Dari robot AI yang mampu meniru emosi hingga algoritma dengan formula untuk mencari kecocokan antarmanusia, kecerdasan buatan dicoba mengobati kesepian.
20 Sep 2025 11:35 WIB · Internasional
”Mampus kau dikoyak-koyak sepi.” Chairil Anwar menulisnya pada 1943. Kini, kecerdasan buatan dicoba untuk menjawab luka yang sama.
Beberapa hari setelah Meagan Brazil-Sheehan mengetahui putranya, Luca (6), didiagnosis leukemia, kehidupan mereka terasa muram. Luca harus menjalani perawatan di rumah sakit, jauh dari teman-teman sebayanya. Kesepian pun menambah derita bocah cilik itu.
Saat berjalan menyusuri lorong UMass Memorial Children’s Medical Center di Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat, Juni 2025, tiba-tiba suara ceria menyapa. ”Luca, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu,” katanya.
Wajah Luca seketika berbinar. Senyumnya merekah. Suara itu berasal dari Robin, robot setinggi 1,2 meter dengan layar bergambar wajah kartun. Ia diprogram seperti anak perempuan berusia tujuh tahun, sebaya dengan Luca. ”Itu begitu spesial,” kata Brazil-Sheehan seperti dikutip Associated Press, Jumat (19/9/2025).
Robin adalah robot terapeutik dilengkapi kecerdasan buatan (AI). Kehadirannya di rumah sakit anak dan panti jompo untuk memberi dukungan emosional. Ia juga membantu tenaga kesehatan (nakes) yang kewalahan dengan bertugas.
Lima tahun sejak diperkenalkan di AS, Robin menjadi wajah akrab di 30 fasilitas kesehatan di California, Massachusetts, New York, dan Indiana. ”Nakes sering kelelahan, di bawah tekanan, dan sayangnya, banyak yang tidak punya kapasitas untuk menyapa pasien. Robin membantu meringankan hal itu,” ujar Karen Khachikyan, CEO Expper Technologies, pengembang Robin.
Robin beroperasi sekitar 30 persen secara otonom. Sisanya dikendalikan oleh operator jarak jauh dengan pengawasan tenaga medis. Setiap interaksi pasien menghasilkan data baru yang membantu pengembangan kemampuan Robin sesuai aturan setempat.
Robin yang putih ramping berbentuk segitiga, menurut Khachikyan, dirancang untuk dipeluk. ”Bayangkan kecerdasan emosional murni seperti WALL-E. Itu yang kami coba ciptakan,” kata Khachikyan, merujuk film animasi tahun 2008 tentang robot yang melayani kehidupan manusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/20/d2708840d37e7f7a6b45d0defae0412f-Therapeutic_Hospital_Robot_Robin_3.jpg)
Khachikyan merancang Robin saat menempuh studi doktoral. Ide awalnya berasal dari kesepiannya sendiri di masa kecil. Ia tumbuh bersama orangtua tunggal yang sering pergi karena harus bekerja. Dari situ muncul gagasan menciptakan robot yang bisa menjadi teman.
Pertama kali diluncurkan di Armenia, Robin diluncurkan dalam program percontohan di UCLA Mattel Children’s Hospital, Los Angeles, AS, pada 2020. Sejak saat itu, kepribadian Robin berkembang mengikuti respons pasien.
Mantan Menteri Kesehatan AS Vivek Murthy menyebut kesepian sudah menjadi epidemi. Dalam laporan 2023, ia memperingatkan bahwa dampak kesehatan akibat keterputusan sosial setara dengan merokok 15 batang sehari. Ini lebih berbahaya daripada obesitas dan kurang aktivitas fisik.
Murthy merinci bahwa isolasi sosial meningkatkan risiko penyakit jantung, demensia, dan depresi. Studi-studi lain juga menyebut kesepian di era modern ini di antaranya disebabkan oleh hilangnya institusi sosial tradisional, meningkatnya ketergantungan pada gawai, dan tren kerja jarak jauh.
Di HealthBridge Children’s Hospital, Orange County, California, Robin diberi daftar pasien yang perlu dikunjungi. Di kamar korban kecelakaan mobil, Robin memutarkan lagu favorit si pasien, ”No Fear” karya DeJ Loaf. Sang pasien tersenyum dan ikut menari.
Di lorong rumah sakit, Robin membuat anak balita tertawa ketika mengenakan kacamata besar dan hidung badut berwarna merah. Di kamar lain, ia menemani pasien bermain catur.
”Pasien ceria saat Robin masuk ke kamar. Ia mengingat nama sampai musik favorit mereka. Robin membawa kebahagiaan untuk semua orang,” kata Samantha da Silva, terapis wicara di rumah sakit tersebut.
Di UMass Memorial Children’s Hospital, Robin diperlakukan sebagai bagian dari tim medis. Saat Luca perlu kembali dipasangi infus, spesialis pendamping anak, Micaela Cotas, masuk kamar bersama Robin.
Robot itu menayangkan kartun dirinya yang juga dipasangi infus. ”Itu membantu menunjukkan bahwa Robin juga pernah melalui prosedur itu, seperti teman sebaya,” kata Cotas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/20/ae4db56ffa26d7e629264034911442ab-Therapeutic_Hospital_Robot_Robin.jpg)
Tak hanya itu. Algoritma Robin juga dirancang untuk menirukan emosi lawan bicara. Jika pasien tertawa, ia ikut tertawa. Jika pasien membicarakan sesuatu yang menyedihkan, wajah kartun Robin berubah murung.
Di panti jompo, Robin memainkan permainan memori bersama penderita demensia. Ia memandu latihan pernapasan pada hari-hari sulit atau menenangkan lansia yang panik dengan memutarkan lagu Elvis Presley dan video anak anjing jenaka.
Ketika seorang pasien perempuan mengalami serangan panik, Robin diminta menemaninya. Robot itu lalu memutarkan musik favoritnya dan video hewan hingga perempuan itu kembali tenang.
Asosiasi Fakultas Kedokteran Amerika (Association of American Medical Colleges) memproyeksikan kekurangan hingga 86.000 dokter di AS dalam 11 tahun mendatang. Dengan latar belakang itu, Khachikyan membayangkan Robin berperan lebih luas daripada sekadar penghibur. Robin bisa mengisi kekosongan tenaga kesehatan.
”Tujuan kami merancang evolusi berikutnya agar Robin bisa berperan lebih dan menjadi bagian yang lebih esensial dalam perawatan,” kata Khachikyan. ”Ini bukan soal menggantikan nakes, melainkan menutup kekurangan dalam sistem,” katanya lagi.
Saat ini, timnya tengah mengembangkan fitur agar Robin dapat mengukur tanda vital pasien, memantau kondisi mereka, lalu mengirimkan data ke tim medis. Dalam jangka panjang, Robin bisa dirancang membantu pasien lansia berganti pakaian atau ke kamar mandi. (AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan