BerandaPolitikAir Keras Novel Baswedan ...

Air Keras Novel Baswedan Masih Jadi Perhatian

14 Apr 2017 16:38 WIB · Politik

Oleh Tim Harian Kompas

 Tampilan sejumlah koran nasional pada hari Kamis (13/4) terkait serangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Hari Kamis, 13 April 2017, sejumlah media massa masih menempatkan berita soal Novel Baswedan sebagai berita utama. Penyidik senior KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada hari Selasa, 11 April 2017. Paling tidak enam media massa menurunkan berita lanjutan kasus Novel Baswedan yang kini dirawat di rumah sakit Singapura sebagai berita utama.

Harian Kompas menulis dengan judul besar ”Tim Independen Diusulkan – Pelaku dan Otak Teror terhadap KPK Tak Pernah Terungkap”.  Usulan itu datang dari mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas. Di halaman Opini, ahli hukum tata negara Denny Indrayana menulis esai berjudul ”Air Keras Novel Baswedan”. Kesimpulan yang diajukan Denny Indrayana adalah bagaimana KPK harus kian dikuatkan.

Dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia, KPK termasuk lembaga yang paling lama bertahan. Sebelumnya ada Tim Pemberantasan Korupsi yang hanya berusia tiga tahun (1967-1970), Komisi Empat yang hanya berumur empat bulan (1970), dan Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berumur kurang dari satu tahun (2000-2001). KPK kini telah berusia 15 tahun. Namun, dalam esainya di Kompas, Denny secara retorik mempertanyakan, bersediakah kekuatan politik di lembaga kepresidenan dan parlemen untuk menghadirkan KPK yang semakin kuat dan garang membasmi koruptor. Bagi Denny, tugas untuk menguatkan KPK membutuhkan dukungan rakyat.

 Aktivis yang tergabung dalam Aliansi Lawan Korupsi Jateng mengadakan aksi solidaritas bagi petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (13/4). Mereka meminta pemerintah segera mengungkap teror yang menimpa Novel Baswedan dan menghentikan segala upaya pelemahan KPK.

Harian Republika menulis berita dengan judul ”Novel Berjanji Langsung Bertugas”. Koran Tempo mengangkat tema yang lebih luas soal kondisi penyidik KPK. Tempo menulis ”Sejumlah Penyidik KPK Diteror”. Adapun Koran Sindo menulis ”Aktor Intelektual Dalangi Kasus Novel”. Indopos menulis ”Polisi Masih Kumpulkan Barang Bukti”, sedangkan Warta Kota menulis ”Brimob-TNI Kawal Penyidik KPK”.

Media Indonesia (MI) menjadi satu-satunya media yang mengangkat tema berbeda. MI menulis berita soal Pilkada Jakarta dengan judul ”Basuki-Djarot Kian Meyakinkan”. Harian Rakyat Merdeka menulis ”Banten Dirusak Berandal Politik”.

Harian Kompas selain mengangkat soal Novel juga melaporkan pelacakan wartawan Kompas terhadap Siti Aisyah di Kuala Lumpur. Siti dituduh terlibat dalam pembunuhan Kim Jong Nam. Sidang Siti berlangsung hari Kamis di Mahkamah Sepang, Malaysia.

Beberapa harian ekonomi mengangkat isu berbeda-beda. Kontan menulis tentang ”Pajak Penghambat Usaha Siap Dipangkas”. Bisnis Indonesia menulis tentang sikap perbankan yang masih harus pikir-pikir untuk pembiayaan kereta ringan. Adapun Investor Daily menulis ”Laba Investor 33 Berpotensi Naik 30%, Saham Tumbuh 9%”.

Hari Jumat, bertepatan dengan Hari Wafatnya Isa Almasih, sejumlah media massa tidak terbit.

(*/BDM)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tim Harian Kompas
 | 

Editor: