirausaha baru yang nantinya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” ujarnya.
Untuk memperluas akses informasi kerja, saat ini DTKTE juga mengembangkan portal web Karir Jakarta, yang akan mempermudah pencari kerja mengakses lowongan secara cepat dan terintegrasi.
Bursa kerja mungkin belum menjadi solusi instan untuk menekan angka pengangguran. Namun, bagi mereka yang datang dengan tekad dan kesiapan, bursa ini adalah awal untuk menjemput peluang di tengah tantangan.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Rini Kustiasih