PSIM Yogyakarta merengkuh titel juara Liga 2 2024-2025. Itu adalah trofi kampiun kedua ”Laskar Mataram” di abad ke-21.
26 Feb 2025 20:11 WIB · Olahraga
SURAKARTA, KOMPAS — Stadion Manahan di Surakarta, Jawa Tengah, menjadi saksi berakhirnya penantian 20 tahun PSIM Yogyakarta meraih trofi. Gelar Pegadaian Liga 2 2024-2025 adalah penutup paripurna bagi ”Laskar Mataram” setelah menutup penantian selama 17 tahun bertarung di kasta kompetisi tertinggi Indonesia.
PSIM telah menyabet salah satu dari tiga jatah promosi ke Liga 1 2025-2026 dari Liga 2 musim ini. Hal itu dipastikan setelah melaju ke babak final babak delapan besar Liga 2.
Kepastian kembali ke kompetisi tertinggi Tanah Air untuk kali pertama sejak musim 2007-2008 disempurnakan dengan gelar Liga 2. Trofi Liga 2 2024-2025 diraih PSIM setelah menaklukan Bhayangkara FC 2-1 di Manahan, Rabu (26/2/2025) petang.
Gol dari duo penyerang Rafael ”Rafinha” Rodrigues (menit ke-9) dan Roken Tampubolon (menit ke-96) membantu Laskar Maram memberikan kebahagiaan kepada 15.586 pendukung yang datang dari kawasan Yogyakarta dan sekitarnya ke Surakarta. Adapun gol Bhayangkara yang sempat menyamakan skor diciptakan oleh gelandang serang, Felipe Ryan (menit ke-72).
Pelatih Interim PSIM Erwan Hendarwanto bersyukur bisa memberikan prestasi terbaik untuk PSIM. Erwan mengisi posisi pelatih kepala PSIM setelah tim mengistirahatkan Pelatih Seto Nurdiantoro pada paruh kedua babak reguler Liga 2 musim ini.
"Kami bisa memenuhi target lolos promosi Liga 1, lalu bisa menjadi juara. Ini sudah suratan takdir bagi PSIM. Kebetulan saja saya yang berada di posisi (pelatih) ini," ujar Erwan dalam konferensi pers seusai pertandingan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/5f279ca9-049a-44f3-9803-ad0f70abcc5e_jpg.jpg)
Menutup jalan promosi dengan gelar juara kompetisi tingkat kedua Indonesia—dulu bernama Divisi Satu—juga dilakukan Laskar Mataram pada edisi 2005.
Kala itu, PSIM menaklukkan Persiwa Wamena 2-1, 4 September 2005, di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Jawa Barat. Itu adalah trofi kampiun perdana yang diraih PSIM di abad ke-21.
Dalam sejarah PSIM yang berdiri pada 1929, mereka pernah meraih satu gelar juara turnamen PSSI pada edisi kedua atau tahun 1932. Di sisi lain, Kompas juga menemukan data sejarah melalui arsip koran pada dekade awal 1940-an bahwa PSIM adalah peraih gelar juara turnamen PSSI tahun 1943.
Itu adalah turnamen sepak bola PSSI terakhir sebelum Indonesia merdeka. Pada turnamen 1943, data PSSI menyebut tim juara adalah Persis Solo.
Perjalanan PSIM menuju trofi juara diwarnai dengan 14 kemenangan, lima seri, dan empat kalah. Pada babak delapan besar, mereka menang enam kali dari tujuh gim.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/b5b453a3-b7c2-4981-a017-0c53eee03e09_jpg.jpg)
Pendukung PSIM yang tergabung dalam Brajamusti dan The Maident juga langsung melakukan pawai dari Manahan hingga Yogyakarta. Mayoritas pendukung Laskar Mataram membawa kendaraan roda dua secara berkelompok.
"Kami bersyukur bisa memberikan kebahagiaan untuk suporter. Gelar ini patut dirayakan oleh seluruh pihak yang terkait dengan PSIM," ucap Erwan.
PSIM menunjukkan kesiapan taktik dan mental lebih baik dari Bhayangkara. Sempat jalani duel sengit di lapangan tengah pada lima menit awal setelah sepak mula, Laskar Mataram menjadi tim yang mampu menciptakan peluang pertama.
Pada menit ketujuh, penyerang sayap PSIM, Sugiyanto Rohman, menjadi pemain pertama yang melepaskan tembakan pada partai puncak Liga 2 musim ini. Sepakannya bisa diblok bek Bhayangkara, tetapi peluang itu mengawali hadirnya tembakan bebas yang dieksekusi dengan sempurna oleh penyerang, Rafinha, 2 menit berselang.
Rafinha mencetak gol ke-20 di Liga 2 2024-2025 untuk menggemuruhkan tribune Manahan yang dipadati suporter PSIM. Penyerang berusia 32 tahun asal Brasil itu mengukuhkan diri sebagai pemain asing PSIM pertama yang mencetak gol di laga final kompetisi kasta kedua Indonesia.
Pada dua kesempatan terdahulu, PSIM menembus final kompetisi kasta kedua, yakni Divisi satu Liga Indonesia edisi 1996-1997 dan 2005, pemain-pemain lokal mencatatkan nama di papan skor. Bambang Sumantri mencetak satu-satunya gol ketika Laskar Mataram tumbang 1-3 dari Persikota Tangerang di final Divisi Satu 1997, kemudian Asahari dan Erwin membantu PSIM merengkuh trofi pertama di abad ke-21 untuk mengalahkan Persiwa Wamena pada edisi final 2005.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/fef045dd-e1f5-47f7-8bad-514dd692cd8a_jpg.jpg)
Setelah unggul, PSIM bermain lebih bertahan dengan formasi defensif 4-1-4-1. Kedisiplinan pemain belakang PSIM menyulitkan The Guardians memberi ancaman berarti.
Meskipun mendominasi penguasaan bola dengan 55 persen, Bhayangkara hanya hasilkan empat tembakan dan hanya dua tepat sasaran melalui sepakan dari luar kotak penalti.
Adapun PSIM bisa menciptakan tujuh tembakan. Selain mencetak gol, penetrasi Rafinha di menit ke-23 kembali mengancam gawang Bhayangkara yang dikawal Awan Setho. Penyelamatan akrobatik Setho dengan kaki mengagalkan peluang kedua Rafinha di babak pertama.
Hujan membuat wasit menundanya jalannya babak kedua ketika baru berjalan 18 detik. Permukaan lapangan yang tergenang air menyebabkan bola tidak bisa mengalir.
Setelah dihentikan nyaris 1,5 jam pertandingan dilanjutkan dengan Bhayangkara menguasai pertandingan. Kerja keras The Guardians membuahkan hasil melalui sundulan Felipe memanfaatkan asis dari bek sayap kiri senior dan kapten tim, Ruben Sanadi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/b863abf1-e819-4811-95b1-3dab0f42343b_jpg.jpg)
Drama final berlanjut di babak perpanjangan waktu. Roken mampu mencetak gol pada babak pertama perpanjangan waktu setelah melakukan penetrasi membelah sisi kanan pertahanan Bhayangkara.
Gol kedua PSIM sempat menyebabkan ofisial Bhayangakra melakukan protes kepada wasit keempat dan panitia pelaksana (panpel) pertandingan karena telat memproses pergantian pemain. Pada situasi gol PSIM, Bhayangkara bermain dengan 10 orang karena salah satu pemain keluar lapangan akibat cedera.
Usaha Bhayangkara untuk menyamakan kedudukan sempat dihasilkan oleh pemain penggati, Mufdi Hidayat, di menit ke-115. Mufdi menyudul bola di muka gawang PSIM, tetapi kiper PSIM, Harlan Suardi, melakukan penyelamatan krusial untuk mengamankan trofi juara Laskar Mataram.
Pelatih Bhayangkara Hanim Sugiarto menyayangkan adanya insiden keterlambatan pergantian pemain untuk timnya ketika PSIM mencetak gol kedua. Meski begitu, ia meminta maaf jika ada respons dari ofisial tim Bhayangkara yang berlebihan.
"Laga ini adalah hiburan yang layak dinikmati oleh warga Indonesia. Kami sudah mengerahkan segalanya, tetapi PSIM mampu bermain lebih baik dan memenangkan laga," kata Hanim.
Selain PSIM dan Bhayangkara, Persija Jepara akan berlaga di Liga 1 2025-2026. Persijap memenangkan duel perebutan peringkat ketiga kontra PSPS Riau, Selasa (25/2/2025).
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar Alexey