Keluarga korban KMP Virgo Transport 8 bertahan di Pelabuhan Trisakti, menanti kepastian nasib 129 orang yang belum ditemukan di Laut Jawa.
18 Sep 2026 08:13 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/DEFRI WERDIONO
Pencarian terhadap ratusan penumpang dan kru Kapal Motor Penumpang Virgo Transport 8 yang masih hilang terus dilakukan Basarnas dan unsur terkait. Selama itu pula, keluarga dan kerabat menanti kabar tentang nasib para korban. Sebagian memilih bertahan di posko pencarian di pelabuhan.
”Air mata saya sudah kering. Anak semata wayang saya sampai hari ini belum ada kabar. Saya akan tunggu di sini sampai mereka ditemukan,” tutur Sunari (50) lirih, mengungkapkan isi hatinya di ruang tunggu Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (17/9/2026) malam.
Sudah lima hari Sunari bertahan di tempat itu. Waktunya dihabiskan dengan duduk di kursi calon penumpang atau lesehan di lantai. Bersama beberapa kerabat dari Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah, Sunari berharap sang anak, Lita Lestari, dan suaminya, Alif Nur Cahyo, segera ditemukan.
Keduanya merupakan bagian dari 129 penumpang dan kru KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa, pada Minggu (13/9/2026), dan hingga kini belum diketahui keberadaannya. Hingga memasuki hari kelima pencarian, baru 114 penumpang dan kru berhasil dievakuasi. Dari jumlah itu, 108 orang selamat dan enam meninggal dunia. Total orang yang berada di atas kapal tercatat 243 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/596638a7946a6b1eb176742c11f96731-20260918wer5.jpg)
Sunari menduga, anak dan menantunya masih berada di dalam badan kapal yang terbalik. Beberapa menit sebelumnya, bersama sejumlah keluarga korban lain, Sunari sempat melontarkan ”protes” kecil kepada tim pencari yang mereka nilai lamban karena belum langsung menyelam ke bangkai kapal yang kini berada di kedalaman sekitar 29 meter.
”Proses pencarian sepertinya kurang maksimal. Masalahnya, saya ngomong kurang maksimal, kan, gini, itu korban kebanyakan, kan, di dalam kapal, bukan di luar. Nah, ngapain dicari-cari di sekitar permukaan dari atas? Harusnya masuk to the point-nya di kapal situ,” katanya.
Sunari berharap anaknya segera ditemukan dalam kondisi apa pun. Salah satu cara yang menurut dia dapat dilakukan adalah mengangkat badan kapal. Sebab, semakin lama pencarian berlangsung, peluang korban untuk bertahan hidup semakin kecil.
”Jika mereka ditemukan dalam kondisi seperti ini, meninggal, saya terima. Memang anak saya. Kalau sudah kondisi kayak gitu, kita mau apa?” tutur Sunari yang berasal dari Blitar, Jawa Timur, tetapi empat tahun terakhir bermukim di Muara Teweh.
Sunari mengetahui peristiwa itu dari media sosial pada Minggu siang. Saat kejadian, Lita dan Alif tengah dalam perjalanan pulang setelah bersilaturahmi dengan keluarga sang ibu di Trenggalek, Jawa Timur. Mereka sebelumnya juga berangkat ke Trenggalek menggunakan kapal yang sama, KMP Virgo Transport 8.
Sunari bukan satu-satunya keluarga yang masih bertahan di Pelabuhan Trisakti untuk menanti kepastian nasib anggota keluarga mereka. Muhammad Muhyar (44), warga Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, juga berusaha sabar menunggu kabar tentang delapan kerabatnya yang berada di kapal nahas tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/26c7016b81f0c4a59bd7af30c77f9655-20260918WER2.jpg)
Kedelapan kerabat itu terdiri atas tiga saudara dari pihak istrinya, dua keponakan, seorang sepupu, dan mertua. Muhyar tidak mengingat seluruh nama secara rinci, tetapi empat di antaranya adalah M Abdianoor dan istrinya, Yuli, serta kerabat bernama Aisyah dan Diana.
Saat peristiwa terjadi, mereka tengah dalam perjalanan pulang setelah berziarah ke makam Wali Songo di Jawa Timur. Mereka berangkat menggunakan pesawat, tetapi memilih pulang dengan kapal. Muhyar mengetahui mereka naik kapal setelah melihat status Abdianoor di media sosial sekitar dua jam setelah kapal bertolak dari Tanjung Perak, Sabtu (12/9/2026).
Sehari kemudian, Minggu (13/9/2026), Muhyar melihat di media sosial adanya pemasangan tenda di pelabuhan disertai informasi bahwa KMP Virgo Transport 8 terbalik. Ia langsung memberi tahu saudara dan kerabat lain. Muhyar juga mencoba menghubungi satu per satu kerabatnya yang berada di atas kapal, tetapi tidak mendapat respons.
Saat itu juga, Muhyar berangkat ke Pelabuhan Trisakti bersama sejumlah kerabat dan bertahan hingga kini. Mereka bertekad menunggu hingga kedelapan kerabat yang hilang ditemukan.
”Harapan saya mereka secepatnya dievakuasi, korban yang tertinggal di dalam ruangan kapal. Yang pasti, kan, keluarga saya ngambil kamar, bukan kelas ekonomi di luar. Jadi, saya yakin mereka ada di dalam. Karena satu pun dari delapan orang itu belum ada yang ditemukan sampai hari ini. Berarti, kan, mereka di dalam,” ucapnya.
Muhyar menilai pencarian terlalu terpaku pada prosedur operasional. Menurut dia, semestinya dilakukan pembagian tugas yang lebih sederhana antara tim yang mencari di permukaan dan tim yang mencari di bawah permukaan, terutama di dalam kapal.
Ia mencatat, operasi penyelamatan dan evakuasi terhadap 114 orang telah selesai sejak Senin (14/9/2026). Namun, dalam tiga hari terakhir, pencarian belum membuahkan hasil tambahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/19957e7a74724db7abf6f1145605d462-20260918WER3.jpg)
Warga Banjarmasin lainnya yang juga masih bertahan di Pelabuhan Trisakti adalah Surya (47). Ia mewakili keluarga korban di Jawa yang terlalu jauh untuk datang ke Banjarmasin. Korban yang belum ditemukan bernama Ahda Nurohman (19).
”Di sini tidak ada yang mewakili. Mengingat sudah lima hari, seperti apa, walaupun kita sudah laporkan ke pihak terkait. Harapan keluarga saat ini adalah cepat ditemukan korban agar keluarga tenang,” katanya.
Sementara itu, Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo Nur Sasongko mengatakan, pada pencarian hari kelima, penyelam dari Kopaska yang berada di KRI Dewa Ruci telah turun ke air untuk mendukung upaya pencarian korban.
Kondisi perairan relatif lebih bersahabat dibandingkan sebelumnya. Arus laut yang semula mencapai 6,8 knot telah turun menjadi di bawah 2 knot. Badan kapal juga masih terlihat jelas meski telah bergeser sekitar 453 meter dari posisi awal. Kedalamannya pun berubah dari sekitar 21 meter menjadi 29 meter.
”Tim bisa melihat badan kapal dari buritan sampai haluan,” ujarnya.
Menurut Yudhi, pada Kamis malam telah dilakukan pembahasan bersama pemilik kapal mengenai peralatan yang akan digunakan untuk mengangkat badan kapal. Peralatan tersebut telah digeser dari Surabaya menuju lokasi. Harapannya, proses pengangkatan dan pembalikan kapal dapat segera dilakukan.
Yudhi mengatakan, pihaknya memahami kondisi dan harapan keluarga korban yang telah menunggu hingga hari kelima. Semua pihak berharap pencarian dan pertolongan dapat berlangsung secepat mungkin.
Sebelumnya, Basarnas menjelaskan, kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam pencarian bawah air dan keselamatan tim pencari tidak boleh diabaikan. Tim penyelam sebenarnya telah diturunkan dari kapal dan bergerak menuju lokasi yang direncanakan untuk pencarian korban.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/16/23818027512066e6dfa47afdc8be5fc2-20260916wer4.jpg)
Namun, kecepatan arus di lokasi mencapai 6-7 knot. Sementara itu, berdasarkan ketentuan penyelaman, operasi direkomendasikan dilakukan ketika kecepatan arus berada di bawah 1,5 knot.
Harapan keluarga kini bertumpu pada upaya pencarian dalam beberapa hari ke depan. Doa-doa terus dilantunkan agar keluarga dan kerabat yang dinantikan segera ditemukan, apa pun kondisinya.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase