CATATAN URBAN

Akhir Pekan Ini, Yuk Lari dari Kenyataan Dulu

”Lari” di sini adalah keberanian untuk berhenti memenuhi tuntutan yang menyita atensi, menguras energi dan emosi.  Jeda yang penting untuk keberlanjutan berkualitas.

31 Jul 2026 13:00 WIB · Kolom

Kompas/Heryunanto

Oleh Neli Triana

Apa kabar harimu saat ini? Lelah, terengah-engah, ada yang menggumpal di dada, marah dan sebal jadi satu, kepala terasa penuh nyaris tak tertahankan?

Tekanan yang sama, terlihat atau tidak, juga tengah menimpa banyak kaum urban di kota-kota yang sibuk dan selalu hiruk pikuk. Stres bareng-bareng ini jelas bukan hal yang baik, terlebih jika dibiarkan tak teratasi. Jenny Odell kemudian menawarkan solusi, lari saja dulu dari kenyataan. Lupakan dan temukan dirimu yang berbeda. Mengejutkan. Ah, tapi, memang bisa?

Sebelum menyelami solusi Odell, baik pula bila melihat kembali situasi sehari-hari yang kita alami. Hari-hari dipenuhi daftar tugas tak kunjung surut. Pekerjaan utama menuntut presisi, proyek tambahan menyita energi, deadline harian bertambah, bertumpuk, semua wajib diselesaikan tepat waktu.

Makin menjengkelkan ketika tekanan di kantor itu tak henti dibumbui dinamika yang lebih menguras emosi. Ada atasan yang menekan tanpa memberikan ruang bertumbuh, ada politik kantor tak masuk akal yang menggerus stok kesabaran, ada pula kerja tim yang tak selalu berjalan seirama. Dengan situasi itu dan pekerja yang dituntut menguasai banyak keahlian sembari mengerjakan berbagai hal dalam waktu bersamaan, tempat kerja bisa menjadi neraka. Energi kita tandas untuk bekerja dan menavigasi relasi, tarik ulur dengan mental sendiri, agar tidak salah langkah yang berakhir fatal.

Meninggalkan sejenak dunia pekerjaan, ada ruang berbeda bernama rumah. Rumah seharusnya memasok rasa nyaman dan hangat, tetapi kenyataannya tak selalu demikian. Apa pun itu, yang jelas ada peran lain yang harus dijalankan di rumah beserta sederet daftar tanggung jawab.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi

Di era digital dan akal imitasi sekarang, bertambah lagi satu dunia. Jika sebelumnya ruang digital ini dapat menjadi tempat ekspresi untuk diri sendiri, kini urusan kantor, rumah, dan lainnya menuntut dipanggungkan di sana. Tanpa disadari, kita tidak hanya bekerja di kantor dan di rumah, tetapi bekerja pula untuk citra di layar agar semua seolah terkendali, sempurna.

Di tengah semua itu, tanpa selalu meledak menjadi krisis besar, lelah menumpuk perlahan. Jenuh tumbuh, emosi mudah tersulut, hampa yang sulit dijelaskan kerap menerpa. Kita tetap berfungsi, tugas diselesaikan, aktif di rapat. Akan tetapi, ada bagian dari diri yang pelan-pelan menipis. Dan, karena kita terbiasa membiarkan diri dituntut memastikan semuanya terus berjalan, alarm jenuh dan hampa itu sering diabaikan.

Apalagi budaya urban modern yang dibentuk oleh ekonomi kapitalis memang mengagungkan produktivitas. Waktu dihitung, target ditetapkan, capaian diukur. Saat daftar tugas tercentang satu per satu, baru boleh puas dan tersenyum lebar. Diciptakan pula kesuksesan itu sebagai semangat dan tantangan baru untuk menaklukkan tugas berikutnya.

Dalam logika waktu adalah uang, mengambil jeda mudah dipersepsikan sebagai kelengahan, menjegal produktivitas sendiri dan orang lain. Akibatnya, berhenti sejenak terasa berisiko. Cemas bakal tertinggal, khawatir meleset dari target meng-upgrade diri, takut mengecewakan ekspektasi, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri.

Ekonomi atensi

Padahal, jika kita mau benar-benar berhenti sejenak dan berpikir, tidak semua ternyata mendesak, penting, dan perlu disegerakan. Gagasan dari buku How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy pun menjadi relevan. Buku karya Odell ini mengajak pembacanya melihat bagaimana perhatian kita terus-menerus diperebutkan oleh pekerjaan, notifikasi, arus informasi yang tak pernah berhenti. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk tidak selalu merespons menjadi bentuk ketahanan.

Selama ini, kita sering mengira sedang beristirahat ketika sebenarnya hanya berpindah dari satu bentuk stimulasi ke bentuk lain. Misalnya, dari pekerjaan ke media sosial, dari laptop ke layar ponsel. Tubuh terlihat diam, tetapi pikiran tetap sibuk ke sana ke mari mencoba memenuhi dorongan tak terjelaskan untuk menangkap dan memproses sesuatu.

Dalam wawancaranya dengan The Guardian, ia menegaskan lagi soal rasa merdeka ketika bisa bertemu dengan temannya, berbincang tentang suatu hal, nongkrong, dan tidak membagi apa pun tentang keseruan hari itu di media sosial. ”Saya rasa sekumpulan orang asing di luar sana tidak berbagi rasa memiliki atas momen itu dan saya tidak perlu menambah metrik kesuksesan saya dengan itu,” kata seniman, penulis, dan profesor di Stanford tersebut.

Odell menekankan pentingnya memulihkan otonomi atas perhatian. Dalam dunia yang dirancang agar terus terlibat dengan mengklik, menggulir, merespons, maka memilih mengakhiri keterlibatan—walau dalam kurun waktu tertentu saja—adalah melarikan diri dari kenyataan yang diyakininya sebagai tindakan tepat. Ini adalah penegasan bahwa tidak semua hal berhak atas waktu dan energi kita. Tidak selalu terhubung, tidak selalu terisi, justru penting untuk memperkuat rantai keberlanjutan kita.

Pemikiran Odell bukan gagasan asing. Sudah ada banyak konsep dan budaya yang selaras dengannya, seperti ketika bicara tentang niksen, gaya hidup warga Belanda yang membiarkan diri tidak melakukan apa-apa tanpa rasa bersalah. Namun, jika niksen menekankan pengalaman personal untuk berdiam, pendekatan Odell memberi lapisan tambahan, yaitu kesadaran bahwa kemampuan untuk berhenti turut memiliki dimensi sosial dan politis. Bahwa perhatian kita adalah sumber daya yang diperebutkan, dan mengelolanya adalah bentuk kedaulatan diri.

Dengan sudut pandang ini, jeda adalah respons terhadap sistem yang terus mendorong kita untuk aktif tanpa henti. Sebagai manusia harus memahami bahwa kita bukan mesin produksi yang bisa dioptimalkan tanpa batas. Manusia bukan robot. Ada batas yang perlu dikenali, ada ritme yang perlu dijaga.

Tentu, ini bukan perkara mudah. Selama ini sistem ekonomi yang mengukur apa pun dari produktivitas dan pertumbuhan telanjur menciptakan realitas dan platform yang dirancang memenuhi hal tersebut. Akibatnya, profesional terus dituntut mengekspresikan diri, selalu punya pendapat tentang segala hal, hadir di banyak kesempatan daring maupun luring. Eksis, eksis, dan eksis.

Untuk itu, selain kendali diri atas siapa yang berhak atas atensinya dan atensi terhadapnya, upaya mengurangi tekanan untuk tidak selalu produktif harus ada di platformnya, di dunia kerja, juga di rumah dan ruang sosial. Namun, sesuatu yang di luar kendali diri tentu tidak mudah, bahkan mungkin tidak akan berubah begitu saja. Hal ini pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada individu, makin tercekam ketidakberdayaan.

Gagasan lari dari kenyataan ala Odell sejatinya kemudian adalah ajakan menumbuhkan keberanian individu untuk mengurangi tekanan itu. Membiarkan pundak ringan, kepala terasa ringan dan terang, yang bisa menuntun kembali kepada diri yang lebih utuh, perhatian yang lebih jernih, hidup yang tidak semata diukur dari seberapa banyak yang bisa kita selesaikan. Berhenti sejenak bukanlah bentuk kemunduran, tetapi menegaskan bahwa menjaga diri tetap waras dan utuh sama pentingnya dengan memenuhi target.

Tanpa itu, produktivitas yang dikejar berisiko menggerus kualitas hidup hingga target kerja yang ingin dicapai. Jika ini terjadi, bukan hanya individu bersangkutan yang menanggung dampak buruknya, dunia kerja dan lingkungan sosial pun sulit akan terus baik-baik saja.

Jadi, akhir pekan ini, siap lari dari kenyataan? Siap, sangat siap.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase