Agar Selamat dari Tarif, Modi Bawa ”Hadiah” Saat Bertemu Trump

Perdana Menteri India Narendra Modi melawat ke Amerika Serikat berbekal sejumlah proposal kerja sama untuk memikat hati Trump. Akankah dia berhasil?

13 Feb 2025 20:30 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, KAMIS — Perdana Menteri India Narendra Modi datang membawa ”hadiah” saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC, Kamis (13/2/2025). Berbekal pemotongan tarif, kesepakatan bisnis baru, dan prospek kerja sama melawan China, dia berharap bisa memenangi hati Trump.

Belum sebulan menjabat, Trump telah menghajar negara kawan dan lawan dengan kenaikan tarif alias bea masuk impor (BMI) sehingga kekhawatiran tentang perang dagang meningkat. Oleh karena itu, India sedang harap-harap cemas.

Pada periode pertama sebagai presiden (2017-2021), Trump memiliki hubungan hangat dengan Modi. Namun, dia menyebut India sebagai ”raja tarif” dalam perdagangan sehingga India menurunkan tarifnya. Secara umum, India masih ”aman” dari pukulan Tarif Trump karena terdampak secara tak langsung.

Modi menjadi pemimpin negara keempat yang bertemu Trump setelah dia menjadi orang nomor satu di AS. Menjelang pertemuan dengan Trump, beberapa pejabat India secara anonim mengatakan, Modi telah menyiapkan sejumlah janji, termasuk peningkatan impor gas alam cair serta pembelian kendaraan tempur dan mesin jet.

Modi juga menyiapkan opsi lainnya, antara lain negosiasi perdagangan, yaitu impor pertanian AS ke India, investasi energi nuklir, dan pemotongan tarif di sejumlah sektor seperti elektronik, peralatan medis dan bedah, serta bahan kimia. ”Itu adalah ’hadiah’ untuk Trump,” kata salah satu sumber.

(FILES) (FILES) Indian Prime Minister Narendra Modi (L) and US President Donald Trump shakes hands as they speak during a bilateral meeting in Biarritz, south-west France on August 26, 2019, on the third day of the annual G7 Summit. US President Donald Trump pressed Indian Prime Minister Narendra Modi for "fair" trading ties in a call January 27, 2025, the White House said, as Trump continues to push his hardline trade agenda with world leaders. Trump however also discussed plans for a visit to the White House by Modi, the Hindu nationalist leader with whom he had close ties in his first term as president, a readout of the call said. (Photo by Nicholas Kamm / AFP)

Sebagai gantinya, Modi menginginkan bantuan terkait kasus miliarder Gautam Adani, temannya. Adani didakwa oleh Departemen Kehakiman AS, November 2024, atas dugaan skema penyuapan. Adani membantah melakukan kesalahan. Isu pelik lainnya mungkin akan muncul, yakni soal dugaan rencana intelijen India untuk membunuh seorang aktivis Sikh di AS selama pemerintahan pendahulu Trump, Joe Biden.

”Sejauh ini, India berhasil lolos dari tekanan tarif langsung oleh pemerintahan Trump yang baru dan itu merupakan tanda positif. Modi perlu meyakinkan Trump bahwa India memainkan permainan yang adil dalam perdagangan dan, oleh karena itu, India harus diperlakukan secara berbeda,” tutur Biswajit Dhar, profesor ekonomi di Council for Social Development di New Delhi kepada Al Jazeera.

AS merupakan mitra dagang terbesar bagi India. Namun, AS memiliki defisit perdagangan sebesar 45,6 miliar dollar AS yang menguntungkan India. Secara keseluruhan, tarif rata-rata tertimbang perdagangan AS adalah sekitar 2,2 persen, menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dibandingkan dengan India yang sebesar 12 persen.

Richard Rossow, Kepala Program India di Center for Strategic and International Studies, lembaga pemikir di Washington, menambahkan, pertemuan tersebut ibarat ajang tinju. ”Saya pikir India bersedia menerima beberapa pukulan, tetapi ada batasnya,” ujarnya.

President Donald Trump speaks as Tulsi Gabbard is sworn in as the Director of National Intelligence in the Oval Office of the White House, Wednesday, Feb. 12, 2025, in Washington. (Photo/Alex Brandon)

Keinginan Trump

Trump menginginkan lebih banyak bantuan dari India terkait imigrasi ilegal. India merupakan sumber utama imigran ke AS, termasuk pekerja di industri teknologi yang menggunakan visa kerja dan migran lainnya yang datang secara ilegal. Pekan lalu, Modi telah menerima kembali 104 migran yang dikirim pulang dengan pesawat militer AS.

Bagi AS, baik saat dipimpin presiden Demokrat maupun Republik, India adalah mitra penting untuk menjegal China di kawasan Indo-Pasifik. India waspada terhadap peningkatan kekuatan militer negara tetangga, China, dan bersaing untuk banyak pasar yang sama.

”Meski sebagian besar pembicaraan akan berkisar pada hubungan bilateral, perdagangan, imigrasi, pembelian pertahanan, benang merah China akan terjalin dalam pertemuan tersebut,” tutur Lisa Curtis, analis di Center for a New American Security sekaligus mantan pejabat Gedung Putih selama pemerintahan Trump periode pertama.

India cenderung menghindari konfrontasi langsung dengan China. Modi mempertahankan kebijakan luar negeri ”ambiguitas strategis” guna menghindari memihak dalam konflik internasional. Alhasil, India tetap berhubungan dengan Rusia selama perang Ukraina-Rusia dengan membeli energi Rusia saat negara Barat memangkas konsumsi sejak perang terjadi.

Tahun ini, Trump mungkin akan mengunjungi India. India akan menjadi tuan rumah pertemuan Quad yang beranggotakan AS, Australia, India, dan Jepang. Trump sangat mendukung kelompok ini untuk melawan China.

Kabarnya, Trump tidak suka melakukan perjalanan internasional. Namun, dikutip dari BBC, dia kemungkinan akan pergi ke India untuk memperdalam hubungan pribadi dengan Modi dan memajukan kemitraan bilateral. Trump pernah ke India pada 2020.

Adapun Modi diperkirakan bertemu dengan Elon Musk. Musk merupakan miliarder, pemilik Starlink, donatur kampanye Trump, sekaligus kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE). Starlink sedang berupaya masuk ke pasar Asia Selatan.

<p>FILE- In this June 8, 2016 file photo, then Vice President Joe Biden and then House Speaker Paul Ryan of Wis., laugh as Indian Prime Minister Narendra Modi addresses a joint meeting of Congress on Capitol Hill in Washington. As Americans celebrate or fume over the new U.S. president-elect, many in Asia are waking up to the reality of a Joe Biden administration with decidedly mixed feelings. Relief and hopes of economic and environmental revival jostle with needling anxiety and fears of inattention. Not much will change with the host of security and defense ties shared by India and the United States. But a Biden administration could mean a much closer look at India’s spotty recent human rights and religious freedom records, both of which were largely ignored by U.S. President Donald Trump. (AP Photo/Evan Vucci, File)</p>

Konferensi pers

Menurut rencana, kata Gedung Putih, Trump dan Modi akan menggelar konferensi pers pada Kamis (13/2/2025) waktu setempat. Modi tidak biasa dengan jumpa pers, tetapi sesekali bersedia melakukan wawancara, terutama di masa pemilu.

Modi belum pernah mengadakan satu pun konferensi pers di India sejak menjadi perdana menteri pada 2014. Pada Mei 2019, dia pernah menghadiri konferensi pers, tetapi tidak menjawab pertanyaan. Terakhir, dia mengadakan jumpa pers dengan Presiden AS Joe Biden pada 2023.

Modi biasa menghindari sorotan pada perlakuan diskriminasi terhadap kaum Muslim dan kaum minoritas lainnya di India. Dalam sesi bersama Biden pada 2023 itu, misalnya, Modi membantah adanya diskriminasi agama di India saat menjawab sebuah pertanyaan.

Klaim itu balik dibantah oleh para pembela hak asasi manusia yang telah mendokumentasikan pelecehan terhadap kaum minoritas di India. Jurnalis yang mengajukan pertanyaan tersebut kemudian diserang secara daring oleh para pendukung Modi. Pemerintahan Biden mengecam serangan tersebut. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W