AI tidak hanya mengubah keamanan siber, tetapi mendefinisikan ulang keamanan siber itu.
19 Sep 2025 09:00 WIB · Kolom
Perkembangan akal imitasi (AI) telah menaikkan ancaman keamanan siber karena kemampuan serangan mulai meningkat. Peningkatan ini karena tindak kriminal tersebut telah memanfaatkan teknologi AI. Pada saat yang sama, anggaran untuk pemenuhan standar keamanan juga naik. Kebutuhan tambahan anggaran digunakan untuk meningkatkan keahlian hingga untuk mematuhi aturan-aturan baru keamanan siber.
Laporan dari beberapa lembaga, seperti Information Services Group (ISG), McKinsey and Company, dan Abnormal AI, menyebutkan, peningkatan ancaman itu dan risiko yang harus dihadapi perusahaan untuk menghadapi ancaman siber yang berbasis AI.
Laporan Abnormal AI menyebutkan, salah satu perkembangan terbaru dan paling mengkhawatirkan di dunia keamanan siber adalah penggunaan alat atau fasilitas yang dipersenjatai AI untuk melakukan serangan siber. Alat-alat bertenaga AI, seperti ChatGPT, telah memberi pelaku ancaman kemampuan untuk dengan cepat menyusun e-mail phishing yang meyakinkan dan tertarget, yang sebelumnya harus membutuhkan kecanggihan dan sumber daya yang sangat besar.
Perusahaan perlu merangkul AI untuk meningkatkan bisnis mereka tetapi pada saat yang sama mereka harus melihat ancaman keamanan siber juga makin canggih karena menggunakan AI.
Serangan bertenaga AI ini semakin umum dan menimbulkan ancaman signifikan bagi organisasi dan data sensitif mereka. Serangan siber bertenaga AI, juga dikenal sebagai serangan AI yang didukung AI atau serangan AI ofensif atau memanfaatkan AI dan algoritma pembelajaran mesin untuk melakukan aktivitas berbahaya. Serangan ini menggunakan AI untuk mengotomatisasi dan meningkatkan kemampuan serangan siber tradisional. Perkembangan ini menjadikan serangan lebih canggih, terarah, dan sulit dideteksi.
Laporan penelitian baru dari firma konsultasi teknologi Information Services Group (ISG) telah mengungkapkan ancaman AI dan regulasi yang lebih ketat tengah mengubah lanskap keamanan siber Perancis, yang mengakibatkan berbagai bisnis menilai ulang strategi keamanan mereka. Menurut laporan berjudul ”ISG Provider Lens Cybersecurity-Services and Solutions 2025”, bisnis di Perancis sedang beradaptasi dengan lanskap keamanan yang lebih kompleks dan berlapis dengan banyak alat dan prosedur yang mengadopsi pertahanan berbasis AI.
Hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan yang ditimbulkan regulasi baru, adopsi cloud, kendala finansial, dan kekurangan tenaga kerja terampil, klaim spesialis keamanan AI tersebut. Peningkatan anggaran keamanan berarti banyak perusahaan Perancis membutuhkan panduan dan keahlian baru untuk menetapkan prioritas yang efektif dan mengatasi tantangan keamanan mereka.
”Cara perusahaan di Perancis memilih layanan keamanan sedang berubah. Dengan meningkatnya anggaran keamanan, perusahaan membutuhkan panduan dan wawasan untuk menetapkan prioritas yang tepat dan mengatasi masalah keamanan,” kata Partner dan Direktur Pelaksana ISG Julien Escribe seperti dikutip AI News.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/07/3f3b69548ba9e880772c7e8c6d2a9c73-20250707ron12.jpg)
Dalam analisnya, laman AI News menyebutkan, perusahaan mulai mengandalkan solusi keamanan terpadu alih-alih bergantung pada serangkaian alat terpisah. Organisasi mencari penyedia layanan yang dapat melengkapi tim keamanan mereka. Perusahaan yang bermigrasi ke multicloud dan topologi cloud menghadapi tantangan integrasi, visibilitas, dan manajemen, menurut perusahaan tersebut.
Bisnis kesulitan mempertahankan pengawasan aplikasi sehingga menggunakan solusi seperti Secure Access Service Edge (SASE), yang menggabungkan keamanan jaringan dan konektivitas dalam satu layanan terpadu.
Sementara McKinsey and Company mengatakan, pada Konferensi RSA 2025 di San Francisco, yang dihadiri lebih dari 40.000 profesional keamanan siber dan teknologi terdapat satu tema menonjol, yaitu AI dengan cepat membentuk kembali lanskap keamanan siber, menghadirkan peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya sekaligus tantangan signifikan bagi para pemimpin dan organisasi.
Diskusi tentang peran agen AI yang semakin berkembang mengungkapkan betapa dalamnya AI tertanam pada masa depan operasi siber. Seiring AI dengan cepat memajukan ancaman siber, organisasi tampaknya mengambil pendekatan yang lebih hati-hati, menyeimbangkan manfaat dan risiko teknologi baru sambil berusaha mengimbangi kecanggihan penyerang yang semakin meningkat.
Pada gilirannya, pasar keamanan siber akan diuntungkan dua kecenderungan pertumbuhan. Chief Information Security Officer (CISO) dan para professional di bidang risiko siber harus memahami dan menggunakan teknologi keamanan generasi mendatang yang didukung AI. Selain itu, banyak perusahaan besar masih bergulat dengan hal-hal mendasar, yaitu meningkatkan area fundamental, seperti manajemen aset TI, kerentanan, serta manajemen identitas dan akses.
Oleh karena itu, mereka perlu meningkatkan upaya mereka. Ada tiga cara AI memengaruhi keamanan siber—dan apa yang perlu diketahui organisasi agar tetap terdepan, yaitu AI mengubah lanskap ancaman dengan cepat, AI memperkuat pertahanan keamanan siber, dan bagaimaa mengintegrasikan AI dalam solusi keamanan siber
Perusahaan perlu merangkul AI untuk meningkatkan bisnis mereka, tetapi pada saat yang sama mereka harus melihat ancaman keamanan siber juga makin canggih karena menggunakan AI. Para pebisnis juga perlu menjadikan AI sebagai sekutu dalam meningkatkan keamanan siber. Tak ada yang mudah sehingga para pebisnis harus terus meningkatkan kemampuan berbasis AI. Di sisi lain, dampaknya anggaran untuk keamanan makin meningkat.
Penulis:
Andreas MaryotoEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari