Sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan akan tercipta pada dekade ini, tetapi munculnya perangkat berbasis AI bakal mengancam peluang itu.
29 Mei 2025 09:00 WIB · Kolom
Coca Cola telah menggunakan akal imitasi (AI) untuk pembuatan iklan mereka pada Natal tahun lalu. Bank UBS menggunakan AI untuk interaksi dengan kliennya. Microsoft bakal memecat 6.000 pegawainya menyusul penggunaan AI. Semangat AI First muncul di berbagai perusahaan dan mulai berdampak kepada pekerja.
Hari Buruh yang dirayakan pada 1 Mei lalu di Indonesia lebih banyak diwarnai dengan janji-janji politik yang kurang mendasar bagi kepentingan buruh. Sebuah survei yang dilakukan oleh World Economic Forum menyebutkan, para pemilik perusahaan bakal memotong 40 persen pekerja bila teknologi AI diterapkan.
Ancaman sangat nyata. Beberapa pabrik sudah mulai mengaplikasikan penggunaan robot. Para buruh atau karyawan sebaiknya mulai memikiran kemungkinan mereka tak lagi dibutuhkan oleh pasar kerja. Dalam dunia kerja, pekerjaan dasar atau mula (entry level) yang tak memiliki pengalaman mungkin tak dibutuhkan lagi. Sekian lama perusahaan telah menyediakan tempat pelatihan bagi pendatang baru untuk melangkah ke dunia kerja, sekarang bisa saja dihentikan.
Seiring dengan semakin tertanamnya AI generatif di tempat kerja, perusahaan perlu berinvestasi dalam upaya peningkatan keterampilan yang substansial.
Seiring dengan kemunculan AI yang membentuk kembali jenjang karier, pekerja mula ini mungkin tak dibutuhkan lagi. Meskipun sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan akan tercipta pada dekade ini, tetapi munculnya perangkat yang didukung AI bakal mengancam peluang itu. Perangkat AI mampu mengotomatiskan sebanyak mungkin peran yang diciptakannya, khususnya untuk pekerjaan pemula dan di kalangan pekerja kerah putih sekalipun.
Sebagai contoh Bloomberg menemukan bahwa AI dapat menggantikan tugas yang dilakukan oleh analis riset pasar (53 persen) dan tenaga penjualan (67 persen) dibandingkan dengan posisi manajerial yang hanya 9 persen dan 21 persen di bidang yang sama.
Perangkat AI bakal mempersempit jalur masuk para pekerja mula atau membuat peran yang dulunya membutuhkan keterampilan khusus menjadi lebih mudah diakses. Sebuah perkiraan menunjukkan bahwa AI dapat memengaruhi hampir 50 juta pekerjaan di AS dalam beberapa tahun mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/e239c3ddfb686d8ed0cbe141a9bf9f71-coffee_making_robot_br.jpg)
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah apakah AI sudah menggantikan peran manusia dalam pekerjaan? Laporan TechCrunch menyebutkan, para peneliti di SignalFire, sebuah perusahaan pendanaan ventura berbasis data, yang melacak pergerakan pekerjaan lebih dari 600 juta karyawan dan 80 juta perusahaan di LinkedIn, percaya bahwa mereka telah melihat tanda-tanda pertama dampak AI pada perekrutan.
Ketika menganalisis tren perekrutan, SignalFire memperhatikan bahwa perusahaan teknologi merekrut lebih sedikit lulusan perguruan tinggi baru-baru ini pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2023. Sementara itu, perusahaan teknologi, terutama 15 perusahaan besar teknologi teratas, meningkatkan perekrutan profesional berpengalaman.
Secara spesifik, SignalFire menemukan bahwa perusahaan besar teknologi mengurangi perekrutan lulusan baru sebesar 25 persen pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2023. Sementara itu, perekrutan lulusan di perusahaan rintisan menurun sebesar 11 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meskipun SignalFire tidak akan mengungkapkan secara pasti berapa banyak lulusan yang direkrut menurut data mereka, seorang juru bicara memberi tahu kami jumlahnya ribuan.
Meskipun adopsi perangkat AI baru mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan penurunan perekrutan lulusan baru-baru ini, Kepala Penelitian SignalFire Asher Bantock mengatakan, ada bukti yang meyakinkan bahwa AI merupakan faktor kontribusi yang signifikan. Pekerjaan tingkat pemula rentan terhadap otomatisasi karena sering kali melibatkan tugas rutin dan berisiko rendah yang dapat ditangani dengan baik oleh AI generatif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/09d01f50ceb5caea3f2228856ceb2798-DSC01791.JPG)
Sumber dari masalah ini adalah penerapan teknologi berbasis AI di perusahaan. Kita kembali mengalami disrupsi. Teknologi diproyeksikan menjadi kekuatan yang paling mengganggu di pasar tenaga kerja. World Economic Forum mengatakan, dengan tren AI dan teknologi pemrosesan informasi yang diharapkan menciptakan 11 juta pekerjaan, sementara secara bersamaan menggantikan 9 juta lainnya.
Meskipun masih sulit untuk mengatakan dengan pasti apakah AI mulai mengambil alih peran yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, survei terkini dari World Economic Forum menemukan bahwa 40 persen pengusaha bermaksud untuk memangkas staf jika AI dapat mengotomatiskan tugas. Angka ini cukup moderat dibandingkan dengan hasil-hasil riset seperti disebut di atas.
Seiring menurunnya peran tingkat pemula, ekspektasi gaji juga bergeser, dengan karyawan yang tersisa diharapkan mengambil peran yang didukung oleh AI dengan gaji yang lebih rendah. Sebuah survei baru-baru ini menemukan bahwa 49 persen pencari kerja dari kalangan gen Z AS percaya bawah dengan AI mereka menganggap latar belakang pendidikan tinggi mereka tidak lagi memberi nilai lebih di pasar kerja.
Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan AS memperluas operasi bisnis di India, di mana para profesional terampil dapat dipekerjakan dengan biaya yang jauh lebih rendah. Peluang kerja mereka menjadi terbatas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/13/a66ce9e3-a79b-4d4a-a61a-4c2671666feb.jpg)
Laporan World Economic Forum juga menyebutkan, perkembangan ini tak berarti merugikan semuanya. Apa yang di kalangan perusahaan yang disebut di dalam salah satu tulisan di Financial Times sebagai AI First tak begitu saja mengecilkan perluang para pekerja. Perangkat AI generatif dapat mendemokratisasi akses ke pekerjaan sehingga memudahkan pengembangan pengetahuan dan keterampilan teknis yang selama ini hanya dimiliki pekerja yang berkualifikasi.
Oleh karena itu, World Economic Forum mengusulkan, daripada menghilangkan peluang bagi pekerja pemula sama sekali, perusahaan dapat memanfaatkan AI untuk melatih generasi profesional berikutnya. Ambil contoh untuk sebuah firma hukum yang tak terlalu terikat pada jam kerja hingga mereka bisa lebih menggunakan waktu mereka untuk pemagangan untuk pekerja mula. Oleh karena itu, struktur tradisional dalam dunia kerja perlu didefinisikan ulang.
Seiring dengan semakin tertanamnya AI generatif di tempat kerja, perusahaan perlu berinvestasi dalam upaya peningkatan keterampilan yang substansial untuk mempersiapkan karyawan mereka menghadapi ekonomi yang digerakkan oleh AI. Perusahaan perlu menaikkan kapasitas karyawannya.
World Economic Forum kembali mengatakan, AI akan membentuk jenjang karier baru dengan pekerjaan tingkat pemula yang terancam. Oleh karena itu, baik pengusaha maupun karyawan dapat memprioritaskan peningkatan keterampilan, upaya pendidikan, dan pemerataan peluang yang muncul seiring dengan pemanfaatan potensi AI. Gema AI First bisa dikendalikan bila kita meningkatkan kemampuan kita.
Penulis:
Andreas MaryotoEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .