Saat bapaknya meninggal, usia Agus baru delapan tahun. Tubuh bapaknya yang semula subur menjadi kurus setelah bertempur bertahun-tahun melawan kanker.
19 Jan 2025 08:00 WIB · Sastra
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/18/05ade973f55cf874dd363f6e3c5d35fa-Ilustrasi_Cerpen_Agus_Tidak_Menangis.jpg)
Pada satu malam yang sunyi di bangsal kelas tiga sebuah rumah sakit kecil di pinggir kota, Agus mengalami sebuah peristiwa ajaib saat terbaring tak berdaya.
Anton Kurnia
Itu malam pertama Agus di ranjang rumah sakit. Waktu bayi sekalipun dia tidak dirawat di rumah sakit. Dia dilahirkan di ruang persalinan seorang bidan tak jauh dari rumahnya di sebuah lorong yang padat penduduknya. Namanya Bidan Wiati.
Menurut Dokter Susan yang memeriksanya di puskesmas, Agus terserang muntaber alias diare parah. Situasinya sudah gawat darurat. Dia harus segera dirawat di rumah sakit.
Agus berumur 11 tahun lewat. Dia sedang menunggu pengumuman hasil ujian. Jika nilainya tinggi, dia akan bisa masuk SMP negeri yang bagus dan biayanya murah. Bagi Agus yang yatim piatu dan menumpang dengan neneknya, janda tua yang menggantungkan hidup dari uang pensiun almarhum suaminya yang mantan guru SD, sekolah swasta yang mahal sungguh tak terjangkau.
Seharusnya Agus dirawat di bangsal anak-anak. Namun, karena tinggi badannya melebihi anak-anak seumurnya, dia tak muat di ranjang anak-anak. Tingginya sudah 1,61 meter. Terpaksa dia dipindahkan ke bangsal pasien dewasa.
Di dalam bangsal itu terdapat delapan ranjang tunggal yang dipasang berhadapan. Namun, hanya lima yang terisi. Keempat penghuni lainnya lelaki dewasa.
Agus mendapat ranjang di sudut dekat jendela dan pintu keluar yang menghadap ke taman. Di ujung lain bangsal, di atas pintu yang menghadap ke ruang dalam rumah sakit, terpasang kayu salib. Di dinding yang putih kusam terdapat sebuah poster yang memuat kutipan dari Alkitab: ”Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”.
Agus anak pemalu. Namun, lelaki paruh baya berkumis lebat yang terbaring di samping kiri ranjangnya berinisiatif mengajaknya bercakap-cakap.
”Nama saya Sukardal. Asal dari Majalengka. Saya tukang becak. Nama kamu siapa? Kamu sakit apa? Saya luka parah karena tangan saya kena tusuk belati waktu berkelahi dengan petugas Tibum yang mau merampas becak saya,” kata lelaki itu. Dia menunjuk lengan kirinya yang dibalut perban.
”Saya Agus. Kena muntaber,” jawab Agus lemah. Dia sudah berkali-kali buang air besar dan muntah hari ini.
Di ranjang lain, berhadapan dengan Agus, terbaring seorang pemuda berambut gondrong. Wajahnya sembap seperti habis dipukuli. Di lengan kekarnya yang tersingkap dari balik kaus, tampak tato harimau yang sebagian seperti bekas dihapus. Dia sedang tidur dengan mulut menganga.
”Itu Kusni,” ujar Pak Sukardal mengikuti arah pandangan Agus. ”Biarpun suka mencuri, dia sering menolong orang susah,” tambahnya. ”Dia dirawat karena babak belur dihajar massa. Apes kepergok mau nyolong motor. Untung tidak dibawa ke polisi. Bisa-bisa malah kena petrus!”
Tuhan maha pengampun, tetapi manusia tidak.
Di sebelah Kusni tampak seorang lelaki tua duduk mematung di ranjang. Rambutnya sudah memutih. Matanya menatap nanar ke kejauhan. Mulutnya komat-kamit.
”Tuhan maha pengampun, tetapi manusia tidak,” kata lelaki tua itu berulang-ulang, entah kepada siapa.
”Itu Pak Pram,” Pak Sukardal berbisik. ”Dia paling lama di sini. Pak tua itu hilang ingatan. Kadang-kadang suka meracau. Kata Dokter Bambang, Pak Pram dulunya penulis terkenal. Dia bekas tapol. Pernah dibuang ke Pulau Buru.”
Agus hanya mengangguk.
”Yang itu Udin. Dia wartawan. Kakinya patah karena kecelakaan. Kayaknya sih sengaja ditabrak orang yang tidak suka berita yang dia tulis,” ujar Pak Sukardal seraya menunjuk pasien di sudut ruangan. Kaki kanannya dibalut gips. Wajahnya tak kelihatan karena tertutupi koran yang dia baca.
Seorang perawat masuk ke dalam bangsal. Perawakannya ramping, kulitnya terang, dan matanya agak sipit. Dia menghampiri ranjang Agus. ”Diperiksa dulu, ya,” katanya lembut.
Dia memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah Agus lalu membetulkan selang infus yang terhubung ke lengan kanan Agus. Perawat itu pergi setelah mengangguk sopan kepada Pak Sukardal.
”Suster Ita orangnya baik. Tidak judes seperti Suster Anggi,” kata Pak Sukardal tanpa ditanya.
Agus hanya membisu.
”Kamu yang sabar, ya. Mudah-mudahan cepat sehat dan lekas pulang,” hibur Pak Sukardal.
Agus merasa sakit perut dan merana karena memikirkan biaya pengobatan yang harus ditanggung neneknya. Agus menderita. Namun, dia tidak menangis.
”Kamu harus kuat. Laki-laki tidak boleh menangis,” kata bapaknya dahulu saat Agus nyaris menangis ketika jarinya teriris pisau waktu mengupas mangga.
Agus merasa kasihan kepada neneknya yang kini sedang kebingungan mencari-cari pinjaman uang untuk membayar biaya perawatan di rumah sakit. Dia teringat bapak dan ibunya yang sudah tiada.
Saat bapaknya meninggal, usia Agus baru delapan tahun. Tubuh bapaknya yang semula subur menjadi kurus setelah bertempur bertahun-tahun melawan kanker. Pada satu sore tubuh ringkih itu melepas nyawa. Keluarga yang berkumpul di rumah mereka meledak dalam tangis. Namun, Agus ingat kata-kata bapaknya: laki-laki tidak boleh menangis.
Ingatan Agus melayang pada sore yang lain tanpa bisa dicegah. Terbuat dari apakah ingatan? Mengapa ia suka datang tiba-tiba tanpa diminta?
Di ujung selatan ruas tengah Braga yang kedua sisinya didereti gedung antik, toko buku lawas, galeri lukisan, dan bangunan kuno berarsitektur art deco, terdapat sebuah kafe tua. Hampir setahun lalu, ibunya mengajak Agus ke sana pada satu sore yang cerah. Ibunya baru mendapat uang dari hasil menjahit pakaian. Itu hari ulang tahun Agus yang kesebelas. Agus lahir bulan Agustus. Itu sebabnya dia dinamai Agus Kurniawan. Nama yang sederhana dan mudah diingat.
Di bangku kafe Agus duduk menghadapi semangkuk es krim. Agus menyukai rasa es krim vanila yang lembut dan manis. Namun, mendadak Agus merasa lidahnya pahit sehingga dia teringat dongeng yang pernah dibacanya di sebuah majalah anak-anak tentang pendekar sakti berlidah pahit.
Ibunya baru saja berkata dia akan menikah lagi dan calon suaminya akan membawa mereka pindah ke lain kota. Itulah yang membuat es krimnya jadi tak terasa manis.
Ada semacam luka yang tergores di hati Agus. Sesungguhnya Agus tak rela ibunya memiliki dan dimiliki lelaki lain selain dia dan bapaknya yang telah tiada. Agus sedih. Namun, Agus tidak menangis. Dia hanya membisu.
Sejak sore itu, Agus berdoa agar ibunya tidak jadi menikah dengan calon suami barunya. Agus khusyuk berdoa. Jika biasanya dia malas-malasan saat disuruh sembahyang lima waktu, Agus jadi rajin melakukannya tanpa perlu dipaksa. Setiap selesai sembahyang, dia berdoa lama sekali.
Tuhan sungguh Mahakuasa. Doa Agus terkabul.
Tujuh hari setelah sore muram di kafe itu, seorang pengemudi motor ugal-ugalan menabrak ibunya yang sedang menyeberang jalan di depan pasar kembang. Dia wafat di tempat sebelum sempat dibawa ke rumah sakit terdekat.
Dia belajar satu hal: berdoa bisa menyebabkan kematian.
Agus sedih bukan kepalang. Hatinya seperti tercabik-cabik. Dia menyesal telah berdoa seperti itu. Dia merasa amat berdosa. Namun, Agus tidak menangis. Sebab, dia ingat kata-kata bapaknya: laki-laki tidak boleh menangis. Hanya saja, sejak itu dia berhenti berdoa.
Dia belajar satu hal: berdoa bisa menyebabkan kematian.
Ingatan-ingatan sedih tentang ibu dan bapaknya kerap muncul di benak Agus. Seakan-akan ingatan itu menempel di sekujur tubuh dan panca indranya: di matanya, di hidungnya, di kupingnya, di lidahnya, bahkan di kulitnya. Misalnya, jika dia mencium aroma bunga melati, dia teringat ibunya yang sangat menyukai harum melati. Semua itu begitu sukar dilupakan. Apakah itu karena dia yang tak rela melepasnya?
Hari itu hingga pukul sembilan malam Agus sudah tiga belas kali buang air besar. Yang keluar tinggal cairan berbau tak sedap. Tubuhnya yang kurus kian ringkih. Agus merasa lemas. Mungkin dia dehidrasi. Selang infus masih menggelayuti lengannya. Sudah hampir lima tabung cairan infus dihabiskan sejak siang.
Makan siang dan makan malam berupa bubur dan sayur nyaris tak dia sentuh. Agus tidak berselera makan.
Menjelang tengah malam, di bangsal yang temaram Agus terbaring nyalang di atas ranjang. Pasien yang lain telah terlelap. Neneknya yang sore tadi kembali menjenguk sudah pulang sejak magrib. Sementara, para perawat berkumpul di ruang jaga.
Agus tak bisa tidur. Perutnya sakit melilit. Badannya lemas. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Namun, Agus tidak menangis.
Agus ingin tidur, tetapi tak bisa. Dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Apakah dia perlu memanggil suster jaga? Bisakah mereka membantunya?
Kemudian, dia teringat kepada Tuhan. Apakah dia harus berdoa? Tetapi terlintas di benaknya, terakhir kali dia berdoa, ibunya meninggal.
Agus bimbang. Sudah lama dia tak berdoa. Namun, dia sudah tak tahan lagi. Dipejamkannya matanya. Dia berdoa dalam hati agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan. Agus berdoa khusyuk sekali. Dalam doanya, seakan-akan dia menyatu dengan keheningan malam. Tak dirasanya lagi sakitnya. Tak dihiraukannya lalu waktu dan dunia yang terus berputar.
Entah sudah berapa lama Agus berdoa. Ketika dia membuka mata, terjadilah keajaiban. Dilihatnya bangsal itu begitu terang. Di depannya tampak sesosok perempuan berpakaian putih berselubung cahaya. Siapakah dia?
Agus begitu rindu kepadanya. Dia nyaris menangis karena bahagia.
Agus menajamkan mata. Itu ibunya sendiri. Ibunya tak berkata sepatah pun, hanya tersenyum dan mengulurkan tangan ke arahnya. Agus begitu rindu kepadanya. Dia nyaris menangis karena bahagia. Namun, dia ingat kata-kata ayahnya: laki-laki tidak boleh menangis.
Terlintas di benaknya bahwa laki-laki tak hanya tidak boleh menangis karena menderita, tetapi juga tidak boleh menangis karena bahagia.
Agus tidak jadi menangis. Dia tersenyum dan menyambut uluran tangan ibunya. Jemari mereka bertaut. Agus terangkat ke atas. Tubuhnya terasa ringan. Dia seakan-akan terbang tinggi.
Saat menatap ke bawah, dilihatnya sesosok tubuh anak kecil terbujur sendirian di atas ranjang. Tubuh itu bergeming dengan mata terpejam. Bibirnya tersenyum. Wajah anak itu mirip sekali dengan wajahnya.
Bandung, Desember 2024-Cisauk, Januari 2025
Anton Kurnia menulis cerpen, novel, dan esai. Buku cerpennya, Nostalgia: Kisah-kisah Ganjil tentang Maut dan Cinta, menjadi salah satu buku sastra pilihan Tempo 2023.
Slamet Riadi, seniman kelahiran Malang yang kini tinggal di Yogyakarta. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini aktif berpameran sejak 1987 baik dalam pameran bersama atau tunggal. Terakhir, dia terlibat dalam pameran Mei Bulan Menggambar Nasional di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, 2022.
Penulis:
Anton KurniaEditor:
Moh. Hilmi FaiqPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra