Memasuki pekan ke-12, Arsenal menjadi tim dengan posisi terbaik untuk menjuarai liga. Akankah terwujud?
15 Nov 2025 06:00 WIB · Olahraga
AFP
Tiga tahun terakhir, paruh musim pertama seakan menjadi panggung utama Arsenal. Sayangnya, menjelang akhir musim, ”The Gunners” selalu berhasil ditikung. Hingga julukan ”gajah di atas pohon” tersemat bagi klub London Utara ini.
Cibiran itu mengandung sindiran, tidak ada yang tahu bagaimana sang gajah mencapai atas pohon. Namun, yang pasti, bisa diduga adalah si gajah pasti akan terjatuh juga. Musim ini, tak seperti musim-musim sebelumnya, performa The Gunners lebih menjanjikan.
Angin makin segar berembus ke London Utara setelah dua pesaing bebuyutan beberapa musim terakhir terseok. Liverpool tampil angin-anginan, sementara para pemain Manchester City tampak sedang turun performanya.
Kompetisi liga tidak seperti kompetisi model knockout atau cup. Di liga, pertandingan harus dilakoni tiap pekan selama setahun penuh. Konsistensi, determinasi, dan pengembangan kreativitas permainan menentukan setiap poin yang ingin direbut tiap minggu.
Artinya, momentum krusial melawan tim pesaing klasemen terdekat ataupun pertandingan mingguan lain dengan lawan klasemen di bawah pun sama pentingnya. Konsistensi itulah yang saat ini berada di tangan Arsenal.
Dari 11 pertandingan yang telah dilakoni, klub asuhan Mikel Arteta ini hanya sekali kalah. Delapan pertandingan dimenangi, dua sisanya berhasil imbang. Itu artinya, Arsenal baru kehilangan lima poin sejauh ini.
Dengan kata lain, probabilitas kemenangan Arsenal mencapai 73 persen. Jika dihitung berdasarkan poin maksimal, keberhasilan The Gunners meraih poin sempurna menyentuh 78 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/22/bba6ea6b-13bc-405d-8ad2-13d0ce5ee2da_jpg.jpg)
Lebih lagi, dalam lima pertandingan terakhir Arsenal tidak pernah kalah. Empat pertandingan dimenangi, satu pertandingan berakhir seri. Tak hanya itu, Arsenal menjadi tim dengan pertahanan paling solid dengan kebobolan hanya lima kali. Itu artinya Arsenal hanya kebobolan 0,45 gol per pertandingan.
Di saat bersamaan, Manchester City yang saat ini berada di klasemen kedua menunjukkan performa sedikit di bawah. Tiga kali Manchester City telah menelan kekalahan musim ini. Satu kali pertandingan berakhir imbang dan tujuh pertandingan dimenangi.
Dengan perhitungan sama, probabilitas kemenangan Manchester City berada di angka 64 persen. Sementara probabilitas meraup poin sempurna berada di angka 66 persen. Meskipun catatan positifnya, Manchester City lebih produktif tiga gol dibandingankan Arsenal.
Kondisi Liverpool lebih miris. Dari 11 pertandingan, sang juara bertahan telah menelan kekalahan lima kali. Kemenangan diraih dalam enam pertandingan lain. Dengan begitu, probabilitas kemenangan Liverpool sejauh ini berada di angka 54 persen saja.
Pekan ke-12 baru akan dilakoni, mungkin terlalu dini berbicara peluang juara. Namun, setidaknya apa yang terjadi di 11 pertandingan awal bisa menjadi cerminan bagaimana klasemen akhir tergambar.
Tak mengherankan superkomputer Opta Analyst memfavoritkan Arsenal merebut gelar juara musim ini. Peluang juara Arsenal sementara ini menurut Opta mencapai 63,63 persen. Berselisih cukup signifikan dengan Manchester City yang mendapat peluang 22,51 persen saja.
Sementara Liverpool dengan performanya yang terus menurun, peluang juaranya hanya 7,43 persen. Pesaing lain yang diperhitungkan adalah Chelsea dengan peluang 2,94 persen dan Aston Villa 1,24 persen.
Mengapa Arsenal begitu terasa dominan sejauh ini? Jawaban ini berkaitan dengan peta besar Liga Inggris dalam beberapa musim terakhir. Premier League kini ditentukan oleh dua hal, yakni kedalaman skuad dan stabilitas taktik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/e78c2f3c3e507d7cccebda96cd540508-20251114_ARS_Juara_Liga_Inggris_mumed.png)
Faktor kedua tampak sudah dibangun dengan rapi oleh Mikel Arteta beberapa musim terakhir. Problem kejatuhan Arsenal di musim sebelumnya adalah soal kedalaman skuad. Faktor ini yang terlihat membaik musim ini.
Memasuki pertengahan musim nanti sejumlah pemain kunci, seperti Kai Haverts, Martin Odegaard, dan Gabriel Jesus, diharapkan sudah kembali bermain. Hal ini membuat stabilitas taktik makin terjaga sebab pilihan pemain yang kaya.
Tepat di saat kedalaman skuad Arsenal siap, situasi berbeda dialami Manchester City dan Liverpool. City masih terus bergulat dengan komposisi terbaiknya di lini tengah. Predator mereka, Erling Haaland, sangat bergantung pada suplai bola dari lini tengah.
Bongkar pasang di lini tengah masih dalam proses pencarian komposisi terbaik. Hal yang sama terjadi di Liverpool. Tidak hanya di lini tengah, lini depan Liverpool pun bermasalah musim ini. Komposisi terbaik belum ditemukan.
Ditambah lagi, lini belakang ”The Reds” sangat rapuh. Mereka kebobolan 17 gol dari 11 pertandingan. Salah satu catatan terburuk pertahanan Liverpool setidaknya dalam lima musim terakhir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/23/74a9c3f0-4a57-410e-94e5-d0248ff23e22_jpg.jpg)
Jika 63 persen peluang sudah di tangan, sekitar 40 persen sisanya ditentukan dalam momentum paruh musim. Arsenal tinggal berfokus untuk terus konsisten menjaga performa. Ketika kedalaman skuad dan taktik sudah solid, satu yang tersisa adalah mental.
Di sinilah The Gunners perlu membuktikan diri. Pesaing terdekatnya saat ini, Manchester City, tampak lebih katam soal mental juara. Sebagai langganan juara dalam era baru ini, Manchester City seakan lebih memahami cara menjaga tekanan hingga akhir.
Jika ternyata mental juara itu belum terbentuk, Manchester City yang siap menikung Arsenal di paruh kedua dan kembali menyematkan sindiran ”gajah di atas pohon” bagi klub London Utara ini. Namun, jika Arsenal tidak juara musim ini, kapan lagi? (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Vincentius GitiyarkoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul