Presiden Trump tak keberatan menerima ”hadiah” pesawat Qatar untuk dijadikan Air Force One. Hanya, modifikasinya perlu waktu karena keamanan jadi fitur terpenting.
13 Mei 2025 15:00 WIB · Internasional
Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat, bisa dibilang pesawat paling ikonik di dunia. Ada dua versi pesawat Air Force One bercorak biru dan putih yang dimodifikasi habis-habisan untuk membawa presiden Amerika Serikat keliling dunia itu.
Kedua pesawat jet Boeing 747-200—dalam bahasa militernya model VC-25A—itu mulai beroperasi pada 1990 selama masa kepresidenan George HW Bush. Terkadang, presiden juga menggunakan pesawat Boeing 757 yang lebih kecil untuk penerbangan jarak pendek. Pesawat itu dijuluki ”Baby Air Force One”.
”Big Air Force One” tidak sekadar mewah, tetapi juga canggih. Meski sudah tua, pesawat ini adalah ”benteng terbang” yang sangat terpelihara. Walaupun tidak memiliki rudal, Air Force One sulit dijatuhkan. Selain dipasangi kaca antipeluru, pesawat itu memiliki sistem pertahanan udara yang sangat rahasia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/12/5fc25f66c5195ba2bba9ee81dee30274-000_36XH8XA.jpg)
Menurut para spesialis penerbangan, sistem pertahanan udara itu mencakup tindakan pencegahan yang dapat mengganggu radar musuh dan sistem pelacakan inframerah. Ini ditambah dengan dispenser (alat untuk melepaskan) sekam atau serutan logam yang mengalihkan perhatian rudal yang dipandu radar.
Fitur keamanannya antara lain pencegahan rudal. Ada suar yang membutakan rudal pencari panas. Pesawat itu diperkuat dengan fasilitas yang bisa menghadapi dampak ledakan nuklir.
Sistem elektronik yang diperkeras melindungi pesawat dari getaran elektromagnetik, baik dari ledakan nuklir maupun pengacau yang bermusuhan. Gedung Putih menjelaskan, sistem ini memungkinkan pesawat berfungsi sebagai pusat komando bergerak jika terjadi serangan terhadap AS.
Ini berarti presiden AS dapat terus terhubung dengan daratan dan tentunya dapat mengirim unggahan media sosial di udara. Kemampuan komunikasi menjadi salah satu fitur terpenting Air Force One.
Pada 11 September 2001, Presiden George W Bush merasa frustrasi dengan masalah komunikasi. Ia lalu memerintahkan peningkatan teknologi besar-besaran demi menambah kemampuan presiden memantau berbagai peristiwa dan berkomunikasi dengan orang di seluruh dunia.
Khusus untuk presiden, tersedia ruangan khusus yang berfungsi sebagai kantor, lengkap dengan kursi kulit dan meja kayu mengilap. Ini ruangan yang digunakan Trump untuk menggelar konferensi pers seusai menandatangani pernyataan mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/be0652d0-d911-4a99-b8fc-15c725545023_jpg.jpg)
Ada ruangan khusus medis yang juga dapat berfungsi sebagai ruang operasi. Ada pula kabin khusus untuk penasihat senior, anggota Dinas Rahasia, dan 13 wartawan yang mengikuti perjalanan presiden.
Air Force One memiliki dua dapur yang dapat digunakan untuk memasak aneka ragam menu masakan bagi 100 orang sekaligus. Peralatan makannya tersemat logo khusus Air Force One.
Sebagai penjaga keamanan presiden AS yang utama saat di udara, Air Force One memiliki kemampuan pengisian bahan bakar udara-ke-udara. Artinya, pesawat ini dapat tetap berada di udara hampir tanpa batas waktu. Akan tetapi, sampai sekarang fasilitas itu belum pernah digunakan kala presiden sedang berada di dalam pesawat.
Pesawat kepresidenan pertama yang dirancang khusus bagi Presiden John F Kennedy pada 1962 itu menggunakan pesawat Boeing 707 yang dimodifikasi. Salah satu dari dua pesawat kepresidenan juga membawa jenazah Kennedy kembali ke Washington setelah pembunuhannya di Dallas pada 1963. Kemudian, pada tahun 2001, George W Bush terbang di atas Air Force One setelah serangan 9/11 di New York dan Washington.
Trump sejak lama terobsesi dengan pesawat jet kepresidenan. Partai Republik sering mendorong upaya untuk memperbaruinya dengan menyetujui kesepakatan dengan Boeing pada tahun 2018. Selama masa jabatan pertama Trump, ada dua model baru yang diajukan dari pesawat jet 747-8 yang lebih baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/13/6820981416fb371e6f4b2495a4750eb2-Trump_Qatar_Plane.jpg)
Trump juga menginginkan corak warna baru, menggantikan corak warna saat ini yang sudah ada sejak zaman Kennedy. Trump menginginkan corak dengan garis merah tua di bagian tengah pesawat dan bagian bawah berwarna biru tua.
Trump sangat menyukai tampilan baru tersebut dan masih menyimpan modelnya di Ruang Oval. Ia pernah memamerkannya saat pelantikan masa jabatan keduanya. Namun, kini ia berulang kali mengeluhkan tentang penundaan dan pembengkakan biaya.
”Kami kecewa karena Boeing tidak bisa cepat membuatnya. Kami punya satu pesawat Angkatan Udara yang umurnya sudah 40 tahun. Anda bisa lihat beberapa negara Arab dan pesawat mereka yang parkir di samping pesawat Amerika Serikat. Itu seperti dari planet yang berbeda,” tutur Trump.
Salah satu negara Arab yang disebut Trump adalah Qatar. Keluarga Kerajaan Qatar telah menawarkan pesawat Boeing jenis 747-8 untuk digunakan sebagai Air Force One sementara. Namun, ada masalah etika dan keamanan terkait penggunaan pesawat dari negara asing untuk tujuan yang sangat rahasia.
Seperti diberitakan Kompas, Senin (12/5/2025), Konstitusi AS melarang pejabat pemerintah menerima hadiah, imbalan, jabatan, atau gelar apa pun ”dari raja, pangeran, atau negara asing mana pun” tanpa persetujuan Kongres. Namun, Trump akan mengabaikan hukum dengan menyerahkan pesawat itu ke perpustakaan kepresidenan setelah ia menyelesaikan jabatannya.
Ini sama dengan pesawat Boeing 707 yang digunakan Presiden Ronald Reagan yang dinonaktifkan dan dipajang sebagai barang museum. ”Pesawat itu akan langsung dibawa ke perpustakaan setelah saya meninggalkan kantor. Saya tidak akan menggunakannya,” kata Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/01/44ce7d5e-446d-4b68-b026-de7dec11f3d4_jpg.jpg)
Trump, Senin, dengan marah menepis kekhawatiran publik atas rencananya menerima pesawat dari Qatar senilai 400 juta dollar AS dan digambarkan sebagai ”istana di langit” itu. Akomodasinya mewah dengan desain interior terbaik. Namun, keamanan menjadi poin terpenting dalam perjalanan presiden. Banyak pihak khawatir Qatar mengharapkan imbalan tertentu.
”Saya tidak akan pernah menolak tawaran semacam itu. Maksud saya, saya bisa jadi orang bodoh dan berkata ’tidak, kami tidak menginginkan pesawat gratis yang sangat mahal’,” kata Trump. Ia juga marah ketika ditanya wartawan apakah akan menggunakan pesawat dari Qatar untuk keperluan pribadi setelah tak lagi menjadi presiden.
Qatar berusaha mengecilkan ”kegaduhan” itu dengan mengatakan bahwa pesawat itu bukan hadiah. ”Kemungkinan pengalihan pesawat untuk penggunaan sementara sebagai Air Force One saat ini sedang dipertimbangkan antara Kementerian Pertahanan Qatar dan Departemen Pertahanan AS,” kata Atase Media Qatar di Washington, Ali Al-Ansari.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Qatar telah ”dengan senang hati menawarkan” untuk menyumbangkan sebuah pesawat kepada Departemen Pertahanan AS, tetapi rincian hukumnya masih dalam pembahasan. ”Setiap sumbangan kepada pemerintah ini selalu dilakukan dengan mematuhi hukum sepenuhnya, dan kami berkomitmen untuk bersikap transparan sepenuhnya,” kata Leavitt kepada Fox News.
Seorang mantan pejabat AS yang mengetahui proyek pengganti Air Force One mengatakan, sulit memodifikasi pesawat dari Qatar itu untuk Air Force One dalam waktu yang mepet. Ada risiko bagi presiden untuk terbang dengan pesawat tanpa dimodifikasi. Saat ini, Boeing sedang memodifikasi pesawat baru Air Force One.
Salah satu modifikasinya ialah mengganti semua kabel standar dengan kabel berpelindung. Semua sistem ditingkatkan hingga yang tertinggi untuk memastikan presiden dapat berkomunikasi dengan jelas dan aman. Ada kekhawatiran Trump akan mengorbankan keselamatan dengan terburu-buru memodifikasi pesawat dari Qatar.
”Membongkar dan mengevaluasi pesawat untuk perangkat pengumpulan informasi mata-mata akan memakan waktu bertahun-tahun,” tulis William Evanina yang menjabat sebagai Direktur Pusat Kontraintelijen dan Keamanan Nasional selama masa jabatan pertama Trump, di media sosial.
(Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto